CCOF Perluas Inovasi Daur Ulang Limbah Plastik di Luar Pulau Jawa

Reading time: 2 menit
Inovasi membuat daur ulang limbah plastik lebih bernilai. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Circulate Capital Ocean Fund (CCOF) telah berinvestasi di perusahaan Prevented Ocean Plastic Southeast Asia. Perusahaan yang bergerak dalam pengumpulan dan daur ulang limbah plastik ini tengah memelopori model mata rantai pengelolaan limbah plastik yang inovatif.

Circulate Capital, perusahaan manajemen investasi berbasis di Singapura. Perusahaan ini mendanai inovasi, perusahaan dan usaha kecil dan menengah (UKM) untuk memerangi polusi plastik di laut dan perubahan iklim. Caranya dengan memajukan ekonomi sirkular netral karbon.

Prevented Ocean Plastic Southeast Asia adalah hasil kerja sama yang unik antara PT Polindo Utama (Polindo), Bantam Materials Ltd (Bantam Materials) dan Circulate Capital. Perusahaan ini berkomitmen untuk memperluas infrastruktur daur ulang di Indonesia secara strategis. Terutama di wilayah yang kurang atau tidak memiliki infrastruktur pengelolaan limbah plastik.

Perluasan infrastruktur tersebut harapannya dapat mencegah kebocoran limbah plastik ke laut dan meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. Ambisi Prevented Ocean Plastic Southeast Asia dalam mengembangkan model berkelanjutan ini dapat menjadi standar terbaik untuk industri daur ulang plastik di Asia Tenggara.

“Realita bahwa harus mengumpulkan sampah plastik dari 17.000 pulau mempersulit betapa rumitnya krisis polusi plastik di Indonesia. Hal ini karena banyak tantangan logistik dan kompleksitas dalam rantai nilai daur ulang limbah plastik,” jelas Rob Kaplan, Founder dan CEO Circulate Capital dalam keterangannya baru-baru ini.

Ia mengaku sangat antusias turut berinvestasi di Prevented Ocean Plastic Southeast Asia dalam membangun jaringan pengumpulan sampah plastik. Terlebih lagi, Prevented Ocean Plastic Southeast Asia akan memenuhi permintaan pasar yang sudah mulai terbuka dan menerima penggunaan plastik daur ulang berkualitas tinggi dan traceable.

“Proyek ini berpotensi menjadi blueprint infrastruktur daur ulang dan ekonomi sirkular terbaik di seluruh kawasan Asia Tenggara,” imbuhnya.

Perkuat Upaya Daur Ulang Limbah Plastik di Kalimantan dan Sulawesi

Indonesia memiliki lebih dari 17.000 kepulauan. Saat ini, 124 juta orang atau 45 % populasi tinggal di luar pusat ekonomi Indonesia, Pulau Jawa. Upaya pengumpulan limbah plastik dari pulau-pulau ini untuk kegiatan daur ulang tentunya sangat menantang dan mahal dalam segi logistik.

Melalui pendanaan dari CCOF, Prevented Ocean Plastic Southeast Asia akan membangun rantai nilai pengumpulan dan daur ulang plastik yang sistematis di beberapa wilayah pesisir luar Jawa, terutama di wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Sebagai bagian dari rencana ini, 12 pusat pengumpulan limbah plastik dan tiga pusat pendukung akan mereka bangun.

Dengan menggabungkan kekuatan unik para mitranya, Prevented Ocean Plastic Southeast Asia berharap dapat dengan sukses membangun pasokan komoditas plastik daur ulang berkualitas premium, bersertifikat dan dapat ditelusuri asalnya (traceable) untuk pasar global.

“Seluruh aktivitas di pusat-pusat pengumpulan limbah juga akan melalui proses audit dan sertifikasi sehingga mendapat akses pasar dan harga premium komoditas plastik daur ulang,” ungkap Rob.

Buka Lapangan Kerja Baru dan Cegah Kebocoran Sampah Ke Laut

Dalam periode 10 tahun, perusahaan ini memperkirakan bahwa aktivitasnya akan dapat mencegah kebocoran 400.000 ton limbah plastik ke laut, menghindari 800.000 ton emisi karbon. Selain itu akan menciptakan 1.000 lapangan kerja dan membuka peluang pendapatan baru bagi ribuan pengumpul limbah plastik.

Pertumbuhan populasi di Indonesia dan perkembangan ekonomi yang pesat telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan yang eksponensial dalam konsumsi plastik. Sistem pengelolaan dan daur ulang sampah plastik di Pulau Jawa sudah relatif lebih mapan, terutama di Jakarta dan Surabaya.

Sementara di kota-kota kecil di dalam dan luar Pulau Jawa masih kekurangan infrastruktur pengumpulan dan daur ulang limbah plastik.

Hal tersebut mengakibatkan tingginya tingkat polusi plastik dan emisi gas rumah kaca. Hampir 72 % dari total polusi plastik di Indonesia berasal dari daerah pedesaan dan kota-kota kecil hingga menengah. Namun, tingkat pengumpulan sampah plastik di daerah pedesaan dan terpencil hanya 20 % atau kurang dari angka tersebut.

Penulis : Ari Rikin

Top
You cannot copy content of this page