Penyakit Kaki Gajah Dapat Sebabkan Cacat Permanen

Reading time: 2 menit
penyakit kaki gajah
Ilustrasi: Ist.

(Greeners) – Sejak tahun 2015, pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan bulan Oktober sebagai Bulan Eliminasi Kaki Gajah (BELKAGA). Melalui BELKAGA, pemerintah Indonesia ingin mewujudkan Indonesia bebas dari penyakit kaki gajah pada tahun 2020. Apa sih penyakit kaki gajah itu?

Dilansir dari situs resmi Kementrian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, penyakit kaki gajah atau filariasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria (microfilaria) dan dapat ditularkan pada manusia melalui perantara nyamuk. Terdapat tiga spesies cacing filaria yang dapat menyebabkan penyakit kaki gajah, yaitu Wucheria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Semua spesies cacing tersebut dapat ditemukan di Indonesia, namun mayoritas kasus penyakit kaki gajah yang ditemukan di Indonesia disebabkan oleh Brugia malayi.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr. H.M. Subuh, MPPM, membenarkan hal tersebut. Dirinya menyatakan bahwa cacing filaria dapat disebarluaskan oleh semua jenis nyamuk.

“Semua jenis nyamuk bisa menularkan penyakit kaki gajah. Tapi nyamuk jenis Anopheles yang paling sering ditemukan. Nyamuk Anopheles selain dapat menularkan penyakit malaria juga dapat menularkan penyakit ini (penyakit kaki gajah). Nyamuk Aedes juga bisa menjadi perantara,” tuturnya ketika dihubungi oleh Greeners melalui pesan singkat beberapa waktu lalu.

Lantas, seperti apa gejala yang ditimbulkan oleh penyakit kaki gajah? Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, penyakit ini memiliki gejala dan tanda klinis akut serta kronis. Pada penyakit kaki gajah akut, biasanya penderita akan mengalami demam berulang selama 3-5 hari dan adanya pembengkakan kelenjar getah bening di daerah lipatan paha atau ketiak. Pada area tubuh yang bengkak akan terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal ke ujung kaki atau lengan.

Sedangkan pada penyakit kaki gajah kronis, penderita akan mengalami pembesaran pada bagian tungkai, lengan, buah dada, atau buah zakar. Bila tidak ditangani lebih lanjut, penyakit ini dapat menyebabkan kecacatan permanen bagi para penderitanya. Sepanjang hidupnya, tanpa memandang jenis kelamin, penyandang penyakit kaki gajah akan mengalami pembengkakan pada area-area tubuh tersebut. Penyakit kaki gajah dapat menimbulkan dampak psikologis bagi si penderita karena mereka tidak mampu untuk bekerja secara optimal.

Segera temui dokter!

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kemenkes RI pada tahun 2015, ditemukan sebanyak 13.032 kasus penyakit kaki gajah di Indonesia. Guna menghindari peningkatan angka penderita penyakit kaki gajah di Indonesia, Subuh menyarankan siapapun yang merasakan gejala awal penyakit kaki gajah seperti demam dan bengkak pada kelenjar getah bening untuk segera pergi menemui dokter.

“Harus langsung pergi menemui dokter untuk diberikan obat. Bila ada program pemberian obat pencegahan kaki gajah secara massal, silahkan dimanfaatkan,” tuturnya.

Untuk mencegah terserang penyakit kaki gajah, mulailah menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan. Selain itu, usahakan untuk rutin mengonsumsi obat pencegah filariasis satu tahun sekali selama lima tahun berturut-turut. Obat pencegah kaki gajah dapat diperoleh di puskesmas dan terdiri dari kombinasi tablet Diethylcarbamazine (DEC) 100 mg serta tablet Albendazole 400 mg. Obat pencegah kaki gajah memiliki kemampuan untuk mematikan atau memandulkan cacing filaria dewasa. Cacing jenis lain juga dapat dimusnahkan dengan obat tersebut.

Sebagai informasi, bulan Oktober ini Kemenkes RI mengadakan kegiatan bernama Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis guna mengurangi angka penderita penyakit kaki gajah di Indonesia. Tahun ini sebanyak 150 kabupaten/kota di Indonesia secara bersamaan akan melaksanakan kegiatan POPM.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

Top