Berwisata Edukasi di TPA Sampah Talangagung

Reading time: 2 menit

MALANG (Greenersmagz) – Deretan Bunga Dahlia berjajar apik di pinggir jalan masuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Talangagung, Malang, Jawa Timur. Tak tercium aroma menyengat sampah seperti biasa tercium di TPA lain. Bahkan, hingga berjarak 50 meter dari kubangan sampah, aroma busuk tak tercium.

Di Selasa pagi, truk pengangkut sampah yang pertama mulai masuk ke area pembuangan, sesampai di lokasi, belasan pemulung nampak sudah siap dengan alatnya masing-masing. Mereka langsung mengurai sampah yang dibuang dari bak truk ke dalam kubangan sampah seluas 100 meter persegi. “Kami pilih sampah organik dan anorganik, ” kata koordinator pemulung TPA Talangagung, Jumali, ditemui di sela-sela kesibukannya, Selasa (16/10/2012) pagi.

Selain kesibukan para pemulung dan truk sampah, mengunjungi TPA Talangagung, kita juga bisa melihat pemanfaatan gas metan yang dihasilkan dari sampah-sampah di sana. Gas metan ini dimanfaatkan untuk memasak oleh 64 kepala rumah tangga di desa tersebut. Instalasinya merupakan bantuan dari pusat dan sudah berjalan hampir setahun ini.

Di area pembuangan sampah, ada sekitar 9 pipa berukuran 4 dim ditanam di tumpukan sampah. Pipa tersebut kemudian disambungkan dengan pipa lain yang berukuran kecil. Mirip instalasi saluran air, pipa-pipa kecil yang ukurannya 1 dim ini sambung-menyambung menuju pusat pengendali tekanan gas metan di TPA. Dari tempat ini, pipa ini kemudian disalurkan menuju rumah-rumah warga dan langsung siap digunakan. “Penggunaan gas metan untuk memasak cukup aman, karena tekanannya rendah,” kata Abdul Khalim, operator penyaluran Gas Metan di TPA Talangagung.

TPA Talangagung ini memang dicanangkan sebagai tempat wisata edukasi bagi para pelajar dan mahasiswa serta masyarakat umum. Dari data TPA, jumlah pengunjung rata-rata berasal dari para pelajar dan mahasiswa, ada juga dari masyarakat umum. Rata-rata pengunjung yang datang ke TPA ini untuk melakukan riset dan belajar. “Ada juga dari luar negeri seperti Malaysia, dan Perancis yang pernah ke TPA ini,” kata Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, Pemerintah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Gunawan.
Menurutnya, ada sekitar 3.500 sampai 3.700 meter kubik per bulan atau sekitar 1,5 ton per hari jumlah sampah yang masuk ke TPA ini. Dari jumlah itu, ber ton-ton gas metan yang terbuang percuma sebelum ada instalasi pemanfaatan gas metan untuk masak rumah tangga.
Pemanfaatan gas metan, katanya, merupakan salah satu upaya untuk meminimalisir dampak pemanasan global. Sebab, gas metan merupakan gas perusak lapisan ozon terbesar di dunia. “TPA ini merupakan satu-satunya yang memanfaatkan gas metan untuk pengganti elpigi,” kata Gunawan.

Para pengunjung juga bisa langsung melihat instalasi pemanfaatan gas metan ke rumah warga, ada 64 titik sambungan dan ditargetkan tahun ini bisa mencapai 140 titik sambungan ke rumah warga. Warga bisa memanfaatkan gas metan ini untuk memasak setiap hari.

Ibu Muslih (70), warga setempat mengaku cukup terbantu dengan adanya pemanfaatan gas metan ini. Meski demikian, dia tetap menggunakan elpigi subsidi 3 kilogram jika sewaktu-waktu aliran gas metan terhenti. “Kadang bisa nyala kadang tidak, tidak bisa menyala sehari penuh,” katanya.

Kendati demikian, pemanfaatan gas metan pengganti elpigi ini dapat diandalkan warga. Sebab setiap hari selalu bisa menyala tergantung pasokan sampah penghasil gas metan. Selain itu, jika dibandingkan dengan elpigi, penggunaan gas metan cukup murah, warga hanya membayar iuran sukarela sebesar Rp 6 ribu per bulan untuk disiapkan jika ada pipa yang bocor. (G17)

Top