KLHK: Keanekaragaman Hayati Penting untuk Sumber Pangan

Reading time: 2 menit
keanekaragaman hayati
Wakil Menteri Administrasi Kehutanan Nasional Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Mr. Zhang Yongli dan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) membuka Talk Show dalam rangka Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia 2019 di yang diselenggarakan di Gedung Manggala Wanabakti, KLHK, Jakarta, Senin (20/05/2019). Foto: KLHK

Jakarta (Greeners) – Untuk memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Dunia 2019 yang bertemakan “Our Biodiversity, Our Food, and Our Health” Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan talkshow “Sustainable use of biodiversity for Our Food and Our Health”. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman bahwa sumber pangan dan nutrisi serta sumber kesehatan sangat bergantung pada keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem.

“Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia 2019 bertujuan meningkatkan pengetahuan dan menyebarkan kesadaran tentang ketergantungan sistem pangan, nutrisi, dan kesehatan kita pada keanekaragaman hayati dan ekosistem yang sehat,” kata Wiratno, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) saat membuka Talk Show dalam rangka Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia 2019 di yang diselenggarakan di Gedung Manggala Wanabakti, KLHK, Jakarta, Senin (20/05/2019).

Wiratno mengatakan bahwa keragaman yang disediakan oleh alam sangat bermanfaat bagi keberadaan dan kesejahteraan manusia sesuai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang telah disepakati oleh negara-negara di dunia. Keanekaragaman hayati (kehati) juga berkontribusi pada mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, restorasi ekosistem, air bersih dan pemberantasan kelaparan di dunia.

BACA JUGA: Kebun Raya Bogor – LIPI Perkenalkan Temuan Tumbuhan Jenis Baru 

Berdasarkan laporan pencapaian Indonesia pada AICHI Biodiversity Target diketahui bahwa sejak tahun 2014 teridentifikasi 470 sumber daya genetik lokal memiliki potensi sumber pangan. Selain itu, adanya perubahan paradigma kehidupan manusia modern saat ini yang menginginkan untuk memanfaatkan kembali hasil alam secara langsung termasuk dalam hal dunia pengobatan, mengakibatkan tingginya permintaan akan produk obat yang berasal langsung dari tumbuhan obat.

“Di zaman modern ini, semakin pesatnya bioteknologi membuka peluang untuk mengembangkan pengobatan modern yang mencakup bioprospeksi bahan aktif dan pengembangan vaksin. Pemanfaatan sumber daya genetik yang meningkat harus dibarengi dengan perlindungan kehati juga,” kata Wiratno.

Sejalan dengan hal tersebut Mr. Zhang Yongli, Wakil Menteri Administrasi Kehutanan Nasional Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang hadir dalam acara tersebut, juga memandang penting upaya melestarikan keanekaragaman hayati bagi Pemerintah RRT. Tiongkok sebagai salah satu negara megabiodiversitas dengan 6.915 vertebrata atau 14% dari jumlah total populasi di dunia serta lebih dari 30.000 spesies tanaman vascular atau 8-12% dari jumlah total populasi di dunia telah mempunyai berbagai peraturan terkait konservasi keanekaragaman hayati.

“Tiongkok telah memiliki peraturan terkait perlindungan keanekaragaman hayati yang didasarkan para peraturan terkait pengelolaan sumber daya alam. Sistem konservasi alam yang berlaku di Tiongkok salah satunya mengatur pengelolaan taman nasional sebagai bagian utamanya. Kunci utamanya ada pada ekologi. Dengan pendekatan ekologi, implementasi proyek konservasi telah berhasil secara komperhensif memperbaiki habitat kehidupan liar di Tiongkok,” kata Zhang.

BACA JUGA: Biopiracy Masih Marak Terjadi, Pemerintah Belum Berpihak pada Konservasi Kehati

Salah satu industri yang memanfaatkan keanekaragaman hayati Indonesia untuk kesehatan dan kecantikan adalah Martha Tilaar Group. Corporate Creative and Innovative, Corporate Advanced Research and Evaluation Centre Head Martha Tilaar Group, Maily mengatakan jika keberlanjutan untuk kehati harus tetap jaga demi keberlangsungan persediaan bahan.

“Kami menjaga dengan cara memanfaatkan alam tanpa merusak, jadi kami meneliti daun atau buah tapi tidak menyakiti tanaman tersebut. Kami juga melatih petani bagaimana cara menanam, memanen dan pasca panen dengan cara yang benar dan memenuhi spesifikasi. Jadi win-win solution, kami mendapatkan bahan baku berkualitas dan petani bisa menyuplai bahan untuk kami bahkan untuk orang lain yang sampai dijual ke luar negeri,” kata Maily.

Penulis: Dewi Purningsih

Top
You cannot copy content of this page