Komunitas Seniman Malang Tolak Revitalisasi Hutan Kota Malabar

Reading time: 2 menit
Komunitas seniman yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Hutan Kota Malabar menggelar aksi dukungan penolakan revitalisasi Hutan Kota Malabar. Foto: greeners.co

Malang (Greeners) – Komunitas seniman dan masyarakat Kota Malang yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Hutan Kota Malabar menggelar aksi dukungan penolakan revitalisasi hutan seluas 16.000 meter per segi. Aliansi juga menggalang dukungan melalui situs change.org yang saat ini sudah mencapai tiga ribu lebih dukungan.

Aksi yang dilakukan di Taman Merbabu, Kota Malang, Minggu (23/8/2015) lalu tersebut bermaksud mengajak dan mengedukasi masyarakat akan pentingnya keutuhan hutan kota satu-satunya di Kota Malang ini. Beberapa orang membagikan kertas kosong kepada para pengunjung taman yang sedang menyaksikan penampilan para seniman.

Salah seorang seniman terlihat melakukan pembacaan puisi berbahasa Jawa. Makna puisi tersebut adalah meminta kepada penguasa alam agar memberikan kesuburan bagi bumi dengan menurunkan hujan. Sebab, bumi sekarang sedang dalam kondisi yang hampir mati akibat ulah manusia.

Foto: greeners.co

Foto: greeners.co

Mbah Kardjo, yang bernama asli Syamsul Subakri tampak semangat membacakan puisi dan diakhiri dengan melepas burung yang disimbolkan sebagai duta untuk menyampaikan kabar kondisi bumi yang sekarat. “Burung dikirim sebagai duta ke langit untuk membawa pulang mendung yang menggantung sehingga bisa membasahi negeri,” kata Mbah Kardjo, usai penampilannya.

Sementara itu, Koordinator Aliansi, Aji Prasetyo mengungkapkan, selain menggalang dukungan melalui situs change.org, mereka juga ingin melihat tanggapan masyarakat Kota Malang terkait revitalisasi Hutan Kota Malabar. “Kita bagikan kertas kosong untuk mengetahui harapan dan tanggapan masyarakat,” kata Aji.

Setelah pengunjung mengisi kertas tersebut, kertas itu akan ditempelkan di kertas karton seukuran dua meter dan akan dibawa saat kajian kasus bersama akademisi dan Pemkot Malang yang rencananya akan digelar pada tanggal 26 Agustus 2015 (hari ini).

“Kita hadirkan ahli lingkungan dan hukum untuk beradu argumen. Siapa tahu kebijakan ini bisa diubah,” katanya.

Salah satu anggota komunitas Muni Suri yang turut menggelar aksi, Vania Wibisono, berharap Hutan Kota Malabar yang saat ini akan dibangun sebagai taman kota akan mengubah fungsi ekologis hutan itu sendiri. Menurut Vania, saat ini banyak ruang terbuka hijau di Kota Malang yang berubah menjadi pusat-pusat perbelanjaan dan hotel.

Foto: greeners.co

Foto: greeners.co

Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Malang, M. Nurwidianto menjelaskan bahwa latar belakang revitalisasi hutan kota ini karena beberapa hal, seperti adanya kerusakan infrastruktur drainase dan pendangkalan kolam reservoir, minimnya instalasi penerangan, akses yang tidak memadai dan kurang ramah masyarakat, serta maraknya tindak kriminal yang terjadi di dalam Hutan Malabar.

Menurutnya, revitalisasi ini dalam desainnya akan menguatkan fungsi ekologis dengan mengoptimalisasi drainase, optimalisasi fungsi kolam reservoir dengan normalisasi pembuatan bendungan, dan penataan vegetasi endemik dengan penambahan 800 perdu dan 100 pohon.

“Perbaikan akses jalur pejalan dan pembuatan jalur khusus difabel serta penambahan rumah pohon dan jalur jembatan pohon,” katanya.

Optimalisasi fungsi edukasi juga akan dilakukan dengan pembuatan edukasi rumah kompos, penambahan area tematik pohon dan penamaan flora, pembuatan jembatan observasi di atas kolam reservoir. Selain itu, juga ada penambahan jogging track di area keliling hutan Malabar dan sepeda, dan pembuatan vertical garden dari bahan daur ulang.

Penulis: HI/G17

Top
You cannot copy content of this page