Hutan Campuran Mungkin Tidak Tahan terhadap Perubahan Iklim

Reading time: 2 menit
hutan campuran
Ilustrasi. Foto: freepik.com

LONDON, 4 Desember 2017 – Para peneliti asal Jerman telah mengonfirmasikan sekali lagi bahwa hutan yang baik adalah hutan campuran yang alami dengan beragam spesies. Semakin beragam suatu hutan, semakin baik fungsinya sebagai hutan. Hutan yang memiliki jumlah spesies beragam akan tumbuh pada tingkat yang lebih cepat, menyimpan lebih banyak karbon, dan lebih tahan terhadap serangga dan penyakit, menurut penelitian yang dilakukan oleh enam negara di hutan Eropa.

Namun, pendekatan dengan jumlah aman spesies mungkin tidak bisa menawarkan perlindungan yang cukup terhadap perubahan iklim dan dampaknya yang seharusnya diprediksi oleh penelitian semacam itu. Penelitian lanjutan oleh para peneliti Eropa menyarankan bahwa ketika kondisi menjadi sangat basah atau sangat kering, keanekaragaman mungkin tidak bisa memberikan ketahanan secara otomatis.

Pesannya adalah sistem hutan yang sehat, beragam dan alami tetap penting sebagai bufer terhadap perubahan iklim – juga iklim ekstrim dapat menurunkan kapasitas hutan untuk bisa menyerap karbon dan membatasi pemanasan global.

Inti dari kedua penelitian ini adalah kekhawatiran yang mendalam terkait respon alam terhadap perubahan yang dibuat oleh manusia, perusakan habitat, hilangnya tanaman, burung, serangga, mamalia, amfibi dan reptil yang bergantung kepada habitat dan pada kenaikan level gas rumah kaca yang stabil di atmosfer sebagai konsekuensi dari pembakaran bahan bakar fosil.

Penelitian berulang kali menunjukkan bahwa hutan di dunia berada dalam ancaman. Penelitian berulang kali juga menunjukkan bahwa hutan alami yang tidak terganggu bisa memberikan dampak ekonomi yang besar. Dan penelitian berulang kali mengonfirmasikan bahwa kenaikan suhu global merupakan ancaman bagi keragaman tanaman di seluruh bumi secara umum, dan di Eropa khususnya.

Para peneliti di Centre for Integrative Biodiversity Research di Jerman menuliskan laporan di jurnal Ecology Letters bahwa mereka telah memilih plot hutan di Jerman, Finlandia, Polandia, Romania, Italia, dan Spanyol. Dari plot-plot tersebut, jumlah spesies beragam, mungkin ada satu atau lima spesies. Plot Jerman, contohnya, merupakan rumah bagi pohon beech, ek, burung cemara, pohon birch dan pohon hornbeam.

Para peneliti mengukur 26 fungsi pada plot-plot tersebut yang mungkin bisa menjawab pertanyaan terkait dengan nutrien, siklus karbon, pertumbuhan dan ketahanan serta regenerasi pohon. Tegakan pohon dengan jumlah spesies yang tumbuh lebih cepat dan tahan terhadap hama dan serangan penyakit lebih baik daripada yang hanya sedikit spesies.

Christian Wirth, direktur center dan kepala departemen untuk botani sistematis di Universitas Leipzig, mengatakan, “Musim panas kami akan menjadi lebih kering dan lama sebagai akibat dari perubahan iklim. Dengan demikian kami berasumsi di masa depan, ini akan lebih penting untuk mengelola hutan dengan anggapan bahwa mereka memiliki keragaman tinggi.”

Jawaban beragam

Namun, sebuah studi diterbitkan di Journal of Ecology memperlihatkan bahwa jawabannya tidaklah sesederhana seperti yang diperkirakan.

Para peneliti yang dipimpin oleh Hans de Boeck dari University of Antwerp melaporkan bahwa mereka melihat berbagai penelitian yang disebut sebagai stabilitas ekosistem dan keanekaragaman hayati saat iklim ekstrim — yaitu panas yang tidak biasa, kekeringan atau banjir.

Jawabannya, mereka menyimpulkan, sangat beragam. Ada beragam keanekaragaman hayati di ekosistem yang terlihat lebih cepat pulih setelah mengalami kejadian iklim ekstrim, namun apabila kejadian tersebut sangat ekstrim maka mungkin tidak bisa memberikan banyak perlindungan.

Hubungan antara keragaman dan ketahanan tidaklah selalu jelas. Para peneliti memiliki banyak pertanyaan untuk dijawab.

Dalam bahasa sains yang kaku, para peneliti menyimpulkan bahwa “ada banyak pengecualian yang tidak sepele terhadap pengetahuan umum yang diketahui bahwa keanekaragaman hayati meningkatkan stabilitas. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah konsep stabilitas keanekaragaman hayati yang ada saat ini diturunkan dari konteks fluktuasi ringan ke kejadian ekstrim.” – Climate News Network

Top
You cannot copy content of this page