Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama komunitas di Surabaya melakukan aksi pengangkutan sampah plastik di aliran Kali Tebu, Surabaya pada Senin (11/5). Dalam kegiatan ini, mereka juga memasang alat penjaring sampah “Barakuda” yang terpasang secara permanen.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, M Fikser menilai proses evakuasi ini menjadi penting. Sebab, persoalan sampah sungai telah berkembang menjadi struktural yang tidak bisa selesai hanya lewat aksi komunitas. Menurutnya, upaya penjaringan sampah menggunakan Barakuda juga mampu memperlihatkan secara nyata volume sampah plastik yang selama ini mengalir di sungai perkotaan.
“Pekerjaan yang Ecoton dan Pekat lakukan tentu ada batas waktunya. Namun, yang terpenting adalah bagaimana pemerintah kota dapat menindaklanjuti gerakan ini menjadi kebijakan dan kerja jangka panjang,” ujar Fikser dalam keterangan tertulisnya.
Menurut Fikser, Pemerintah Kota Surabaya tengah menyiapkan langkah lanjutan, termasuk pemasangan penahan sampah di setiap RW yang dilintasi aliran Kali Tebu agar proses pengawasan dan pengendalian lebih mudah dilakukan.
“Selama ini yang terjadi warga di hilir merasa disalahkan karena sampah menumpuk. Kami akan mengambil langkah memasang penahan sampah di tiap RW yang dialiri Kali Tebu,” katanya.
Selain itu, Pemerintah Kota Surabaya juga mendorong penyusunan Peraturan Wali Kota (Perwali) terkait pengelolaan dan perlindungan Kali Tebu. Regulasi tersebut dapat menjadi dasar pengendalian pencemaran sungai sekaligus memperkuat tanggung jawab lintas wilayah dalam pengelolaan sampah.
Sarana Wisata
Ketua Komunitas Pemuda Kali Tebu (Pekat), Muhammad Isomudin mengatakan bahwa ia ingin Kali Tebu Moncer menjadi sungai yang bersih. Ia berharap sungai ini bisa menjadi sarana wisata.
“Sebagai warga Suroboyo kami terpanggil untuk ikut mewujudkan sungai-sungai di Surabaya bebas sampah plastik. Saya ingin aksi nyata membersihkan Kali Tebu,” kata Isomudin.
Tim Pekat mencatat, sampah yang terjaring paling banyak plastik sekali pakai. Di antaranya styrofoam, kemasan makanan, dan limbah rumah tangga lain yang terbawa arus dari kawasan permukiman padat. Temuan itu memperlihatkan masyarakat masih memperlakukan sungai sebagai saluran pembuangan terbuka. Selama bertahun-tahun, penanganan lebih banyak berfokus pada membersihkan timbunan sampah di hilir ketimbang memutus sumber pencemaran dari kawasan permukiman.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































