Oxfam-WWF-Greenpeace: 100 hari Menuju Kopenhagen

Reading time: 2 menit
Hingga kini perubahan iklim telah menjadi suatu masalah terbesar bagi manusia di bumi ini. Dampak dari perubahan iklim tersebut sangat dirasakan...

Jakarta (29/8). Hingga kini perubahan iklim telah menjadi suatu masalah terbesar bagi manusia di bumi ini. Dampak dari perubahan iklim tersebut sangat dirasakan oleh negara-negara berkembang karena berkemampuan adaptasi minimal. Akibatnya bencana demi bencana di negara-negara berkembang terus melanda. Kerugian ekonomi semakin meningkat. Namun, negara-negara berkembang bukanlah penyebab masalah tersebut. Sebagai contoh, Indonesia. “Menjadi bagian dari negara kepulauan terbesar di dunia dengan daerah pesisir terpanjang membuat Indonesia rentan terhadap naiknya air muka laut, banjir, dan badai. Laporan dari Institut Teknologi Bandung menyebutkan bahwa pada tahun 2050, Jakarta diprediksikan mengalami banjir hingga mencakup ± 160,4 km2 atau sama dengan 24,3% total luas kota megapolitan ini akibat kenaikan air muka laut,” jelas Fitrian Ardiansyah, Direktur Program Iklim dan Energi, WWF-Indonesia.

“Kita bisa mengubahnya karena solusi telah tersedia. Dengan waktu yang tinggal 100 hari lagi menuju Konferensi Perubahan Iklim PBB atau UNFCCC (United Nations Framework Conventions on Climate Change) di Kopenhagen, kita harus bisa memanfaatkan kesempatan untuk mengembangkan pembangunan yang menjamin keberhasilan ekonomi tetapi juga menurunkan emisi gas rumah kaca dan dampak negatif lingkungan lainnya, melalui penyediaan energi bersih dengan basis ekonomi kuat lewat kesepakatan perubahan iklim yang ambisius, adil, dan mengikat pada periode pasca 2012. Dengan kata lain, negara maju bersedia menurunkan emisi 40% pada tahun 2020 di bawah level emisi tahun 1990, termasuk melakukan aksi cepat untuk adaptasi perubahan iklim di negara berkembang”, Fitrian menambahkan.

Dukungan kepada negosiasi yang berpihak ke negara berkembang terus dibutuhkan, karena hingga kini dalam target mitigasi, adaptasi, komitmen pendanaan dan transfer teknologi dari negara maju dalam pertemuan-pertemuan tingkat tinggi belum seperti yang diharapkan. Dengan target besar yang harus dikeluarkan UNFCCC di Kopenhagen, maka membangun momentum yang berasal dari publik akan sangat krusial. Rully Prayoga, Oxfam International untuk Asia Timur dan Koordinator Global Campaign for Climate Action (GCCA) Indonesia mengatakan, “Kampanye Tcktcktck – di Indonesia menjadi Kampanye Tik Tok Tik Tok – diluncurkan secara serentak di Asia Pasifik dan dipusatkan di Bangkok sebagai peringatan kepada pemimpin dunia bahwa waktu semakin sempit. Dibutuhkan ketegasan mereka untuk melindungi jutaan hidup, khususnya masyarakat miskin”.

Dalam hal ini tentunya peran pemerintah sangat dibutuhkan khususnya pemimpin negeri ini, Arif Fiyanto, Climate & Energy Campaigner – Indonesia, Greenpeace South East Asia menegaskan, “Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus segera memperbaiki kinerja pemerintah dalam penanganan krisis iklim, menyusun rencana aksi segera dalam rangka memenuhi komitmen internasional yang dibuatnya untuk mengurangi emisi dari deforestasi, dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi kotor, seperti batu bara, yang merupakan sumber dominan gas rumah kaca secara global. Indonesia juga harus beralih ke pemanfaatan energi terbarukan yang aman dan ramah lingkungan”.

Melalui kampanye yang dilaksanakan di Bundaran HI Jakarta Pusat sabtu lalu, para aktivis berharap masyarakat bersama-sama dapat memberikan suaranya kepada pemerintah untuk lebih berperan dalam negosiasi internasional dan kebijakan nasional. Arif juga menegaskan, di masa pemerintahannya yang kedua ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pemimpin negara terbesar di kawasan Asia Tenggara dan sekaligus menjadi negara yang juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca dapat mengukir sejarah dengan menunjukkan kepemimpinannya dalam mengatasi krisis iklim bersama pemimpin negara di regional maupun diantara pemimpin dunia lainnya.

Intinya dengan strategi pembangunan yang terkoordinasi dan berwawasan perubahan iklim, yaitu kerja sama antar sektoral, seperti ekonomi, perdagangan, kehutanan, pertanian, perikanan, dan pekerjaan umum, agar bersama-sama membuat upaya adaptasi untuk mengurangi dampak perubahan iklim di Indonesia. Demi terciptanya bumi yang nyaman dan ramah lingkungan tentunya hal ini melibatkan kita semua. Segera bertindak sekarang, menunda berakibat bencana…! (sanoy)

Top

You cannot copy content of this page