Limbah Sawit dan Styrofoam Berpotensi Jadi Bahan Bakar Kapal

Reading time: 2 menit
Limbah sawit dan styrofoam berpotensi jadi bahan bakar kapal. Foto: Magnific
Limbah sawit dan styrofoam berpotensi jadi bahan bakar kapal. Foto: Magnific

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan riset yang menunjukkan bahwa pelepah kelapa sawit dan limbah polistirena (styrofoam) dapat diolah menjadi minyak pirolisis (pyrolysis oil). Minyak tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai campuran bahan bakar kapal.

Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Dieni Mansur, mengatakan bahwa kapal-kapal pengangkut barang antarnegara masih banyak menggunakan bahan bakar minyak berat atau high sulfur fuel oil (HSFO). Jenis bahan bakar ini berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan karena menghasilkan emisi sulfur yang tinggi.

Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi persoalan melimpahnya limbah biomassa dari perkebunan sawit. Bahkan, terdapat peningkatan jumlah sampah plastik yang sulit terurai.

Berangkat dari kondisi tersebut, Dieni bersama tim melakukan riset dengan memanaskan limbah pelepah kelapa sawit dan styrofoam tanpa oksigen melalui proses pirolisis hingga menghasilkan minyak cair. Minyak pirolisis yang dihasilkan kemudian dicampurkan dengan bahan bakar kapal konvensional. Hasilnya, minyak pirolisis diperoleh dengan rendemen lebih dari 56 persen. Ini menunjukkan bahwa limbah yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat menjadi sumber energi alternatif.

“Yang membuat penelitian ini penting bukan hanya karena menghasilkan bahan bakar alternatif, tetapi karena campuran bahan bakar tersebut mampu memperbaiki kualitas bahan bakar kapal yang sudah beredar saat ini,” ujar Dieni melansir Berita BRIN, Selasa (23/6).

Menurut Dieni, salah satu temuan paling signifikan dari riset ini adalah penurunan viskositas atau tingkat kekentalan bahan bakar. Dalam operasional kapal, bahan bakar yang terlalu kental harus dipanaskan terlebih dahulu sebelum digunakan pada mesin. Proses tersebut membutuhkan energi tambahan yang pada akhirnya meningkatkan biaya operasional.

“Dengan mencampur minyak pirolisis yang sudah diformulasi, bahan bakar menjadi lebih mudah mengalir dan energi yang diperlukan untuk pemanasan menjadi rendah. Formula ini mampu mempertahankan kualitas bahan bakar sesuai standar bahan bakar kapal sekaligus memberikan manfaat lingkungan yang signifikan,” ujarnya.

Solusi Mudah

Sementara itu, Dieni menyebut penelitian ini secara nyata menunjukkan penekanan kandungan sulfur dalam bahan bakar. Hal ini penting karena sulfur merupakan sumber utama emisi sulfur oksida yang selama ini menjadi perhatian organisasi pelayaran internasional. Semakin rendah kandungan sulfur, semakin kecil pula dampak pencemaran udara yang dihasilkan kapal.

Temuan riset tersebut menawarkan solusi yang relatif mudah diterapkan. Inovasi ini berbeda dengan teknologi kapal berbahan bakar hidrogen atau amonia yang masih memerlukan investasi infrastruktur besar. Di sisi lain, bahan bakar campuran hasil penelitian ini berpotensi digunakan pada sistem yang sudah ada dengan penyesuaian yang minimal.

Lebih jauh lagi, penelitian ini menunjukkan dengan pendekatan teknologi yang tepat. Limbah pertanian dan plastik dapat diubah menjadi sumber energi yang membantu mengurangi emisi sektor pelayaran. Selain itu, juga mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.

“Solusi energi masa depan tidak selalu harus berasal dari sumber baru, tetapi bisa juga berasal dari limbah yang selama ini kita abaikan,” pungkasnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top