E-Paddy, Solusi Atas Krisis Listrik Pedesaan

Reading time: 2 menit
E-Paddy karya mahasiswa Fakultas Teknik Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Foto: greeners.co/HI

Malang (Greeners) – Pasokan listrik bagi masyarakat belum terpenuhi secara maksimal. Rasio elektrivikasi di Indonesia baru 84 persen, tertinggal jauh di banding negara tetangga yang rata-rata di atas 90 persen. Ini berarti masih banyak masyarakat di pedesaan dan daerah tertinggal belum menikmati aliran listrik.

Kondisi inilah yang ditangkap oleh lima mahasiswa Fakultas Teknik Pertanian Universitas Brawijaya. Kelima mahasiswa tersebut yakni Dheniz Fajar Akbar, Lisa Normalasari, Yogan Surya Tirta, Tiara Wiranti, dan Hamdan Musryid.

Mereka berlima mengembangkan penelitian mereka berupa inovasi E-Paddy. Sebuah mekanisme yang menggabungkan prinsip fisika dan biologi. E-Paddy ini dinilai dapat menjadi solusi atas krisis listrik di Indonesia.

Salah satu mahasiswa, Dheniz Fajar Akbar, mengatakan, tanaman padi dipilih karena mampu menyerap sinar matahari. Mereka memanfaatkan proses fotosintesis tanaman padi dengan menghasilkan glukosa (C6H1206) dan oksigen (O2). Oksigen yang dihasilkan terlempar bebas ke udara, sedangkan glukosa diserap oleh tanaman mencapai 30 persen. Sementara 70 persen dikonsumsi mikroorganisme dan terurai menjadi CO2, H2O, dan Elektron. Dalam penelitian tersebut, mereka menggunakan padi IR-64 dengan umur tanaman antara 25-30 hari.

Salah satu mahasiswi melakukan pengecekan terhadap tanaman padi yang diujicobakan untuk menghasilkan aliran listrik. Foto: greeners.co/HI

Salah satu mahasiswi melakukan pengecekan terhadap tanaman padi yang diujicobakan untuk menghasilkan aliran listrik. Foto: greeners.co/HI

E-Paddy mulai dikembangkan sejak Maret 2016. Semula tim ini hanya beranggotakan tiga orang. Dheniz kemudian mengajak adik tingkatnya dengan harapan tetap meneruskan penelitian tersebut.

“Lahan padi di Indonesia sangat luas. Kebanyakan lahan padi berada di pedesaan sehingga memudahkan dalam pengembangannya nanti,” katanya.

Dheniz menjelaskan, di sekitar tanaman padi ditanam katoda dan anoda. Anoda yang ditanam dalam tanah untuk menangkap elektron. Katoda dan anoda kemudian dihubungkan dengan sebuah kabel guna mengalirkan elektron.

Pergerakan elektron tersebut nantinya akan menghasilkan listrik. Daya listrik akan semakin besar jika proses fotosisntesisnya lebih banyak. Sama halnya dengan semakin banyak tanaman disiram dan diberi kompos, untuk menghasilkan elektron, maka tegangan listrik yang diperoleh semakin tinggi.

“Usia padi juga menentukan banyak tidaknya elektron. Semakin tua tanaman padi semakin banyak menghasilkan elektron,” ujar mahasiswa akhir itu.

Mahasiswa lain, Yogan Surya Tirta, menyebutkan, tanaman padi salah satu tanaman tergenang. Setelah diujicobakan, tanaman padi berisi 20 batang mampu menghasilkan 331,6 milivolts (mV) dengan volume penyiraman sekitar 500 mililiter air dan kompos sebanyak lima persen dari masa tanah dan pot.

Hasil penelitian mereka baru diujicobakan dalam skala kecil, yakni listrik yang dihasilkan mampu menghidupkan lampu LED. Ke depan, Yogan bersama teman-temannya yang dibimbing langsung dosen mereka, Dewi Maya Maharani, akan mengaplikasikan inovasi tersebut dengan skala besar. Penelitian ini akan diprioritaskan pada daerah tertinggal yang belum menerima aliran listrik.

“Masih proses dipatenkan. Sekarang proses pengajuan melalui LPPM Universitas Brawijaya. Sejauh ini karya kami ini belum ada kendala yang tidak dapat dipecahkan,” ungkapnya.

Yogan menambahkan, saat ini mereka tengah menjalin komunikasi dengan mahasiswa di Belanda. Jika ada kata sepakat, mereka akan mengembangkan inovasi tersebut bersama-sama. “Sebatas ada kontak saat ini, tapi mereka tertarik dengan karya kami,” katanya.

Dekan Fakultas Teknik Pertanian, Sudarminto, mengapresiasi karya lima mahasiswanya. Ia menyatakan pihaknya terus mendorong mahasiswa memiliki karya nyata dalam pembangunan Indonesia.

“Kami fokus mengembangkan yang ada sangkut pautnya dengan pertanian. Saya mengapresiasi karya tersebut, mereka tanggap dan peka atas masalah di masyarakat,” tandasnya.

Penulis: HI/G17

Top