Simokerto Analisis Karakteristik Sampah untuk Susun Strategi Pengelolaan Sampah

Reading time: 2 menit
Simokerto menganalisis karakteristik sampah untuk menyusun strategi pengelolaan sampah. Foto: Ecoton
Simokerto menganalisis karakteristik sampah untuk menyusun strategi pengelolaan sampah. Foto: Ecoton

Jakarta (Greeners) – Kelurahan Simokerto, Kota Surabaya telah melakukan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA). Hasil analisis tersebut akan menjadi salah satu rujukan untuk menyusun strategi pengelolaan sampah di kampung tersebut.

Kegiatan ini berlangsung selama delapan hari pada 16-23 Juli 2026. Sebanyak 50 rumah tangga berpartisipasi dalam memilah dan mengumpulkan sampah rumah tangga untuk dianalisis komposisi dan karakteristiknya.

AKSA merupakan bagian dari Program Kampung MOZAIK (Mission for Zero Plastic Leakage) hasil inisiasi Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) bersama para mitra. Tujuannya untuk mengurangi kebocoran sampah plastik ke sungai, khususnya di kawasan Kali Tebu.

Melalui kegiatan ini, setiap rumah tangga diminta memilah sampah berdasarkan jenisnya, seperti sampah organik, plastik, kertas, logam, kaca, tekstil, popok sekali pakai, serta residu. Seluruh sampah kemudian ditimbang dan dicatat setiap hari untuk memperoleh data timbulan sampah rumah tangga dan mengetahui potensi pengurangan sampah dari sumber.

Waste Prevention Manager ECOTON, Tonis Afrianto mengatakan bahwa AKSA dilakukan untuk mendukung data awal pengelolaan sampah kawasan. Data yang diperoleh dari AKSA nantinya akan menjadi dasar dalam menyusun strategi pengelolaan sampah yang lebih efektif di tingkat kampung.

“Dengan mengetahui komposisi sampah yang dihasilkan masyarakat, intervensi yang dilakukan dapat lebih tepat sasaran, mulai dari pengomposan sampah organik, pemilahan daur ulang, hingga pengurangan penggunaan kemasan sekali pakai yang memicu timbulan sampah residu,” kata Tonis dalam keterangan tertulisnya.

Sampah Organik Mendominasi

Dari kegiatan ini, sebanyak 354,58 kilogram sampah terkumpul. Sampah organik menjadi komponen terbesar dengan presentase 45,5 persen. Sampah ini umumnya berupa sisa makanan, kulit buah, sayuran, dan material nabati lainnya.

Sementara itu, sebanyak 34,5 persen merupakan sampah yang masih berpotensi didaur ulang, 13,2 persen berupa popok sekali pakai, dan 6,8 persen merupakan sampah residu. Temuan ini menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat sampah rumah tangga masih dapat dikelola melalui pemilahan, pengomposan, dan daur ulang. Dengan demikian, volume sampah yang berpotensi bocor ke Kali Tebu dapat ditekan secara signifikan apabila dikelola sejak dari sumber.

Lurah Simokerto, Arief Insani mengatakan bahwa melalui AKSA bisa mengetahui jenis sampah yang dihasilkan oleh masyarakat dan jenis sampah yang perlu dikurangi. “Semoga tahapan menuju kampung MOZAIK seperti AKSA pilah sampah ini bisa direplikasi oleh kawasan RT/RW sekelurahan Simokerto sehingga bisa menciptakan kali tebu yang lestari dan asri. Jadi, layak dinikmati kembali oleh masyarakat dan bebas dari kebocoran sampah plastik ke sungai,” ujarnya.

Sementara itu, Fasilitator Kelurahan Simokerto, Mujiatiningsih juga mengatakan bahwa aksi pilah sampah di wilayahnya akan terus dilakukan. Pihak kelurahan akan melakukan pengangkutan terpilah dan pemanfaatan sampah organik menjadi kompos melalui sumur kompos.

“Pilah sampah mempermudah masyarakat mengelola sampah sampai tuntas sejak dari sumber untuk mewujudkan kali tebu lestari,” kata dia.

Selain menghitung timbulan dan komposisi sampah, hasil AKSA juga akan digunakan sebagai dasar pelaksanaan brand audit. Kegiatan ini dilakukan dengan mengidentifikasi merek-merek kemasan yang paling banyak ditemukan dalam sampah rumah tangga. Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi produsen sekaligus memperkuat advokasi kebijakan pengurangan plastik sekali pakai.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top