44,17 Juta Orang Harus Waspadai Cuaca Ekstrem di Libur Nataru

Reading time: 3 menit
Waspadai cuaca ekstrem jelang Nataru. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Sebanyak 44,17 juta orang penduduk Indonesia akan memanfaatkan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Mereka harus meningkatkan kewaspadaan karena cuaca ekstrem berpotensi melanda sejumlah daerah di Indonesia. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta pemerintah daerah untuk selalu siaga terhadap potensi ini.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, terdapat fenomena anomali dinamika atmosfer yang terjadi secara bersamaan. Kondisi ini akan memicu curah hujan lebat hingga ekstrem.

“Ada empat fenomena yang terjadi bersamaan, dikhawatirkan atau berpotensi mengakibatkan cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia. Terutama di wilayah bagian selatan Indonesia sampai bagian tengah dan timur,” katanya dalam konferensi pers Waspada Potensi Cuaca Ekstrem di Beberapa Wilayah Indonesia Menjelang Natal dan Tahun Baru 2023, Selasa (21/12).

Berdasarkan data analisis cuaca terbaru dalam periode sepekan ke depan akan terjadi peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

Hal tersebut dapat pengaruh dari aktivitas Monsun Asia. Dinamika ini dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat, tengah, dan selatan.

Selanjutnya, potensi seruakan dingin Asia yang dapat meningkatkan kecepatan angin permukaan di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan. Kondisi ini juga akan meningkatkan potensi awan hujan di sekitar Kalimantan, Sumatra, Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara.

Kemudian, ada indikasi pembentukan pusat tekanan rendah di sekitar wilayah perairan selatan Indonesia. Kondisi ini dapat memicu peningkatan pertumbuhan awan konvektif yang masif dan berpotensi menyebabkan hujan dengan intensitas tinggi. Lalu peningkatan kecepatan angin permukaan, serta peningkatan tinggi gelombang di sekitarnya.

Selain itu terpantau aktivitas gelombang atmosfer, yaitu fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang terbentuk bersamaan dengan gelombang Kelvin dan Rossby ekuatorial. Kondisi tersebut berkontribusi signifikan terhadap peningkatan curah hujan di beberapa wilayah Indonesia terutama di bagian tengah dan timur.

BMKG meminta masyarakat mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi dari kondisi cuaca yang terjadi. Foto: Freepik

Potensi Cuaca Ekstrem

Terdapat 12 provinsi yang harus siaga terhadap potensi cuaca ekstrem pada periode 21-23 Desember 2022. Sejumlah provinsi itu antara lain sebagian wilayah Aceh, sebagian wilayah Sumatra Utara, sebagian wilayah Riau. Selain itu sebagian wilayah Jawa Barat, sebagian wilayah Jawa Tengah, dan sebagian wilayah Jawa Timur.

Selanjutnya, sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur, sebagian wilayah Kalimantan Barat, sebagian wilayah Kalimantan Timur. Lalu sebagian wilayah Kalimantan Utara, dan sebagian wilayah Maluku, serta sebagian wilayah Papua.

Sementara pada 24 Desember 2022, sebagian wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan perlu waspada dan siaga.

Potensi hujan dengan intensitas tinggi juga harus diwaspadai dalam periode 25 Desember 2022 hingga 1 Januari 2023. Berbagai wilayah berpotensi mengalami hujan sangat lebat yaitu Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku.

Sedangkan potensi hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi di wilayah Aceh, Lampung, Sumatra Selatan, DKI Jakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua.

Cuaca ekstrem bisa memicu bencana banjir dan longsor. Foto: Freepik

Perkuat Mitigasi Bencana

Dwikorita juga meminta agar pihak-pihak terkait menyiapkan kapasitas infrastruktur serta sistem tata kelola sumber daya air. Hal ini untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan. Sebab cuaca ekstrem akan memicu potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.

Oleh sebab itu, ia juga meminta agar masyarakat pengguna transportasi, baik melalui jalur darat, laut hingga udara untuk terus meningkatkan kewaspadaan akan potensi cuaca ekstrem tersebut.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi. Sebab, saat ini Indonesia memasuki puncak musim hujan 2022-2023.

Ia memperingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan pada jalur mudik Nataru yang akan memotong lereng atau landscape tak datar. Sebab, intensitas hujan bergabung dengan landscape atau lereng akan menimbulkan bencana lain seperti longsor. Selain itu, kejadian rata-rata hujan akan terjadi mulai pukul 13.00 WIB hingga 16.00 WIB.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top