Di balik secangkir kopi yang kita nikmati, tersimpan potensi dari ampas yang selama ini kerap dianggap limbah. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memanfaatkan ampas kopi Gayo sebagai bahan baku kemasan pangan yang lebih ramah lingkungan.
Postdoctoral Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Haya Fathana mengatakan bahwa plastik konvensional masih mendominasi industri pangan. Namun, hal itu menimbulkan masalah lingkungan karena tidak terbarukan dan sulit terurai.
“Oleh sebab itu, perlu material alternatif yang ramah lingkungan dan berkinerja baik,” kata Haya melansir Berita BRIN, Senin (20/7).
Menurutnya, kitosan sebagai biopolimer berpotensi digunakan karena bersifat biodegradable, biokompatibel, dan mampu membentuk film. Namun, di sisi lain kitosan masih memiliki keterbatasan pada sifat mekanik dan ketahanan air yang relatif rendah. Maka dari itu, perlu dimodifikasi untuk meningkatkan karakteristiknya.
Terbentuk Utuh dan Fleksibel
Dalam penelitiannya, Haya memanfaatkan ampas kopi Gayo yang kaya kandungan selulosa, hemiselulosa, lignin, dan polifenol, untuk meningkatkan kekuatan mekanik, stabilitas termal, sifat hidrofobik, dan aktivitas antioksidan material komposit. Penelitian ini juga menambahkan nanopartikel ZnO guna meningkatkan sifat antimikroba, perlindungan UV, serta kinerja mekanik film.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa film komposit yang dikembangkan berhasil terbentuk secara utuh dan fleksibel. Penambahan ampas kopi Gayo ini menghasilkan perubahan warna kecokelatan. Perubahan warna tersebut sebagai indikasi keberadaan partikel lignoselulosa. Sedangkan penambahan ZnO tetap menghasilkan film yang homogen tanpa retakan, sehingga layak untuk karakteristik lebih lanjut.
Haya menambahkan, karakterisasi material memperlihatkan adanya interaksi antarmolekul antara kitosan, komponen lignoselulosa dari ampas kopi, dan nanopartikel ZnO. Kombinasi tersebut mampu meningkatkan kekuatan mekanik, memperbaiki sifat hidrofobik, mengurangi permeabilitas uap air. Di samping itu juga meningkatkan kemampuan film dalam menghalangi radiasi ultraviolet dibandingkan dengan film kitosan murni.
“Selain memiliki sifat fisik yang lebih baik, film komposit tersebut juga menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Kombinasi limbah ampas kopi Gayo dan ZnO menghasilkan efektivitas penghambatan mikroba yang paling tinggi, sehingga berpotensi mendukung pengembangan kemasan pangan aktif (active packaging),” ungkapnya.
Menurut Haya, pemanfaatan ampas kopi Gayo memberi nilai tambah limbah sekaligus mendukung ekonomi sirkular melalui kemasan pangan berkelanjutan. Ia juga menegaskan bahwa penelitian ini juga membuka peluang pemanfaatan biomaterial lokal dengan sifat mekanik, penghalang, perlindungan UV, dan antibakteri yang lebih baik. Hal ini untuk mendukung inovasi kemasan pangan masa depan.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































