Emil Salim, Rayakan Kemerdekaan untuk Masa Depan Indonesia

Reading time: 4 menit
kemerdekaan

Foto : greeners.co/Adit Wirawan

Untuk menjawab tantangan ini, ia meyakini kalau generasi muda sudah harus pandai melihat permasalahan apa saja yang akan muncul di masa depan dengan keadaan lingkungan hidup Indonesia saat ini. Generasi muda harus bisa melihat wajah Indonesia 10, 20 atau bahkan 40 tahun ke depan. Apakah hutan Indonesia masih ada, apakah garis pantai akan semakin mengecil, apakah lahan hidup masih akan ada dengan kemungkinan untuk pulau Jawa saja akan terus meningkat populasi penduduknya. Anak-anak muda harus bisa merayakan Kemerdekaan Indonesia jauh ke depan, bukan merayakan untuk 72 tahun kebelakang.

“Anak-anak muda sekarang harus melihat jauh ke depan, bukan apa yang terjadi selama 72 tahun Indonesia merdeka. jangan merayakannya hanya melihat kebelakang. karena 72 tahun ke belakang Indonesia merdeka hanya dirayakan oleh para orang tua. Anak muda belum berperan. Untuk ke depan, banyak yang harus disiapkan anak-anak muda, kuncinya belajar, siap pada perkembangan zaman, belajar pada alam dan teknologi,” terangnya.

Pendiri Yayasan Keanekaragaman Hayati (Yayasan KEHATI) ini juga mengingatkan bahwa permasalahan lingkungan hidup harus dilihat dari banyak sisi. Ia menceritakan, pada zaman kemerdekaan, infrastruktur masih sangat minim, jalan-jalan masih sangat lenggang, belum ada jalan tol dan para petani masih merayakan masa panen dengan lagu-lagu perayaannya. Namun, saat ini, semua kebijakan dan pembangunan infrastruktur berjalan sangat cepat. Perubahan tata guna lahan, pembangunan infrastruktur dan masalah-masalah lingkungan yang terjadi tidak terlepas dari perubahan gaya hidup manusianya. Untuk mengatasi hal ini, gerakan kepedulian lingkungan yang diusung anak muda masih belum cukup.

Saat ini, anak muda masih berkutat pada isu-isu permukaan seperti sampah dan banjir. Padahal, ada banyak isu lingkungan yang bisa mereka masuki, itu pun tentunya harus dibarengi dengan wawasan dan kemampuan memanfaatkan teknologi. Bagaimana anak-anak muda memanfaatkan teknologi untuk mengatasi pencemaran udara, pencemaran limbah, atau bahkan dampak lingkungan yang diakibatkan oleh pembangunan yang mengesampingkan analisis dampak lingkungan (amdal). Anak muda, pintanya, jangan terlena dengan seremonial semata dan mulai serius dengan masa depan Indonesia.

Terkait peran Indonesia pada forum-forum internasional, ia mengamini bahwa Indonesia masih belum mampu menentukan prioritas antara pembangunan infrastruktur atau peningkatan ekonomi. Ketidakmampuan ini menjadi masalah yang membuat Indonesia tidak mampu menonjol dalam forum-forum Internasional. Indonesia pun dianggap masih belum mampu menjalankan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang merupakan agenda global. Padahal, ekonomi, sosial dan lingkungan harus benar-benar bisa dijalankan beriringan untuk mewujudkan SDGs tersebut.

“Sekarang kan semuanya mau serba cepat. Pembangunan infrastruktur harus cepat akhirnya mengenyampingkan amdal. Kalau begini, Indonesia bukan hanya di Internasional, bahkan di dalam negeri saja lingkungan masih belum menjadi prioritas. Generasi muda, tentu harus peka pula pada permasalahan ini,” pungkasnya menutup perbincangan.

Penulis : Danny Kosasih

 

Top

You cannot copy content of this page