LTKL Kenalkan Eco Fashion Lewat Berkain Bahan Alam

Reading time: 3 menit
LTKL mengenalkan ekonomi lestari dari produk eco fashion dan produk lokal berbasis alam. Foto: LTKL
LTKL mengenalkan ekonomi lestari dari produk eco fashion dan produk lokal berbasis alam. Foto: LTKL

Jakarta (Greeners) – Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) mengenalkan ekonomi lestari dari produk eco fashion dan produk lokal berbasis alam. Berkain bisa menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan eco fashion kepada banyak orang.

Fashion atau industri pakaian adalah salah satu sektor yang paling umum dengan potensi besar sebagai penambah devisa. Namun, fashion yang baik adalah fashion yang memiliki nilai keberlanjutan. Nilai keberlanjutan merupakan produk berbasis alam yang ramah sosial dan ramah lingkungan, sekaligus menjadi bagian dari rantai pasok sektor bisnis.

Selain itu, LTKL juga membawa karya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis alam. Khususnya yang berupa kerajinan daerah dari bahan alami yang pengolahannya dari usaha menjaga hutan dan gambut ke ajang Internasional Handicraft Trade Fair (INACRAFT) 2023.

BACA JUGA: Menakar Tekstil Serat Bambu untuk Industri Mode, Apakah Berkelanjutan?

Berkain adalah salah satu cara untuk memperkenalkan eco fashion. Pada acara INACRAFT kali ini, LTKL menggandeng pengajar berkain untuk memperagakan berbagai macam cara berkain menggunakan produk kain UMKM dengan berbahan dasar alam. Harapannya, UMKM bisa naik kelas dan dapat dikenal serta mudah diakses oleh masyarakat umum.

Tak sekadar itu, dalam keikutsertaan kali ini, LTKL berkolaborasi dengan orang muda yang aktif mendorong pertumbuhan ekonomi lestari. Termasuk pengembangan UMKM melalui Sentra Inkubasi UMKM dan orang muda di kabupaten anggota LTKL.

Kepala Sekretariat Interim LTKL, Ristika Istanti mengatakan, melalui kegiatan bangga berkain, LTKL mengajak untuk bangga menggunakan produk lokal berbasis alam. Hal itu bukan hanya karena kualitasnya tinggi. Namun, juga bisa memberi manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat kabupaten di daerah lain.

“Hal ini bisa jadi sumbangsih untuk pertumbuhan ekonomi dan pemulihan hutan, gambut, sungai, pesisir dan ekosistem penting Indonesia. Kami harap semakin banyak orang yang bangga menggunakan produk lokal,” ujar Ristika.

LTKL mengenalkan ekonomi lestari dari produk eco fashion dan produk lokal berbasis alam. Foto: LTKL

LTKL mengenalkan ekonomi lestari dari produk eco fashion dan produk lokal berbasis alam. Foto: LTKL

Eco Fashion Dukung Pelestarian Hutan

Harapan dari kegiatan bangga berkain adalah dapat menghilangkan sekat-sekat formal terkait penggunaan eco fashion, yang merupakan bagian dari wastra nusantara (kain tradisional).

Selama ini, kain wastra seperti batik baik cap, tulis, jumputan, dan tenun diposisikan sebagai kain jenis formal. Kain tersebut juga hanya digunakan untuk kegiatan tertentu. Bahkan, identik dengan kelompok usia atau kalangan tertentu.

“Memakai kain eco-fashion merupakan salah satu cara konsumen di kota-kota besar yang jauh dari hutan untuk ikut mendukung usaha pelestarian hutan dan pemberdayaan masyarakat lokal yang sangat bergantung hidupnya dari hutan,” ungkap CEO KriyaKite sekaligus anggota SELARAS, Aziza Nurul Amanah.

BACA JUGA: Reramban Kenalkan Ecoprint ke Anak Muda

Aziza pun berharap agar orang muda bisa memakai kain ini dalam busana sehari-hari. Sebab, ia rindu melihat orang muda di perkotaan memakai kain dalam beraktivitas.

“Kami rindu melihat orang muda di perkotaan memakai kain ketika nongkrong di kafe atau jalan-jalan ke mal, atau bahkan nonton konser. Sebab, selama beratus tahun begitulah nenek moyang kita berbusana dan mereka dapat tetap produktif dan beridentitas serta berkesadaran pada saat yang bersamaan,” tambah Aziza.

LTKL Dukung Visi Ekonomi Lestari

Sebagai asosiasi pemerintah kabupaten, LTKL memiliki visi Ekonomi Lestari yang dideklarasikan oleh sembilan kabupaten anggota LTKL. Hal tersebut bertujuan untuk membangun model ekonomi yang restoratif, berbasis hilirisasi produk dari kekayaan tumbuhan atau nabati.

Visi ini juga terkait dengan tujuan melindungi 50% hutan, gambut, dan ekosistem penting lainnya dengan meningkatkan satu juta masyarakat lokal, termasuk petani pada 2030. Secara total terdapat 5,5 juta hektar hutan, 2 juta hektar gambut, dan lebih dari 600.00 keluarga miskin, 1 juta petani di dalam sembilan kabupaten LTKL yang akan menjadi fokus dari pengembangan visi ini.

Kemudian, ekonomi lestari juga erat kaitannya dengan basis usaha kolektif masyarakat di kabupaten, yaitu UMKM. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UMKM, saat ini di Indonesia terdapat 65 juta UMKM yang menyumbang sebesar 61% PDB.

Dari angka tersebut, baru terdapat 3000 UMKM yang tertarik bertransformasi menjadi UMKM hijau. Oleh karena itu, LTKL dalam beberapa tahun terakhir terus mendorong pertumbuhan UMKM hijau. Khususnya yang berbasis alam sebagai produk unggulan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top