Berujung food waste, Padahal Bisa Dikonsumsi 61 Juta Orang

Reading time: 3 menit
Pemborosan makanan akan berujung pada food waste. Padahal sumber pangan itu bisa mencukupi gizi masyarakat yang tak beruntung. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Berdasarkan data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), setiap hari masyarakat Indonesia menghasilkan sampah makanan (food waste). Bahkan per tahunnya bisa mencapai 184 kilogram (kg).

Rinciannya sebanyak 55-60 % yaitu sampah makanan konsumsi. Sedangkan 45-50 % merupakan sampah produksi. Secara ekonomi makanan yang terbuang bisa mencapai 4-5 % produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Persentase tersebut setara dengan angka untuk memberi makan 61 juta sampai dengan 125 juta orang.

Sementara total timbunan food loss and waste (FLW) tahun 2021 yaitu mencapai 45 juta ton atau setara dengan 165 kg/kapita/tahun.

“FLW terbesar terdapat pada tahapan konsumsi yaitu sebesar 18 juta ton atau setara dengan 65 kg/kapita/tahun,” ungkap Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/ Bappenas Medrilzam kepada Greeners di Jakarta, Selasa (25/1).

Kondisi ini menjadi pengingat bagi masyarakat bertetapan dengan hari gizi nasional setiap 25 Januari. Kesesuaian antara keseimbangan gizi dan porsi makan yang tubuh butuhkan hendaknya menjadi prioritas demi mengurangi pemborosan makanan.

Spesialis Gizi Klinis dokter Samuel Oetoro juga mengingatkan hal itu, bertepatan dengan peringatan hari gizi nasional. Dia menyebut, makanan mubazir atau food waste bermula karena masyarakat tak mampu menyesuaikan antara keinginan dan porsi yang berlebihan.

“Kalau kita tahu porsi dan nutrisi asupan tubuh kita, itu lebih bagus. Jadi makanan tak terbuang,” ucapnya.

Banyak Orang Belum Dapat Kecukupan Gizi

Doker Samuel menambahkan, saat ini masih terdapat banyak orang yang belum mendapat asupan gizi yang tepat, bahkan, belum layak.

“Tapi bukan berarti kita memberikan sisa makanan. Kita tak boleh berlebihan karena ternyata masih banyak lho orang yang belum memenuhi asupan gizi secara tepat dan lengkap,” ujarnya.

Asupan yang lengkap terdiri atas berbagai komponen, seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, serta sayur. Adapun untuk takaran tiap asupan disesuaikan dengan kebiasaan makan yang ada dalam masyarakat Indonesia.

Misalnya, pemenuhan karbohidrat yang cukup tinggi, yakni 50-65 %. Menurut Samuel, ini berlaku sebab sejak kecil orang Indonesia terbiasa makanan karbohidrat. Sementara untuk lemaknya 20-30 %, protein antara 10-20 %. “Tapi makanannya harus dipilih, karbo juga harus kompleks dan sehat. Harus banyak makan buah dan sayur. Itu menyehatkan dan tinggi serat,” imbuhnya.

Dalam menjalankan komitmennya, pemerintah berupaya untuk mengatasi makanan mubazir. Salah satunya yaitu menjalin kerja sama dengan food and beverage dengan memastikan makanan yang masih bagus dari restoran dan hotel.

Selain itu, food waste juga berpengaruh terhadap emisi gas rumah kaca (GRK). Makanan yang terbuang menghasilkan 1,73 giga ton CO2 atau rata-rata 7 % dari total emisi GRK Indonesia dalam setahun.

Sampah makanan juga akan meningkatkan gas metana menyumbang emisi gas rumah kaca. Foto: Shutterstock

Perilaku Konsumtif Jadi Pemicu Food Waste

Pengkampanye Urban Berkeadilan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Abdul Ghofar menyebut, food waste turut berkontribusi terhadap peningkatan emisi metana yang mengakibatkan krisis iklim.

“Jika dihitung akumulatif, kontribusi food waste and loss di bawah 7 %, artinya lebih kecil dibanding sektor lain seperti energi dan forest and other land used (FOLU),” kata dia.

Kendati demikian, kebiasaan menyisakan makanan yang mengakar dalam masyarakat Indonesia bisa berdampak lebih besar dalam krisis iklim. Oleh karenanya, sambung Abdul penting untuk memastikan literasi mengenai dampak sisa makanan baik secara ekonomi maupun lingkungan.

“Minimnya literasi ini menyebabkan kebiasaan kelebihan porsi dan atau tidak menghabiskan makanan, terutama saat makan di restoran jadi hal yang lumrah,” tuturnya.

Perilaku masyarakat yang konsumtif, sambungnya menjadi pemicu utama fenomena ini. Misalnya, perilaku menumpuk bahan makanan (kelebihan stok) di luar kebutuhan faktual. “Akhirnya banyak bahan makanan yang membusuk sehingga tidak bisa dimanfaatkan dan berakhir menjadi sampah sisa makanan,” paparnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Top
You cannot copy content of this page