Maggot Si Pemakan Sampah Organik Kini Populer Jadi Pakan Ternak

Reading time: 2 menit
Budi daya maggot mulai populer di masyarakat. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Budi daya maggot atau belatung yang mengonsumsi sampah organik kini menjamur di masyarakat, petani, hingga peternak. Salah satu pemanfaatannya untuk pakan ternak.

Maggot adalah larva berupa ulat dari lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF). Larva ini mudah berkembang biak di Indonesia karena beriklim tropis.

Mengutip berbagai sumber, maggot (larva) dari BSF sangat rakus dalam masa pertumbuhannya. BSF sangat berbeda dengan lalat rumah yang biasa masyarakat kenal. BSF biasanya berada di luar ruangan khususnya tempat yang mengandung bahan organik.

Meskipun memakan sampah organik, maggot tidak mengandung bakteri berbahaya. Bakteri dari sampah akan mati saat dimakan pada fase larva.

Siklus hidupnya berawal dari telur maggot, menetas dalam waktu satu minggu kemudian menjadi larva atau baby maggot. Lalu dikembangkan di tempat pembesaran maggot (biopond) selama 21 hari dan diberi pakan sampah organik.

Saat memasuki fase prepupa, selama 14 hari maggot tidak makan untuk menjadi pupa. Setelah itu memasuki fase pupa dan maggot memerlukan waktu 3-7 hari untuk bermetamorfosis menjadi BSF. Pejantan memiliki waktu tiga hari untuk berkembang biak dengan lalat betina.

Selepas perkembangbiakan, lalat jantan akan mati dan lalat betina akan mengikuti jejak pejantan setelah proses bertelur. Begitu seterusnya siklus tersebut berulang.

Solusi Kurangi Sampah Organik

Ketua Asosiasi Black Soldier Fly Indonesia, Agus Pakpahan mengatakan, kegiatan pengolahan sampah organik dengan menerapkan teknologi biokonversi BSF sudah mulai masyarakat lakukan.

“Bahkan perusahaan besar juga sudah ada yang mengolah sampah organik, khususnya sisa-sisa makanan menjadi kompos,” kata Agus kepada Greeners baru-baru ini.

Keunggulan budi daya maggot bergantung dari sampah organik yang mereka konsumsi. Oleh karena itu, sampah yang mereka makan akan berpengaruh terhadap protein si maggot.

Peternak Maggot asal Ciamis, Jawa Barat, Taufik menilai maggot berperan besar terhadap lingkungan. Maggot bisa mengurangi sampah organik. Lalu maggot bisa jadi pakan utama hewan ternak.

“Jadi, kalau misalkan pakan ikan mahal, bisa digantikan oleh maggot,” imbuh Taufik.

Sebagai peternak maggot, ia bahkan rela berebut sampah di pasar untuk dijadikan pakan maggot. Guna memudahkan maggot mengonsumsi sampah organik, perlu peleburan sampah tersebut.

Taufik menjelaskan, sampah yang telah dikumpulkan akan dipilah terlebih dahulu, lalu digiling hingga teksturnya menjadi seperti bubur. Hal ini memengaruhi pertumbuhan maggot menjadi lebih cepat.

Black soldier fly. Foto: Shutterstock

Miliki Nilai Ekonomi

Hingga kini maggot juga memiliki potensi ekonomi lain. Misalnya dibuat menjadi tepung maggot yang berpotensi sebagai sumber protein alternatif selain ikan.

Dari segi pemodalan, bisnis ini sifat teknologinya linier atau berskala kecil hingga besar. Menurut Agus, untuk fasilitas lengkap dengan standar industri per 1 ton kapasitas pengolahan, modal bisnisnya sekitar Rp 1 miliar.

Namun, sampah yang tercampur masih menjadi tantangan budi daya maggot. Taufik yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Maggot Ciamis, berharap pemerintah bisa bersinergi bersama peternak untuk mengatasi masalah ini.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Top