Urai Sampah Organik Pemudik di Rest Area dengan Maggot

Reading time: 2 menit
Maggot pengurai ampuh sampah makanan. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Mudik menjadi tradisi menjelang perayaan lebaran atau Idul Fitri. Tahun ini, Presiden Jokowi memprediksi jumlah pemudik mencapai 123 juta orang. Aktivitas perjalanan mudik pun diperkirakan memicu potensi timbulan sampah organik dan anorganik di tempat persinggahan sementara (rest area) maupun tempat asal pemudik.

Tahun 2022, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengungkap, selama dua minggu perayaan jelang dan setelah Idul Fitri timbulan sampah baru mencapai 35 juta ton.

Salah satu alternatif solusi mengantisipasi sampah yakni melalui fasilitas pengolahan sampah organik dengan teknologi bio-conversion memanfaatkan lalat tentara hitam maggot atau Black Soldier Fly (BSF) di rest area Cibubur.

Rest area K-F Flies Aliansi BSF Indonesia ini merupakan rest area pertama di Indonesia yang menerapkan fasilitas ini. Rest area ini dikelola oleh PT Bimaruna Marga Jaya, bagian usaha dari Korindo Group.

Ketua Forest For Life Indonesia (FFLI) Hadi Pasaribu menyatakan, rest area biasanya pengunjung gunakan sebagai tempat beristirahat, makan, jalan-jalan dan mengisi BBM. Banyaknya restoran dan rumah makan di sekitar area berpotensi meningkatkan sampah sisa makanan.

“Hadirnya fasilitas pengelolaan sampah organik ini sebagai antisipasi kita terhadap sampah sisa makanan atau sampah organik lainnya,” katanya dalam diskusi Pojok Iklim, baru-baru ini.

Ia mengungkap, sebelum pandemi jumlah sampah organik di rest area sekitar 200 hingga 300 kilogram per hari. Angka tersebut meningkat mencapai 400 hingga 500 kilogram per hari. “Tapi kita tidak masalah karena punya maggot yang akan menghabiskan sampah itu,” kata dia.

Selama periode mudik, masih ada pemudik yang membuang sampah sembarangan. Foto: Shutterstock

Sampah Organik Meningkat di Rest Area

Hadi menambahkan sejatinya tujuan fasilitas ini tak sekadar mengelola sampah organik dari para pemudik di rest area, tapi juga menyasar perubahan perilaku baik individu maupun institusi secara langsung.

“Karena kita tahu sampah organik yang dibiarkan lama akan menghasilkan gas metana berbahaya. Masyarakat sudah sadar, tapi belum menjadikan ini perubahan perilaku mereka,” ungkapnya.

Tak hanya di rest area Cibubur, fasilitas pengolahan sampah organik dengan teknologi bio-conversion ini juga ada di Lombok. Selain dijadikan pakan maggot, sampah ini juga bisa dijadikan pupuk padat dan cair yang ramah lingkungan.

Hadi mendorong keterlibatan rest area untuk mengembangkan model pengolahan sampah ini di seluruh Indonesia. “Tak harus besar, bisa kita mulai dari 10 kilogram bahkan ribuan ton bergantung rest area-nya,” imbuhnya.

Ketua Asosiasi Black Soldier Fly (BSF) Indonesia Agus Pakpahan menyatakan Indonesia merupakan negara beriklim tropis sehingga memicu sampah terdekomposisi menjadi sumber penyakit.

Melalui teknologi bio-conversion ini, tak hanya mengurangi jumlah timbulan sampah organik. Namun juga mengurangi gas metana dan gas rumah kaca penyebab perubahan iklim. Bahkan, sampah sebagai pakan maggot mampu menjadi sumber protein terbaik.

“Penerapan teknologi ini mampu menjadikan sampah yang tadinya sumber penyakit menjadi sumber protein dan penyelamat iklim,” tandasnya.

Sekjen Yayasan Korindo Seo Jeongsik menyebut, selain bermanfaat bagi lingkungan, fasilitas ini harapannya bisa memunculkan peluang ekonomi baru.

“Yayasan Korindo akan mengembalikan keuntungan dari proyek ini untuk program-program pengembangan masyarakat dan lingkungan,” katanya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top