Jakarta (Greeners) – Wallacea merupakan kawasan biogeografis unik di Indonesia bagian tengah yang mencakup Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Kekayaan alam serta cara masyarakat adat menjaga kawasan ini terekam dalam film dokumenter Jejak Wallacea yang rilis pada Mei 2026.
Film Jejak Wallacea menceritakan berbagai upaya masyarakat pesisir dalam melindungi ekosistem laut dari praktik penangkapan ikan yang merusak lingkungan, seperti penggunaan bom dan racun ikan, hingga perburuan penyu dilindungi.
Wallacea memiliki kekayaan hayati laut yang luar biasa dan menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan kehidupan masyarakat. Kawasan ini memiliki beragam ekosistem pesisir, seperti terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun. Ekosistem tersebut menjadi habitat ribuan spesies laut, termasuk spesies endemis.
Namun, wilayah ini masih menghadapi berbagai ancaman, terutama dari praktik perikanan destruktif yang menjadi persoalan di sektor perikanan skala kecil. Selain itu, masih ada penggunaan bom ikan dan racun di sejumlah wilayah. Bahkan, aktivitas penangkapan ikan juga terjadi di zona inti kawasan konservasi laut.
Selain itu, ancaman terhadap satwa pesisir dan habitatnya pun masih terus berlangsung. Di tengah berbagai tantangan tersebut, masyarakat Wallacea terus bergerak menjaga dan mengelola wilayah pesisir mereka.
Berangkat dari kondisi itulah dokumenter Jejak Wallacea tercipta. Terrestrial Program Specialist Burung Indonesia, Angga Yoga, menjelaskan bahwa pembuatan film ini menggunakan pendekatan populer agar masyarakat luas lebih mudah memahami isu konservasi.
“Isu konservasi sering disampaikan dengan bahasa yang terlalu teknis sehingga terasa jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena itu, film dikemas dalam format perjalanan (journey) yang menampilkan dampak nyata konservasi bagi masyarakat pesisir,” ungkap Angga.
Angga menambahkan, program kemitraan Wallacea bertujuan memperkuat peran masyarakat sipil dalam konservasi berbasis komunitas. Karena itu, film lebih menonjolkan masyarakat lokal yang telah lama menjaga alam melalui adat dan cara hidup mereka sendiri.
Rekam Empat Provinsi di Indonesia Timur
Sementara itu, produser sekaligus sutradara film Jejak Wallacea, SAM August Himmawan, mengatakan proses produksi dilakukan oleh lima personel inti bersama sejumlah kru lapangan. Mereka mendokumentasikan kehidupan masyarakat pesisir di empat provinsi di Indonesia Timur selama 22 hari perjalanan.
Perjalanan dalam film dimulai dari Larantuka dan Pulau Solor di Nusa Tenggara Timur, kemudian berlanjut ke Pulau Langkai, Pulau Lanjukang, dan Makassar di Sulawesi Selatan. Tim produksi lalu melanjutkan perjalanan ke Desa Wabula, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, hingga berakhir di Salakan dan Pulau Bungin, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah.
Menurut August, pesan utama film ini sederhana, yakni konservasi berkaitan langsung dengan kehidupan manusia. Melalui film tersebut, ia ingin menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, organisasi nonpemerintah, atau Burung Indonesia, melainkan tanggung jawab bersama.
“Lokasinya cukup menantang. Untuk mendapatkan dokumentasi yang diperlukan, tim harus menyeberang ke pulau-pulau kecil menggunakan perahu nelayan, menyelam di beberapa area konservasi, hingga mendaki bukit terjal menuju desa adat,” kata August dalam Diskusi Film Jejak Wallacea di Jakarta, Rabu (6/5).
Susuri Wallacea
Dalam film dokumenter Jejak Wallacea, Alfira Naftaly atau Abex hadir sebagai pencerita yang membawa penonton mengikuti perjalanan menyusuri kawasan Wallacea. Ia juga membagikan pengalaman pribadinya selama proses produksi film tersebut.
Menurut Abex, Indonesia memiliki kekayaan alam luar biasa yang perlu eksplorasi lebih jauh oleh masyarakat. Ia mengajak generasi muda untuk tidak hanya menghabiskan waktu di kamar atau kafe, tetapi juga mengenal langsung alam Indonesia.
Saat pertama kali ada ajakan bergabung dalam proyek ini, Abex mengungkapkan bahwa dirinya langsung menerima tawaran tersebut tanpa banyak pertanyaan. Menariknya, sebelum keberangkatan ia menemukan kembali buku lama yang telah ia simpan sejak 2016.
“Dalam buku itu, aku pernah menulis keinginannya menyusuri Wallacea, mengenal Alfred Wallace, dan mengunjungi berbagai wilayah di kawasan tersebut. Keinginan itu akhirnya terwujud melalui proyek Jejak Wallacea pada 2024,” kata Abex.
Bagi Abex, Wallacea bukan sekadar tentang Alfred Wallace atau keanekaragaman hayati, tetapi juga tentang kehidupan manusia. Jika alam di kawasan itu rusak, dampaknya akan dirasakan semua orang, baik masyarakat pesisir maupun mereka yang tinggal di perkotaan.
Pengalaman melihat langsung kondisi di lapangan membuatnya kerap merasa sedih, marah, sekaligus terdorong untuk berkontribusi lebih besar terhadap upaya pelestarian lingkungan. Sebagai informasi, film ini merupakan produksi Burung Indonesia bersama Arise! Indonesia dengan dukungan Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) melalui Program Kemitraan Wallacea II.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































