Bangun Jalan Layang, Pemprov Diminta Jangan Korbankan Pohon

Reading time: 2 menit
Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Jakarta (Greeners) – Ibukota Jakarta kini tengah membenahi infrastrukturnya, termasuk mengerjakan proyek angkutan umum massal atau Mass Rapid Transit (MRT) dan jalan layang Blok M-Ciledug yang sedang berlangsung saat ini.

Namun sayangnya, pengerjaan proyek-proyek di Jakarta tersebut masih belum berpihak pada kelestarian lingkungan hidup. Pengamat perkotaan yang juga dosen arsitektur di Universitas Trisakti, Nirwono Joga menyatakan bahwa pengerjaan proyek MRT dan Jalan layang Blok M-Ciledug yang sampai menebang pohon berusia lebih dari 20 sampai 30 tahun adalah kesalahan besar yang dilakukan oleh pihak pengembang.

Menurut Nirwono, jika nanti saat pembangunan proyek tersebut selesai dikerjakan, maka siapapun akan merasa kebingungan bagaimana menanam pohon sebesar itu kembali. Menurutnya, para pengembang tidak memikirkan bahwa keberadaan pohon-pohon besar tersebut telah memberikan sumbangan yang besar bagi lingkungan.

“Jadi, kalau proyek tersebut sudah selesai, kita akan kesulitan untuk menanam pohon sebesar itu,” katanya saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Jumat (27/03).

Pembangunan jalan layang Tendean, Blok M - Cileduk di jalan Wolter Mongonsidi, Jakarta Selatan. Foto diambil Selasa (31/03). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Pembangunan jalan layang Tendean, Blok M – Cileduk di jalan Wolter Mongonsidi, Jakarta Selatan. Foto diambil Selasa (31/03). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Lebih lanjut Nirwono menjelaskan bahwa fungsi dan peran dari keberadaan pohon-pohon besar sangat dibutuhkan oleh manusia dan makhluk hidup lain sebagai penyuplai oksigen. Selain itu, daya serap air yang dilakukan oleh pohon besar itu setidaknya 200 liter air dalam satu hari dan mampu berfungsi sebagai penyerap air saat dalam keadaan hujan.

“Ini hampir tidak pernah dipertimbangkan oleh pengembang, padahal satu pohon butuh 30 tahun untuk tumbuh. Manfaatnya pun banyak, seperti untuk resepan air,” ujarnya.

Hal senada juga diutarakan oleh Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Imam S. Ernawi. Ia mengakui bahwa proyek-proyek yang memakan banyak lahan hijau seharusnya dilakukan dengan strategi yang matang.

Menurut Imam, pembangunan harus dilakukan sesuai dengan keseimbangan lingkungan. Jadi, jika sebuah proyek pembangunan terpaksa harus menebang, maka mereka (Pemprov DKI-Pengembang) harus bersedia mengeluarkan dana lebih untuk mengganti pohon-pohon yang terkena dampak pembangunan tersebut.

“Intinya itu ya keseimbangan. Kalau tidak, bisa habis semua pohon. Bisa hancur Jakarta kita,” tandasnya.

Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini tengah mengebut pengerjaan proyek pembangunan jalan layang Transjakarta koridor XIII rute Kapten Tendean-Blok M-Ciledug. Saat ini, proyek tersebut sudah memasuki tahap pengeboran tiang pondasi di tiga titik, yakni Kebayoran Lama, Taman Puring, dan Kapten Tendean.

Penulis: Danny Kosasih

Top