Gerhana Matahari Total 1983, Masa Kelam Fenomena Alam

Reading time: 3 menit
Fenomena gerhana matahari total. Ilustrasi: Ist.

Jakarta (Greeners) – Pada tanggal 9 Maret 2016 mendatang, sebagian wilayah Indonesia akan menjadi jalur yang dilewati oleh Gerhana Matahari Total. Tidak tanggung-tanggung, sekitar 11 Provinsi akan menjadi tuan rumah fenomena eksotis tersebut. Bila saat ini fenomena Gerhana Matahari Total mendapat perhatian luar biasa baik dari masyarakat Indonesia maupun internasional, suasana yang sangat berbeda terjadi pada di tahun 1983.

Pada tanggal 11 Juni 1983, Gerhana Matahari Total melintasi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, pada saat itu, fenomena alam ini tidak bisa dinikmati oleh masyarakat. Saat itu, pemerintah gencar melakukan pelarangan dan kampanye kepada masyarakat agar tidak menatap matahari saat gerhana matahari terjadi. Kampanye yang pemerintah lontarkan saat itu adalah menyaksikan Gerhana Matahari Total dapat menyebabkan kebutaan.

“Himbauan ini disampaikan oleh Menteri Penerangan Harmoko yang menginstruksikan masyarakat agar menyaksikan gerhana lewat siaran langsung TVRI atau mendengarkan siaran di Radio Republik Indonesia (RRI) saja,” cerita Ahli Astronomi Indonesia yang juga Guru Besar Astronomi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Bambang Hidayat kepada Greeners, Jakarta, Senin (07/03).

Ahli Astronomi Indonesia yang juga Guru Besar Astronomi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Bambang Hidayat. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Ahli Astronomi Indonesia yang juga Guru Besar Astronomi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Bambang Hidayat. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Bambang sendiri adalah satu dari beberapa astronom Indonesia yang menentang pelarangan tersebut. Menurutnya, melalui himbauan tersebut, pemerintah justru menimbulkan ketakutan seolah matahari berubah menjadi berbahaya ketika gerhana terjadi. Padahal, ia menegaskan kalau gerhana adalah peristiwa yang lazim terjadi.

“Setiap tiga kali dalam setahun bisa terjadi gerhana (matahari) sebagian dan setiap 18 bulan sekali ada gerhana total. Tempatnya saja yang berpindah-pindah. Sedangkan setiap kali gerhana matahari melewati Indonesia, peristiwanya selalu terekam dengan baik dalam berbagai dokumen, termasuk pemberitaan di media massa. Dari semua kejadian itu, tak ada catatan adanya kebutaan karena gerhana,” tegasnya yang kala itu menjabat sebagai Direktur Observatorium Bosscha Lembang.

Parahnya, lanjut Bambang, himbauan yang menurut Harmoko adalah instruksi langsung dari Presiden Soeharto itu diulangi oleh pejabat di pusat hingga pengurus RT di daerah yang dilintasi gerhana seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kampanye larangan menonton gerhana ini dipimpin langsung oleh gubernur atau wakil gubernur.

Setiap kelurahan di provinsi-provinsi itu bahkan menyiapkan 75 orang penyuluh yang berkeliling setiap hari mengingatkan agar jangan menonton gerhana. Kecemasan akan naiknya angka orang buta akibat gerhana juga muncul di media cetak. Harian Kedaulatan Rakyat pada 10 Juni 1983 memuat artikel berjudul “Kini di Indonesia Ada 1.911.000 Orang Buta, Setelah GMT Berapa?”

“Kampanye ini berjalan ampuh karena saat gerhana jalan-jalan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur sepi. Mayoritas orang sembunyi di dalam rumah,” katanya melanjutkan.

(Selanjutnya…)

Top
You cannot copy content of this page