Komunitas Aspera, Ajak Masyarakat Untuk Peduli Reptil Asli Indonesia

Reading time: 3 menit
Komunitas Aspera, Peduli Reptil Asli Indonesia
Foto : Komunitas Aspera

Satwa ular, kerap masih mendapatkan stigma negatif dari masyarakat Indonesia terutama yang hidup di perkotaan. Selain takut, banyak yang menganggap ular adalah satwa yang harus dibasmi, padahal keberadaan ular dalam rantai makanan ekosistem sangatlah penting. Khawatir akan punahnya populasi ular endemik Indonesia, lahirlah sebuah komunitas yang diberi nama Aspera. Sesuai dengan slogannya, “We Care about Reptile” komunitas ini merupakan sebuah komunitas edukasi dan pemerhati reptil di Indonesia.

Didirikan pada tanggal 4 Juli 2011, awalnya komunitas ini bernama Deric Education. Karena fokus utama dari komunitas ini melestarikan ular asli Indonesia yaitu Candoia aspera, maka pada 28 Desember 2012 komunitas ini secara resmi berganti nama menjadi Aspera yang diambil dari nama spesies Ular tersebut.

Komunitas ini juga memiliki beberapa program kerja diantaranya sosialisasi reptil untuk anak-anak, remaja, dan umum, rescue reptil di kawasan padat penduduk, herping reptil, pelatihan P3K pada korban gigitan ular, dan pelatihan handling reptil. Sesuai dengan visi dan misinya, komunitas ini didirikan untuk merubah paradigma negatif terhadap hewan reptil di masyarakat.

“Dengan banyaknya paradigma negatif dari ular maka komunitas aspera lebih banyak berfokus pada ular, tetapi reptil lain juga tidak luput dari pembahasan komunitas aspera sendiri.” ujar Nyimas Bemby, wakil dan sekretaris Aspera saat dihubungi Greeners.co via WhatsApp.

Komunitas Aspera juga seringkali melakukan herping (suatu kegiatan di dunia Herpetology atau ilmu yang mempelajari reptil dan amfibi) dengan turun langsung ke habitat aslinya. Dalam pelaksanaannya, komunitas Aspera terkadang bekerjasama dengan rekan-rekan pemerhati satwa di kampus-kampus, seperti Comata Biologi UI dan Himpro Satli dan FKH IPB. Reptil-reptil yang ditemukan di alam akan diidentifikasi sebelum dilepas kembali.

Komunitas Aspera, Ajak Masyarakat Untuk Peduli Reptil Asli Indonesia

Foto : Komunitas Aspera

Aspera juga pernah mengadakan acara yang yang bernama CAMPHERP (camping hepertofauna). Acara tersebut dihadiri oleh peserta yang berasal dari berbagai kota di Indonesia, diantaranya dari Kalimantan, Sumatra, Papua dan lain-lain.

“Tidak hanya identifikasi reptil, amphibi dan animal welfare, penanganan gigitan dan cara membudidayakan hewan reptil juga menjadi salah satu materi yang hadir dalam acara CAMPHERP, tentunya dengan pembicara dan metode yang dikemas secara menarik.” kata Nyimas Bemby.

Selain itu, komunitas Aspera juga telah meluncurkan aplikasi berbentuk database reptil di platform Android yang bernama Aklopedia pada tanggal 3 Mei 2014. Aklopedia merupakan hasil kolaborasi antara Aspera dengan komunitas pengembang aplikasi yang bernama AppKitchens.

Dalam aplikasi tersebut, masyarakat akan mendapatkan layanan berbagai informasi detail tentang reptil (jenis, cara berkembang biak dan wilayah perkembangannya) mulai dari ular, kadal hingga amfibi.

Aplikasi Aklopedia juga menyajikan info mengenai kegiatan komunitas dan berbagai tips merawat reptil. Bahkan, informasi spesies baru atau penelitian-penelitian terbaru di dunia herpetofauna pun dapat ditemukan dalam aplikasi tersebut.

“Hanya saja Aklopedia untuk saat ini belum dapat diakses karena sedang dalam penambahan fitur baru dan penambahan database yang sebelumnya belum lengkap, doakan semoga cepat selesai ya.” tambah Nyimas Bemby.

Komunitas Aspera berharap kedepannya, komunitas ini mendapat dukungan dari pemerintah dan dapat bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Dinas Kehutanan untuk pelestarian hewan reptil asli Indonesia.

“Setidaknya ikut andil dalam konservasi dan terjun langsung dalam membantu pemerintahan dalam budidaya dan konservasi yang merupakan cita-cita utama Aspera.” tegas Nyimas Bemby.

Ada sebuah pesan dari Komunitas Aspera yang ingin disampaikan untuk generasi muda, yaitu agar tidak secara instan membunuh hewan reptil tapi mencari cara untuk memindahkannya dengan menghubungi komunitas reptil yang berada di daerah sekitar.

“Reptil juga merupakan mahluk ciptaan Tuhan, bahkan berperan besar juga dalam rantai makanan. Habisnya habitat mereka yang dijadikan perumahan dan lahan berkebun menjadikan mereka seringkali bersinggungan dengan kita manusia.” pungkas Nyimas Bemby.

Penulis : Diki Suherlan

Top
You cannot copy content of this page