Harga BBM Naik, Benahi Transportasi Publik Ramah Lingkungan

Reading time: 3 menit
Transportasi publik ramah lingkungan perlu didorong. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pertalite, solar dan pertamax naik sejak Sabtu (3/9) lalu. Penyesuaian harga BBM ini hendaknya menjadi momentum pemerintah untuk mengalihkan masyarakat ke transportasi publik yang ramah lingkungan serta memastikan pembangunan infrastrukturnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyebut kenaikan harga BBM tak lepas dari kenaikan harga minyak dunia dan membengkaknya subsidi BBM. Anggaran subsidi serta kompensasi BBM pada tahun 2022 telah meningkat tiga kali lipat, semula Rp 152,5 triliun menjadi Rp 502,4 triliun. Angka ini diprediksi akan terus mengalami kenaikan.

Presiden Joko Widodo juga menyebut, 70 persen subsidi BBM yang sedianya untuk kelompok masyarakat tak mampu malah dinikmati masyarakat mampu dan berkendara mobil. Adapun saat ini, harga BBM subsidi Pertalite resmi naik Rp 2.350, yang sebelumnya Rp 7.650 menjadi Rp 10.000 per liter. Pertamax mengalami kenaikan Rp 2.000, awalnya Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per liter, serta solar subsidi yang naik Rp 1.650, semula Rp 5.150 menjadi Rp. 6.800 per liter.

Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti Jakarta Nirwono Yoga menyatakan, guna meningkatkan kualitas udara, kenaikan BBM ini sangat berdampak signifikan terhadap keberlanjutan transportasi masyarakat. Ia menilai, pemerintah hendaknya mulai mengajak masyarakat beralih ke transportasi yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan transportasi publik.

“Namun, hal ini perlu didorong agar Kemenhub dan pemda di Indonesia membangun transportasi publik yang terintegrasi. Karena hampir sebagian besar kota tidak memiliki sistem transportasi yang cukup baik seperti Jakarta, seperti KRL, MRT hingga Transjakarta,” katanya kepada Greeners, Senin (5/9).

Revitalisasi Trotoar Agar Nyaman Bagi Pejalan Kaki

Selain itu, pemda juga perlu revitalisasi trotoar yang aman dan nyaman, terutama di titik-titik strategis. Mulai dari sekitar pemukiman, pusat-pusat sekolah, kantor dan pasar. “Masyarakat juga perlu diajak terbiasa berjalan kaki dalam jarak dekat agar tak bergantung dengan kendaraan bermotor,” imbuhnya.

Tak hanya itu, masyarakat perlu memprioritaskan kendaraan ramah lingkungan, seperti bersepeda. Sepeda sejatinya harus menjadi salah satu transportasi publik yang tak hanya untuk olahraga saja. Akan tetapi, mendorong masyarakat tak lagi menggunakan kendaraan bermotor. “Misalnya dengan adanya jalur sepeda yang baik maka mereka pasti beralih ke sepeda,” kata dia.

Nirwono menyebut, pengalihan ke moda transportasi publik turut mengurangi tingkat polusi udara. Itu artinya langkah ini dapat membuat kualitas udara lebih bersih dan sehat. Hal lain yang tak kalah penting, agar pemerintah daerah mengembangkan kawasan rendah emisi atau bebas kendaraan bermotor. Terutama di pusat-pusat kegiatan seperti perkantoran, pusat perbelanjaan hingga tempat wisata.

Sementara Pakar Lingkungan Hidup dari Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa menilai, peralihan ke transportasi publik lebih murah dibanding kendaraan pribadi. Sebab konsumsi energi per kapita untuk transportasi publik lebih kecil daripada kendaraan pribadi.

“Prioritas masyarakat itu lebih pada pilihan ekonomi, baru kedua sadar atau tidaknya terhadap transportasi ramah lingkungan,” kata Mahawan.

Bersepeda jangan hanya sekadar berolahraga tapi juga mendorong transportasi bebas emisi. Foto: Puan-Puan Bersepeda

BBM Naik Momentum Kurangi Emisi

Senada dengan Nirwono, ia menilai pemda harus memastikan infrastruktur dengan memprioritaskan transportasi publik yang tak sekadar memenuhi kebutuhan masyarakat. “Akan tetapi juga yang berorientasi agar tak macet. Seperti angkot-angkot yang justru membuat macet,” imbuhnya.

Selain itu, Mahawan juga menekankan agar momentum ini dapat menumbuhkan ekosistem kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan. Saat ini, ia menilai sudah mulai banyak sepeda listrik, sepeda motor listrik hingga mobil listrik.

Akan tetapi, pemerintah perlu memastikan infrastrukturnya agar ekosistemnya kendaraan listrik bisa tumbuh. “Ini perlu proses transisi, transformasi menuju kendaraan listrik. Indonesia harus bisa memproduksi dan membangun infrastruktur kendaraan listrik ini lebih baik,” ucapnya.

Mahawan menambahkan, momentum kenaikan harga BBM ini juga hendaknya mendorong masyarakat untuk mengurangi emisi dan mengefisiensi penggunaan sumber daya yang ada.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top