Ali Rahmat, Hasilkan Biochar untuk Pulihkan Air yang Tercemar

Reading time: 3 menit
Ali Rahmat raih penghargaan periset berprestasi tahun 2023 dari BRIN. Foto: Istimewa

Jakarta (Greeners) – Air adalah sumber kehidupan. Hal inilah yang membuat Ali Rahmat berjuang menyelamatkannya dari pencemaran melalui risetnya di bidang konservasi tanah dan air. 

Berkat inovasinya menyelamatkan lingkungan dan mencegah pencemaran air, Ali Rahmat terpilih sebagai salah satu periset berprestasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2023. Bahkan ia menjadi periset termuda di antara ke-12 periset lainnya.

Usaha Ali dalam riset konservasi tanah dan air yang ia mulai lima tahun lalu, akhirnya membuahkan hasil. Sebagai peneliti muda, Ali telah menunjukkan prestasinya dan aktif mempublikasikan karya-karyanya dalam bentuk jurnal bereputasi tinggi (scopus), prosiding bereputasi tinggi (scopus), dan telah memiliki H-indeks scopus dengan nilai sembilan.

Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN merupakan kajian pusat riset yang mengkaji air yang ada di darat seperti sungai, danau, air bawah tanah, air untuk pertanian dan sumber air minum.

Pria kelahiran Lampung ini ingin masyarakat terus bisa mengakses air bersih. Foto: Istimewa

Sampai Kapanpun Masyarakat Butuh Air 

Riset yang Ali lakukan fokus pada air tawar terutama sungai, danau, waduk, dan situ. Pria kelahiran Lampung ini ingin memperbaiki kondisi air tawar dari alam yang rusak agar bisa terus masyarakat manfaatkan.

“Bagian yang saya teliti ke arah lingkungan yang berkaitan dengan tanah dan sedimen. Kalau kita melihat air di sungai sekarang sudah banyak yang tidak jernih mungkin cokelat karena sedimen atau erosi yang menyebabkan kualitas airnya turun,” kata Ali kepada Greeners, Senin (8/5).

Selain bangga dan bahagia, penghargaan ini baginya merupakan tanggung jawab besar untuk terus belajar hingga dapat memberikan inovasi yang terbaik.

Saat ini, Ali juga fokus menyusun material yang dapat diaplikasikan ke tanah dan sedimen untuk memperbaiki kualitas air. Harapannya ke depan material tersebut dapat diadaptasikan ke masyarakat, baik skala kecil baik skala besar. Jika berhasil, ia berharap pemerintah bisa melahirkan kebijakan dari risetnya ini.

Dorong Riset Lanjutan Atasi Pencemaran Air

Ali juga menambahkan penelitian ini masih butuh pengembangan lanjutan. Sebab, riset masih dalam tahap awal pembuatan agen atau bahan untuk memperlambat unsur hara di dalam tanah.

Dalam upaya menyelamatkan air agar tidak tercemar, Ali menyiapkan material berupa biochar termodifikasi. Jika diberikan ke dalam tanah dapat mengurangi pencucian unsur hara dan jika dimasukkan ke dalam badan air dapat menyerap berbagai polutan.

Biochar ini terbuat dari sisa tumbuhan atau bahan organik padat (bisa berupa kayu, biji, sekam padi, dan bonggol jagung).

“Biochar ini harapannya menekan kehilangan nutrisi atau unsur hara yang kemudian mengalir ke badan air yang tercemar. Pencemaran dapat memberikan risiko banyaknya ikan yang mati hal tersebut dapat merugikan masyarakat,” ungkapnya.

Ali Rahmat (tengah) bersama rekan periset lainnya. Foto: Istimewa

Dalami Agroteknologi 

Di balik sosok Ali Rahmat yang berprestasi, ada banyak perjuangan yang telah ia jalani. Salah satunya memperdalam ilmu agroteknologi. Ilmu ini telah membawa kebaikan dan perubahan bagi hidupnya.

Seorang anak desa yang besar di Provinsi Lampung ini, memulai pendidikan S1 di Universitas Lampung. Lalu meraih beasiswa untuk melanjutkan studi S2 ke Jepang. Berkat kegigihannya, Ali akhirnya bisa menyelesaikan gelar master di bidang Agricultural and Environmental Science, Gifu University. Lalu masih di universitas yang sama, Ali melanjutkan studi untuk meraih gelar PhD di bidang Science of Biological Environment.

“Agroteknologi telah membawa kebaikan dan keberuntungan untuk hidup saya sampai sekarang. Saya bersyukur anak kampung bisa menjadi wisudawan terbaik kala itu dan mendapatkan beasiswa ke luar negeri,” imbuh Ali.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Top