Karena Kecewa, Dua Peraih Kalpataru Kembalikan Penghargaan

Reading time: 2 menit

Jakarta (Greeners) – Dua peraih penghargaan Kalpataru yaitu Marandus Sirait dan Hasoloan Manik, serta Wilmar Simanjorang, peraih penghargaan Wana Lestari mengembalikan penghargaan tersebut kepada pemerintah. Selain peraih Kalpataru, Maradus Sirait juga merupakan peraih penghargaan Wana Lestari.

Mereka mengembalikan penghargaan Wana Lestari kepada Menteri Kehutanan di Kantor Kementerian Kehutanan di Senayan, Jakarta pada Selasa (3/9). Dan beranjak ke Istana Negara untuk mengembalikan penghargaan Kalpataru.

Mereka mengembalikan penghargaan tersebut karena merasa kecewa terhadap pemerintah yang tidak peduli terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi yaitu, seringnya pembalakan hutan di wilayah Samosir dan Toba Samosir, Sumatera Utara. Mereka bersama komunitasnya tgelah mengirimkan surat untuk melaporkan hal tersebut kepada pemerintah yaitu kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Kehutanan, Menteri Lingkungan Hidup, Kapolri, Gubernur Sumatra Utara, dan sebagainya.

Mereka mengatakan pengembalian Kalpataru dan Wana Lestari merupakan bentuk kekecewaan mereka atas perilaku aparat pemerintah yang belum menunjukan keseriusannya dalam melestarikan lingkungan dan hutan. Mereka merasa terbebani dengan penghargaan tersebut dan merasa malu kepada masyarakat di tanah batak lainnya yang masih mengalami penderitaan akibat kerusakan hutan dan lingkungan serta ketidak pedulian pemerintah.

“Kondisi lingkungan yang terkait dengan keberadaan hutan serta ekosistem yang baik merupakan karunia Tuhan yang tidak bisa dinilai dengan uang, sehingga kami kecewa dengan kebijakan pemerintah yang abai terhadap upaya pelestarian yang kami lakukan,” kata Wilmar Eliaser Simandjorang melalui rilis Walhi yang diterima Greeners.

Sedangkan Marandus Sirait mengatakan mereka tidak meminta banyak dari pemerintah. “Kami hanya minta mereka juga konsisten dan bersama-sama masyarakat turut melindungi lingkungan yang ada serta tidak membiarkan praktek perusakan lingkungan terjadi bahkan memfasilitasi praktek perusakan itu dengan memberikan ijin-ijin konsesi kepada perusahaan-perusahaan yang merusak hutan dan lingkungan,” katanya.

Sementara Hasoloan Manik mengatakan kerusakan hutan dan lingkungan yang terjadi membawa dampak buruk bagi masyarakat. “Belum lagi hutan-hutan warisan nenek moyang kami yang telah berjasa menghidupi generasi ke generasi dirusak dan diambil begitu saja berdampak pada penghancuran nilai-nilai luhur yang telah turun-temurun diwariskan oleh nenek moyang,” katanya.

Pengkampanye Hutan WALHI, Zenzi Suhadi mengatakan  pemerintah harusnya sadar, bahwa pemberian penghargaan saja tidak cukup. “Pelibatan masyarakat dalam melestarikan hutan dan lingkungan hendaknya dinilai dengan penghargaan yang lebih tinggi, penghargaan atas Hak Hidup dan Hak untuk mendapatkan penghidupan yang layak serta Lingkungan yang baik dan sehat,” kata Zenzi.

Dia mengatakan pengembalian penghargaan oleh ketiga tokoh tersebut merupakan ekspresi masyarakat pada umumnya yang merasa diabaikan oleh sikap tidak tegas pemerintah dalam menegakan hukum lingkungan, melestarikan lingkungan dan memberikan pengakuan atas hak masyarakat adat/local dalam mengelola hutan. (G02)

Top