Dana Nusantara Dorong Masyarakat Adat Lebih Sejahtera

Reading time: 2 menit
Peluncuran Dana Nusantara untuk masyarakat adat. Foto: Greeners/Dini Jembar Wardani

Jakarta (Greeners) – Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) meluncurkan Dana Nusantara. Dukungan dana ini diberikan pada masyarakat adat dan komunitas lokal, pelopor pelestari alam Indonesia.

Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Dewi Kartika mengatakan, peluncuran Dana Nusantara ini menjadi momentum untuk menunjukkan solidaritas lintas gerakan dari masyarakat adat, reforma agraria, dan lingkungan.

“Dana Nusantara juga akan membantu komunitas dari sisi penguatan organisasi dan juga membangun kemandirian ekonomi,” katanya di Jakarta, Senin (8/5).

Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan, masyarakat adat dan komunitas melindungi dan mengelola 80 % keanekaragaman hayati dunia. Namun, saat ini dukungan pendanaan untuk mereka masih relatif rendah.

Sebelum peluncuran, Dana Nusantara ini telah diuji coba sejak tahun 2022 di 30 lokasi. Salah satunya telah mencetak produk madu yang komunitas di Sumatra Barat hasilkan. Mewakili Komunitas Pejuang HAM Desa Singkalang, Sumatra Barat, Efda Rianti, merasakan dampak positif dari Dana Nusantara.

“Alhamdulillah kami sudah bisa panen yaitu madu atau galo-galo. Ini merupakan panen saya bersama komunitas. Dengan adanya bantuan ini, ada alternatif pemasukan bagi masyarakat dari aktivitas ekonomi,” ungkap Efda.

Dana Nusantara untuk Selamatkan Lingkungan

Dana Nusantara memiliki kontribusi penting melindungi dan mengelola berbagai aspek lingkungan hidup oleh masyarakat adat serta komunitas lokal. Pendanaan ini diluncurkan dengan dukungan awal sebesar US$ 3 juta dari para filantropi internasional, termasuk Ford Foundation dan Packard Foundation.

Menurut Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi, dukungan Dana Nusantara harapannya bisa berkontribusi dalam mengurangi emisi dan deforestasi.

“Jelas, bahwa 80 % keanekaragaman hayati dunia dilindungi dan dikelola oleh masyarakat Adat dan komunitas lokal. Dengan dukungan pendanaan ini, kami berharap kontribusi dalam mengurangi emisi, deforestasi, dan degradasi hutan akan semakin besar,” ucap Rukka.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Zenzi Suhadi juga menyebut, Dana Nusantara ini membantu masyarakat adat mengelola lingkungan dan sumber daya alam.

Untuk memastikan penggunaan dana ini, tiga organisasi tersebut melakukan monitoring dan turun langsung ke lapangan. 

Tiga LSM dukung pendanaan untuk masyarakat adat yang sudah diujicoba di 30 lokasi. Foto: Greeners/Dini Jembar Wardani

Berpotensi Atasi Krisis Iklim

Sebagai negara yang memiliki hutan tropis terbesar di dunia, Indonesia harapannya mampu menjadi penyangga bumi dan sekaligus menjawab tantangan perubahan iklim saat ini. Tidak sedikit, masyarakat adat dan komunitas lokal telah merasakan dampak dari krisis iklim yang berimbas ke perekonomiannya.

“Dana Nusantara dibutuhkan untuk memberikan dukungan pada masyarakat adat dan masyarakat lokal yang selama ini telah membangun ekonomi, pemulihan lingkungan, menjaga hutan, dan berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim,” ungkap Zenzi.

Menurutnya selama ini masyarakat adat hanya dipandang sebagai objek pembangunan. Padahal mereka memiliki potensi besar satu untuk menjawab krisis iklim.

Bahkan sejak 30 tahun terakhir, Indonesia telah mengalami deforestasi yang besar sementara suhu rata-rata bumi terus meningkat. Artinya mulai hari ini Indonesia butuh penambahan luasan atau pemulihan hutan.

Oleh karena itu, untuk memulihkan hutan yang luas secara cepat, masyarakat adat dan komunitas lokal dapat mengatasinya. Sebab, mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Top