STARTIC, Kantong Semen pun Menjadi Tas Kulit

Reading time: 3 menit
startic
Foto: Startic via Facebook

(Greeners) – Industri fesyen di Indonesia nampaknya terus mengalami perkembangan. Kreativitas masyarakat Indonesia yang terus meningkat merupakan salah satu faktor dari berkembangnya industri fesyen di negara ini. Selain itu, saat ini desainer-desainer muda di Indonesia sudah mulai berani bereksplorasi dalam mencari bahan baku yang “tidak biasa” untuk digunakan dalam produk fesyen mereka. Saat ini, para desainer muda di Indonesia nampaknya sedang berlomba-lomba dalam menciptakan kreasi fesyen yang unik, inovatif, dan sebisa mungkin ramah lingkungan.

Vania Santoso, atau akrab disapa Vani, adalah salah satu nama desainer muda Indonesia asal Surabaya yang turut menciptakan produk fesyen dari bahan baku yang tidak biasa. Melalui brand yang ia dirikan, STARTIC, Vani menghadirkan koleksi tas berbahan dasar kantong semen bekas.

startic

Foto: Startic via Facebook

STARTIC merupakan merek fesyen lokal yang diciptakan oleh Vani bersama dengan kakaknya, Agnes Santoso. Pada awalnya, merek ini terlahir dari proyek sosial.

“STARTIC sendiri merupakan singkatan dari Stylish Art in Ecopreneurship. Awalnya, STARTIC lahir dari proyek sosial pada tahun 2005. Saat itu, saya dan kakak saya membuat klub peduli lingkungan hidup bernama AV Peduli yang berfokus pada pengolahan sampah. Dari situlah mulai kepikiran tentang menekuni bisnis sosial dari pengolahan sampah,” tutur Vani kepada Greeners pada Minggu (10/09).

Melalui STARTIC, Vani menciptakan produk-produk fesyen berupa tas, clutch, dompet, gantungan kunci, hingga sepatu. Bila dilihat secara sekilas, produk mereka nampak terbuat dari bahan kulit pada umumnya. Padahal, produk tersebut terbuat dari kantong semen bekas yang diolah sedemikian rupa hingga bertesktur menyerupai kulit.

“Alasan memilih kantong semen sebagai bahan baku karena kantong semen itu kuat, mampu mengangkut semen yang beratnya berkilo-kilo. Nantinya, kantong semen akan diberi bahan pelapis alami sehingga menjadi tahan air,”paparnya.

Vani juga menyatakan bahwa seluruh produk buatan mereka memiliki ciri khas pada coraknya dan berbeda satu dengan yang lainnya. “Ciri khas STARTIC utamanya terletak pada coraknya, di mana STARTIC menjamin one pattern, one product only. Karena proses pembuatannya dibuat secara manual, jadi sekalipun warnanya sama, corak yang dihasilkan pada tiap koleksi pasti tetap berbeda,” katanya.

startic

Foto: Startic via Facebook

Corak abstrak yang menjadi ciri khas produk ini didapatkan dari teknik pewarnaan celup. Kebanyakan, koleksi-koleksi tersebut dihiasi dengan warna-warna alam seperti coklat, hijau, merah, dan hitam.

Vani mengaku dirinya mengajak warga-warga lokal asal Surabaya, Sidoarjo, Yogyakarta, dan Gresik untuk turut berpartisipasi dalam proses produksi. “Dalam membuat produk STARTIC, kami mengajak masyarakat lokal, mulai dari ibu-ibu, anak muda, hingga bapak-bapak. Pokoknya tidak mengenal batas usia. Selain itu, kami juga bekerja sama dengan warga binaan, pedagang di warung, mitra bank sampah, kafe, dan perusahaan swasta untuk mengumpulkan bahan baku,” ujar perempuan yang pernah menempuh pendidikan di Universitas Airlangga ini.

Melalui STARTIC, Vani ingin menonjolkan nilai “exotic outside, ethical inside” kepada masyarakat luas, termasuk masyarakat internasional. Nilai tersebut ia tunjukkan dengan inovasi dari produk STARTIC yang dapat menghasilkan produk fesyen yang menyerupai kulit eksotik, namun prosesnya tetap ramah lingkungan. Vani juga ingin menginformasikan masyarakat bahwa hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan hidup ternyata dapat dikemas dalam karya seni yang stylish dan eye-catching.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

Top
You cannot copy content of this page