Sekolah Perbatasan Indonesia Juara Asia Pasifik Berkat Inovasi Limbah Pisang

Reading time: 2 menit
Sekolah perbatasan Indonesia juara Asia Pasifik berkat inovasi limbah pisang. Foto: Istimewa
Sekolah perbatasan Indonesia juara Asia Pasifik berkat inovasi limbah pisang. Foto: Istimewa

Jakarta (Greeners) – SMP IL Kapten Fatubaa di Desa Fatubaa, Nusa Tenggara Timur berhasil mengharumkan nama bangsa di tingkat Asia Pasifik. Sekolah yang terletak di wilayah perbatasan Indonesia itu menjadi Juara Utama AIA Healthiest Schools Competition 2026. Mereka berhasil mengubah limbah kulit pisang menjadi es krim, kompos, dan pupuk cair yang memberikan manfaat bagi lebih dari 1.000 masyarakat.

Prestasi tersebut mereka raih setelah sekolah ini menyisihkan hampir 1.000 peserta dari sembilan negara Asia Pasifik. Dari kemenangan ini, mereka membawa pulang penghargaan senilai US$40.000. Uang tersebut akan mereka gunakan untuk mengembangkan program kesehatan dan keberlanjutan di sekolah.

Prestasi sekolah ini menjadi sesuatu yang istimewa, karena SMP IL Kapten Fatubaa merupakan sekolah yang berada di kawasan perbatasan Indonesia, Timor Leste. Setiap hari, para siswanya harus menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer melalui jalan berbatu dan menyeberangi sungai tanpa jembatan untuk mencapai sekolah. Di tengah keterbatasan tersebut, mereka justru melahirkan inovasi berbasis ekonomi sirkular yang kini menjadi inspirasi di tingkat Asia Pasifik.

Melalui Huka Upcycling Project (HUP), para siswa mengolah limbah kulit pisang menjadi tiga produk bernilai ekonomi. Produk tersebut meliputi es krim, kompos, dan pupuk cair.

Selain itu, program ini juga melibatkan guru, orang tua, petani, koperasi, hingga masyarakat di wilayah perbatasan. Bahkan, telah memberikan manfaat kepada lebih dari 1.000 orang.

Generasi Muda sebagai Penggerak

Sementara itu, Head Judge AIA Healthiest Schools Competition sekaligus Group Chief Marketing Officer AIA Group, Stuart A. Spencer, mengatakan bahwa melalui AIA Healthiest Schools Competition, pihaknya telah melihat bagaimana anak-anak muda mampu mengubah pengetahuan menjadi aksi nyata.

“SMP IL Kapten Fatubaa menunjukkan bahwa inovasi sederhana dari komunitas lokal dapat menghasilkan dampak besar bagi kesehatan dan lingkungan,” kata Stuart dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/7).

Di sisi lain, keberhasilan SMP IL Kapten Fatubaa menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari sekolah dengan fasilitas lengkap. Berangkat dari tantangan sehari-hari di wilayah perbatasan, para siswa mampu menghadirkan solusi yang menjawab persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan kesehatan masyarakat.

Prestasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki kapasitas untuk menjadi penggerak perubahan dan membawa inspirasi hingga tingkat regional.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top