Pembangunan Indonesia Belum Seluruhnya Berprespektif Bencana

Reading time: 2 menit
Indonesia rawan bencana salah satunya banjir. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Posisi geografis Indonesia yang berada di lintasan ring of fire dan titik pertemuan tiga lempeng besar menyebabkan rawan bencana alam. Namun sayangnya, sebagian besar pembangunan di Indonesia belum memiliki perspektif kebencanaan. 

Manajer Penanggulangan Bencana Walhi Melva Harahap menegaskan hal itu kepada Greeners, di Jakarta, Rabu (13/10). Pernyataan tersebut juga menjadi refleksi pada peringatan hari pengurangan bencana alam sedunia yang diperingati setiap 13 Oktober. 

“Indonesia berada pada titik yang rawan, terdapat banyak patahan. Namun pembangunan di Indonesia tidak mencerminkan hal tersebut. Banyak bangunan yang dibangun begitu saja tanpa kajian terhadap risiko bencana ke depan,” katanya.

Oleh karena itu, saat ini pembangunan berbasis lingkungan dan kebencanaan sangat Indonesia butuhkan. Mulai dari perbaikan kondisi lahan, menciptakan dan memperkuat ekosistem yang tepat dari perdesaan hingga perkotaan. Selain itu juga menjaga lingkungan agar alam bekerja sebagaimana mestinya.

Penanggulangan Bencana dengan Pendekatan Pembangunan

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bencana hidrometeorologi masih mendominasi kejadian bencana di Indonesia. Setidaknya lebih dari 5 tahun terakhir.

Sepanjang tahun 2021 telah terjadi sebanyak 6.235 kejadian bencana di Indonesia. Sedangkan pada tahun 2022 hingga September lalu tercatat sebanyak 2.564 bencana yang sudah terjadi.

Pakar Lingkungan Hidup dari Universitas Indonesia menjelaskan, banjir masuk menjadi salah satu dari tiga bencana hidrometeorologi yang sering terjadi di Indonesia.

“Secara umum, khususnya 3 bencana hidrometeorologi yang utama di Indonesia itu seperti bencana tanah longsor, angin puting beliung, dan banjir itu dalam dua dekade ini meningkat luar biasa,” ungkapnya. 

Bencana hidrometeorologi pada dasarnya memiliki kaitan yang sangat erat dengan perubahan iklim. Curah hujan tinggi, suhu udara, efek gas rumah kaca, hingga kerusakan lingkungan yang semakin masif menjadi pemantik bencana tersebut terjadi.

Peringatan hari pengurangan bencana alam sedunia ini seharusnya jadi pengingat bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Khususnya ntuk membangkitkan kesadaran dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana dari segala sisi, baik informasi, tata ruang, hingga pembangunan.

“Cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir ataupun tanah longsor itu karena dampak perubahan iklim. Sehingga kita perlu mengurangi emisi gas rumah kaca. Kondisi lahan dan tata ruang di Indonesia juga menjadi kontribusi parahnya hal ini,” papar Mahawan.

Tsunami merupakan bencana yang tidak mengenal batas negara. Foto: Shutterstock

Edukasi Masyarakat Lewat Pameran Kebencanaan

Dalam rangka memperingati bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) tahun 2022, BNPB mengadakan pameran kebencanaan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (12/10) kemarin.

BNPB bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk melaksanakan peringatan bulan PRB dengan tema “Bersama Kita Tangguh” dan tagline Bebaya Etam Tegoh.

Pada rangkaian acara ini, terdapat pameran terdiri dari 30 booth yang melibatkan para pegiat kebencanaan. Pameran ini dapat masyarakat kunjungi mulai 12 Oktober sampai 13 Oktober 2022.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Prasinta Dewi mengatakan, pameran pada bulan PRB ini merupakan salah satu sarana pemerintah untuk mengedukasi masyarakat terkait kebencanaan.

“Pameran kebencanaan ini adalah ajang dan media untuk berbagi informasi terkait capaian dan pembelajaran upaya pengurangan risiko bencana,” imbuhnya.

Selain pameran kebencanaan, terdapat pula sesi talkshow dari penggiat kebencanaan untuk berbagi informasi, diskusi, dan memberikan pengalaman terkait isu-isu kebencanaan.

Penulis: Zahra Shafira

Editor : Ari Rikin

Top