Building with Nature, Bentuk Adaptasi Perubahan Iklim di Daerah Pesisir

Reading time: 3 menit
Building with Nature
Struktur pemerangkap sedimen, Desa Timbulsloko, Demak, Jawa Tengah (2016). Foto: Apri Susanto

Pesisir Indonesia merupakan salah satu wilayah paling terdampak perubahan iklim. Kenaikan permukaan laut jadi faktor penyebab bencana pesisir seperti erosi atau abrasi dan banjir pesisir. Bencana tersebut juga berdampak pada kehidupan masyarakat pesisir. Pengelolaan wilayah pesisir di Tanah Air perlu opsi lain khususnya menangani masalah abrasi, rehabilitasi mangrove, dan peningkatan ekonomi masyarakat. Salah satu pilihan pembangunan daerah pesisir adalah Building with Nature (BwN).

Jakarta (Greeners) – Project Coordinator Building with Nature Indonesia, Apri Susanto, menjelaskan program Membangun dari Alam atau Building with Nature (BwN) bisa jadi salah satu metode pembangunan wilayah pesisir. Menurutnya, ekosistem lahan basah di wilayah pesisir memiliki manfaat untuk perubahan iklim. Untuk itu, pembangunan wilayah pesisir harus mempertimbangkan lahan basah yang ada.

“Kawasan ekosistem mangrove ataupun gambut, dapat menyimpan karbon dalam jumlah besar, sehingga bisa menekan pemanasan global. Dan ketika ada gangguan atau alih fungsi ekosistem lahan basah tersebut, maka karbon akan terlepas ke atmosfer,” ujar Apri kepada Greeners.co, Selasa (1/12).

Rehabilitasi Mangrove Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Pesisir

Pada kesempatan yang sama, Apri membabarkan tentang program BwN di wilayah pesisir utara Jawa Tengah khususnya di Kabupaten Demak. Program tersebut telah berjalan dalam kurun waktu lima tahun. Pihaknya membangun sekitar 9 kilometer struktur semi-permeabel (semi-tembus) menyerupai bendungan di pantai yang terkena abrasi. Ini bertujuan untuk memerangkap sedimen serta mengembalikan lahan yang sesuai agar mangrove tumbuh dan berkembang secara alami.

Apri menjelaskan BwN juga bertujuan untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Pihaknya menggandeng kelompok masyarakat untuk menerapkan budidaya mangrove ramah lingkungan tanpa menggunakan bahan kimia. Penggunaan bahan mencakup kompos dan Mikro Organisme Lokal (MoL). Selain itu, pihaknya juga mendorong kelompok masyarakat mengembangkan kawasan eko-wisata mangrove.

Banyak tantangan dalam program BwN selama lima tahun berjalan. Tantangan terbesar menurut Apri adalah penurunan muka tanah di Kabupaten Demak. Mengingat, metode rehabilitas bertujuan untuk mengembalikan lahan melalui pemerangkapan sedimen. Mengatasi hal tersebut, pihaknya mendorong pemerintah baik pusat maupun daerah untuk lebih serius dalam upaya pengurangan penurunan muka tanah, khususnya di wilayah Kabupaten Demak.

“Setelah lima tahun, beberapa lokasi rehabilitasi mangrove sudah menunjukkan sedimentasi serta pertumbuhan mangrove secara alami. Sementara kegiatan budidaya perikanan di tambak dan usaha ekonomi kelompok mulai menunjukkan peningkatan hasil panen. Secara tidak langsung juga meningkatkan pendapatan anggota kelompok,” jelasnya.

Building with Nature

Penerapan Building with Nature sekaligus menggandeng kelompok masyarakat untuk menerapkan budidaya mangrove ramah lingkungan tanpa menggunakan bahan kimia. Foto: Kuswantoro.

Negara Kawasan Asia Berencana Replikasi Praktik Baik Building with Nature

Lebih jauh, Apri mengatakan pihaknya akan mereplikasi dan membagi pengalaman BwN Indonesia ke wilayah tingkat Asia. Meski begitu, seluruh konsepnya tidak serta merta bisa diterapkan di lokasi lain. Bahkan dalam penerapannya, BwN tidak hanya berlaku untuk kawasan pesisir, tapi bisa juga untuk sistem yang lain seperti daerah aliran sungai, pantai berpasir, perkotaan, atau pelabuhan.

“Saat ini kami sedang menginisiasi BwN Asia. Kami sedang merencanakan penerapan BwN untuk sistem yang berbeda di 5 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, India dan China,” ucapnya.

Perlu diketahui, program BwN dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Pembangunan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta konsorsium Wetlands International dan Ecoshape bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Demak. Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP, Hendra Yusran Siry, berharap BwN dan model lainnya dapat memberikan kontribusi nyata terhadap ambisi Indonesia terkait dengan adaptasi perubahan iklim. Selain itu, program tersebut juga dapat meningkatkan ketangguhan masyarakat pesisir.

Hendra menjelaskan pihaknya telah mereplikasi pendekatan Membangun bersama Alam di 13 kabupaten dengan total panjang 23,5 kilometer. Sementara Kementerian PUPR telah membuat panduan terkait rekayasa sipil. Program ini juga telah melakukan pelatihan terhadap delapan universitas dan institusi pengetahuan di Indonesia, untuk membangun kapasitas generasi baru para insinyur, ahli ekologi, pemerintah dan institusi investasi.

“Kami mengundang komunitas global, khususnya investor global dan regional serta institusi finansial. Ini memberikan dukungan hijau dalam mengembangkan dan melaksanakan pendekatan pembangunan yang lebih ramah lingkungan dan multi-manfaat. Sehingga dapat melakukan percepatan adaptasi secara global,” pungkasnya.

Penulis Muhamad Ma’rup

Editor: Ixora Devi

Top