Habitat Satwa Endemik Kian Rusak dan Terancam Punah

Reading time: 2 menit
Ilustrasi habitat satwa endemik. Foto: Shutterstock
Ilustrasi habitat satwa endemik. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Habitat satwa endemik kini kondisinya kian terancam. Itu imbas banyaknya perubahan penggunaan lahan. Hal ini dapat mengakibatkan hilangnya habitat alami dan punahnya satwa endemik.

Satwa endemik merupakan hewan yang berasal dari suatu wilayah tertentu secara alami dan tidak ditemukan di wilayah lain. Misalnya, harimau sumatra, orangutan, gajah kalimantan, dan sebagainya.

Baru-baru ini, media sosial ramai dengan sebuah tayangan satwa endemik induk dan anak orangutan berjalan melewati proyek jalan di kawasan Sangatta, Kalimantan Timur. Melansir tayangan pada Indoflashlight, terdapat kasus serupa yang juga terjadi pada satwa harimau sumatra yang direkam di perkebunan kelapa sawit. Hal ini diduga akibat kekurangan makanan berupa babi hutan di habitat aslinya.

BACA JUGA: Kepunahan Owa ungko di Depan Mata

Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian Universitas Nasional, Tatang Mitra Setia menduga lokasi yang dilintasi orangutan merupakan jalur lintasnya untuk melakukan aktivitas. Menurutnya, satwa orangutan semestinya melintas bebas dari proyek tersebut.

“Habitatnya sudah terfregmentasi terpaksa jalan di atas tanah. Demikian juga pada harimau, kemungkinan mangsa di alam sudah menipis terpaksa untuk perkebunan,” ungkap Tatang kepada Greeners, Minggu (8/10).

Menurut Tatang, terjadinya fregmentasi habitat ini akibat pembangunan dan kegiatan ilegal manusia. Hal itu dapat mengisolasi populasi satwa endemik, mengurangi potensi perkembangbiakan, dan meningkatkan risiko kepunahan.

“Hal ini akan memengaruhi penjelajahan hewan endemik,” lanjut Tatang.

Ilustrasi habitat satwa endemik. Foto: Freepik

Ilustrasi habitat satwa endemik. Foto: Freepik

Perubahan Iklim Ancam Habitat Satwa

Sementara itu, ancaman bagi habitat satwa endemik tidak hanya soal perambahan lahan. Perubahan iklim juga mengancam habitat satwa endemik.

“Perubahan iklim dapat memengaruhi kondisi habitat alami dan menyebabkan perubahan suhu, pola curah hujan, dan intensitas cuaca ekstrem, yang dapat memengaruhi ketersediaan pakan dan air bagi satwa endemik. Dari data penelitian Fenologi terlihat ada pergeseran musim buah sebagai sumber pakan,” jelas Tatang.

Tatang menambahkan, ancaman lainnya juga masih banyak menimbulkan kerusakan habitat satwa endemik. Misalnya, adanya spesies-spesies invasif  yang ada campur tangan manusia. Hal itu bisa mengganggu ekosistem asli dan mengancam kelangsungan hidup satwa endemik dengan bersaing untuk sumber daya pakan yang semula cukup, tetapi didominasi secara cepat.

“Misalnya, invasi tumbuhan langkap di habitat badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon dan meningkatnya tumbuhan akasia di Taman Nasional Baluran,” tambah Tatang.

Kesesuaian Ekologis: Habitat Satwa Ideal

Satwa endemik adalah spesies yang hanya ada di wilayah geografis yang terbatas. Oleh sebab itu, sudah beradaptasi khusus terhadap lingkungan tertentu. Habitat ideal bagi satwa endemik adalah habitat asli yang mempunyai kesesuaian ekologis.

“Habitat ideal harus menyediakan kondisi ekologis yang sesuai dengan kebutuhan spesies tersebut. Termasuk suhu, curah hujan, jenis keanekaragaman tumbuhan pakan dan tempat berlindung, serta sumber air dan ruang gerak untuk menjelajah,” imbuh Tatang.

BACA JUGA: Badak Sumatra, Badak Terkecil yang Tubuhnya Berambut

Namun, lanjutnya, kini banyak satwa endemik keluar dari habitat asli akibat sudah terfragmentasi. Kemudian, pakan tumbuhan atau mangsa sudah menipis dan hewan pun perlu jelajah luas untuk mencari pasangan.

Oleh karena itu, kata Tatang, untuk menjaga agar satwa bisa hidup di dalam habitatnya, perlu pengelolaan secara ekologis. Misalnya, jika sudah terfregmentasi perlu membuat koridor sebagai tempat lalu lintas satwa.

“Jika habitat satwa terabaikan dan terampas oleh kepentingan manusia justru sangat berpengaruh pula dalam kehidupan manusia. Misalnya, hewan predator mendekati perkampungan untuk mencari makanannya. Ini akan mengganggu hewan ternak dan pertanian masyarakat,” ungkapnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top