Membayar untuk Hutan Mendatangkan Banyak Keuntungan

Reading time: 2 menit
biodiversitas
Ilustrasi. Foto: pxhere

LONDON, 6 Agustus 2017 – Dua studi terbaru telah memunculkan ide bahwa insentif finansial dapat menyelamatkan hutan. Penelitian dari Amazon mengkonfirmasikan bahwa pembayaran kepada pemilik lahan dapat menyelamatkan keanekaragaman hayati hutan. Dan, sebuah studi dari Cina memperlihatkan bahwa komunitas di pedesaan, apabila diberikan insentif, dapat mengembalikan hutan nasional mereka.

Kedua penelitian tersebut hadir bersamaan dengan penemuan desa di Afrika akan merawat hutan mereka dengan baik apabila diberikan pembayaran untuk tidak membuka hutan.

Konservasi hutan merupakan bagian penting dari strategi global untuk mitigasi perubahan iklim: hutan juga merupakan wadah keanekaragaman hayati alami dan memegang peranan vital pada konservasi air.

Mencari insentif

Nilai hutan bagi Bumi tidak perlu ditanyakan, namun akan selalu menjadi tantangan untuk mencari jalan membujuk masyarakat yang tinggal dekat atau sekitar hutan bahwa konservasi menjadi bagian dari kepentingan mereka juga.

Namun, sejak muncul kekhawatiran soal perubahan iklim, ada beberapa inisiatif untuk mengurangi deforestasi. Sebuah tim dari AS melaporkan journal Ecological Economics bahwa mereka melangkah lebih jauh dari sekadar analisis sederhana dari hilangnya kanopi di region Ekuador di Amazon untuk mencari tahu kompensasi pembayaran bagi keragaman spesies di hutan.

Tidak hanya pembayaran membawa perubahan; mereka menemukan bahwa spesies yang dilindungi akan dua kali lipat lebih komersil daripada kayu dan akan menghadapi risiko kepunahan.

Antara tahun 2008 dan 2014, kompensasi tersebut berhasil menghentikan hutan ditebang hingga 9 persen. Dan, plot hutan seluas 40 hektar, akan memiliki satu atau dua kali lebih banyak spesies ketimbang hutan yang tidak dilindungi.

Kerugian yang besar

“Lebih dari 7 miliar hektar hutan hujan tropis dihancurkan antara tahun 1995 dan 2015, sehingga para pembuat kebijakan menerapkan program kompensasi sukarela untuk menperlambat deforestasi dan degradasi,” jelas Francisco Aguilar, pakar kehutanan dari Universitas Missouri.

“Sementara, program tersebut membuat perubahan, tidak cukup evaluasi di lapangan untuk melihat apakah biodiversitas juga dipelihara. Sehingga, kami mencari jalan lain untuk mengamati nilai dari pembayaran ini bagi konservasi hutan.”

Penelitian asal Cina memberikan cerita yang berbeda bahwa total luasan hutan di Cina telah meningkat pada dua dekade belakangan, namun negara tersebut masih saja menebang hutan alam mereka.

Sebabnya, sementara negara tersebut mempunyai kebijakan bagi pemilik lahan untuk melindungi dan memulihkan hutan, hal ini tidak digunakan untuk memulihkan biodiversitas yang menjadi karakter hutan alam.

Para peneliti dari AS dan universitas di Cina dan World Agroforestry Center menuliskan di journal Conservation Letters bahwa lahan yang dimiliki oleh komunitas pedesaan merupakan rumah bagi 60 persen dari total hutan, termasuk hutan yang baru.

“Meski demikian, kebijakan hutan yang ada mengabaikan lahan yang dimiliki secara kolektif dan tidak menyediakan mekanisme untuk memulihkan hutan alami bagi mereka,” kata Fangyuan Hua dari Kunming Institute of Botany di Yunnan, yang juga berbasis di Universitas Cambridge, UK.

Ha dan kolega lainnya menunjukkan Mekanisme Kompensasi untuk Perlindungan Ekologis yang dapat membangun kompensasi yang efektif dan berkeadilan sosial.

“Komunitas pedesaan akan mendapatkan pendapatan yang rendah, sementara keuntungan seperti peningkatan kesehatan lahan, biodiversitas dan mengurangi erosi akan menguntungkan komunitas secara keseluruhan. Cina seharusnya tidak membiarkan kesempatan ini lepas begitu saja,” katanya. – Climate News Network

Top
You cannot copy content of this page