6 Tanaman untuk Memulai Urban Farming

Reading time: 4 menit
urban farming
Ilustrasi: Ist.

Lahan sempit, tidak ada waktu luang atau takut tidak ada yang merawat sering dijadikan alasan klise sebagian masyarakat kota untuk memulai bercocok tanam. Padahal, dengan menanam tanaman pangan sendiri, kita dapat menjamin apa yang akan kita konsumsi. Namun, bagaimana cara memulainya?

Bagi Annisa Paramita (34), urban farming atau berkebun di rumah, dapat dimulai dengan menanam tanaman yang sering dikonsumsi. “Pertimbangannya adalah apa yang dipakai untuk masak, ditanam. Karena suka bikin smoothies, jadi aku tanam kale. Dan karena suka masak spaghetti, aku tanam basil,” ujar salah satu pendiri Kekebun, sebuah rintisan greensociopreneurship ini.

Untuk memulai urban farming, berikut ini 6 tanaman yang disarankan Annisa yang bisa kamu praktikan.

urban farming

Foto: greeners.co/Ayu Ratna Mutia

1. Cabai

Cabai merupakan tanaman sayuran yang ditemukan dibanyak masakan khas Indonesia. Namun, harga cabai di Indonesia sering tidak menentu. Bahkan, pada tahun 2016, harga cabai rawit pernah mencapai Rp100.000 per kilo. Untuk mengantisipasi situasi ini, ada baiknya jika kita mulai menanam cabai sendiri di rumah.

Pada umumnya, cabai ditanam melalui biji. Bijinya dapat diperoleh dari cabai yang sudah membusuk. Jadi, jika kamu menemukan cabai yang sudah berubah warna menjadi cokelat atau teksturnya mulai lunak, janganlah dibuang karena dari buah cabai itu bisa tumbuh lebih banyak lagi cabai.

Untuk menyiapkan benih, jemur cabai yang mulai membusuk di bawah cahaya matahari. Setelah kering, buka kulit cabai, dan ambil bijinya. Biji inilah yang dapat digunakan sebagai benih untuk menanam cabai. Sebelum dibenamkan di dalam tanah, sebaiknya biji cabai dicuci terlebih dahulu. Setelah ditanam, letakkan pot di bawah tempat yang teduh, namun tetap terkena cahaya matahari. Umumnya cabai sudah bisa dipanen pada umur 2,5 -3 bulan sejak ditanam.

Top
You cannot copy content of this page