Peneliti BRIN Manfaatkan Limbah Jahe Menjadi Energi Alternatif

Reading time: 2 menit
Peneliti BRIN memanfaatkan limbah jahe menjadi energi alternatif. Foto: BRIN
Peneliti BRIN memanfaatkan limbah jahe menjadi energi alternatif. Foto: BRIN

Jahe atau Zingiber officinale mungkin seringkali kita manfaatkan sebagai minuman herbal. Namun, ternyata tanaman ini memiliki manfaat lain. Salah satunya limbah padat hasil dari proses hidrodistilasri rimpang jahe berpotensi menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.

Peneliti dari Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Anny Sulaswatty dan tim berhasil mengembangkan teknologi pemanfaatan limbah biomassa rimpang jahe menjadi biobriket berkualitas. Inovasi ini sebagai bagian dari upaya mendukung transisi menuju energi bersih dan ekonomi sirkular.

“Peningkatan produksi minyak atsiri seperti Akar wangi, sereh wangi, kulit kayu manis, cengkeh, jahe, juga minyak atsiri dari kayu-kayuan (cendana, gaharu, masoia), menghasilkan limbah padat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biobriket untuk mendukung energi alternatif berbasis biomassa,” kata Anny melansir Berita BRIN, Rabu (15/7).

Menurut Anny, banyak limbah biomassa dapat dimanfaatkan menjadi biobriket. Namun, hal yang menjadi utama adalah bahan tersebut harus memiliki nilai karbon minimal 40 persen.

Selain itu, pemanfaatan limbah rimpang jahe sebagai bahan baku biobriket dinilai menjanjikan. Sebab, masih mengandung komponen lignoselulosa. Bahan baku tersebut dapat dikonversi menjadi bahan bakar padat melalui proses karbonisasi dan pencetakan menggunakan berbagai jenis perekat.

“Limbah padat rimpang jahe memiliki kandungan lignin yang tinggi, yaitu 45,98% sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biobriket. Melalui proses pirolisis, limbah ini dapat ditingkatkan kualitasnya,” tambahnya.

Landasan Ilmiah

Penelitian ini masih berfokus pada pengembangan biobriket berbasis biochar limbah penyulingan limbah jahe. Hal itu melalui evaluasi berbagai jenis perekat untuk memperoleh karakteristik produk yang optimal.

Anny mengatakan, penggunaan perekat yang berbeda akan memengaruhi sifat fisik, mekanik, dan termal biobriket. Hal ini meliputi kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, karbon tetap, densitas, kuat tekan, laju pembakaran, dan nilai kalor.

“Melalui optimasi jenis perekat, penelitian ini bertujuan menghasilkan biobriket yang memenuhi standar mutu bahan bakar padat. Memiliki performa pembakaran yang stabil, serta berpotensi sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai tambah,” ujarnya.

Dalam penelitian ini, kata dia, limbah penyulingan jahe terlebih dahulu dikeringkan, kemudian dikarbonisasi untuk menghasilkan biochar. Biochar yang diperoleh selanjutnya dicampurkan dengan berbagai jenis perekat, dicetak menjadi biobriket, dan diuji karakteristiknya.

Menurutnya, penelitian ini memberikan solusi meningkat akumulasi limbah penyulingan jahe dari industri minyak atsiri dan herbal. Limbah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat dikonversi menjadi bahan bakar padat terbarukan dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Maka dari itu, inovasi ini bisa mendukung konsep ekonomi sirkular dan pemanfaatan biomassa secara berkelanjutan.

Ia berharap, hasil penelitian ini bisa menjadi landasan ilmiah bagi pengembangan teknologi pemanfaatan limbah biomassa pada skala industri maupun masyarakat. Teknologi ini juga berpotensi diterapkan di sentra produksi minyak atsiri, industri herbal, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menghasilkan limbah rimpang jahe dalam jumlah besar.

Selain itu, Anny juga ingin limbah biomassa tidak lagi dipandang sebagai residu hasil produk yang harus dibuang. Namun bisa menjadi sumber daya terbarukan yang dapat dikonversi menjadi bahan bakar padat bernilai ekonomi tinggi.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top