Mencairnya Lapisan Es Kutub Pengaruhi Cuaca Global

Reading time: 3 menit
es kutub
Ilustrasi. Foto: pxhere.com

LONDON, 15 Februari 2019 – Kondisi cuaca global akan semakin memburuk. Mencairnya lapisan es di kutub menunjukkan curah hujan dan angin kencang akan lebih dahsyat terjadi, dan cuaca panas serta badai salju kian ekstrem.

Hal ini disebabkan oleh mencairnya lapisan es di Greenland dan Antartika dan berpengaruh terhadap kestabilan arus laut dan pola aliran udara di seluruh negara.

Suhu permukaan planet dapat meningkat hingga 3°C atau 4°C pada akhir abad ini. Muka air laut global akan meningkat dan menyebabkan “bertambahnya variabilitas suhu global”, namun tidak akan setinggi seperti yang diperkirakan oleh penelitian-penelitian sebelumnya.

Hal ini disebabkan oleh tebing es di Antartika mungkin saja tidak terancam akan runtuh dan akan membuat gletser mencair ke laut.

Revisi terbaru dari bukti mencairnya lapisan es yang terjadi di dua belahan bumi – dan terjadi sangat cepat – didasarkan pada dua penelitian yang merujuk kepada kondisi penampungan air tawar beku terbesar di dunia apabila negara-negara masih tetap memberlakukan kebijakan saat ini, membakar bahan bakar fosil, dan suhu rata-rata global terus meningkat ke level yang mengkhawatirkan.

“Meskipun kita memasukkan ketidakstabilan tebing lapisan es, akan sangat mungkin berkontribusi terhadap kenaikan suhu muka air laut sebesar setengah meter pada tahun 2100.”

“Dengan kebijakan global saat ini, kita menuju pada pemanasan tiga atau empat derajat di atas level pra-industri, menyebabkan air yang berasal dari melelehnya lapisan es di Greenland dan Antartika mengalir ke laut. Berdasarkan model kami, es yang mencair ini akan menyebabkan gangguan signifikan bagi pola arus laut dan mengubah level pemanasan di dunia,” kata Nick Golledge, peneliti kutub selatan di Victoria University, Selandia Baru.

Golledge dan peneliti lain dari Kanada, AS, Jerman, dan Inggris, dalam laporan diterbitkan oleh Nature telah mencocokkan observasi satelit terkait yang terjadi dengan lapisan es dengan simulasi dampak pencairan setelah beberapa waktu, dan mendasarkan kepada respon manusia terhadap peringatan perubahan iklim.

Para pemimpin 195 negara telah berjanji untuk menahan laju pemanasan global hingga “di bawah” kenaikan 2°C pada tahun 2100, di Paris pada tahun 2015.

Namun, janji tersebut kunjung terwujud dan menghasilkan aksi yang nyata, ditambah lagi para peneliti mengingatkan bahwa kebijakan saat ini bisa menuju pada kenaikan 3°C.

Kenaikan muka laut kini sudah sekitar 14 sentimeter pada abad lalu: skenario terburuk kenaikan 130 sentimeter pada tahun 2100. Kenaikan tercepat diprediksi akan terjadi antara 2065 dan 2075.

Arus Teluk Melemah
Ketika es mencair memasuki Atlantik Utara, arus utama lautan, Arus Teluk semakin lemah. Suhu udara semakin meningkat di Kanada bagian timur, Amerika tengah dan Artik. Sementara, para peneliti telah memperingkatkan Eropa Barat Laut akan menjadi lebih dingin.

Di Benua Antartika, sebuah lensa air tawar hangat akan terbentuk di permukaan menyebabkan meningkatnya air lautan yang hangat untuk menyebar dan membuat pencairan lanjutan benua Antartika.

Namun, seberapa buruk kondisi tersebut dijelaskan pada penelitian kedua yang diterbitkan di Nature. Tamsin Edwards, yang kini berada di King’s College, London, Golledge dan peneliti lainnya memiliki pandangan baru terhadap anggapan lama bahwa tebing es, yang kebanyakan 100 meter di atas permukaan laut, di benua Antartika telah menjadi tidak stabil dan runtuh, sehingga mempercepat pencairan lapisan es.

Mereka menggunakan teknik geofisika untuk menganalisa kehilangan lapisan es yang dramatis terjadi pada tiga juta tahun dan 125000 tahun lalu, serta proses pencairan lapisan es di masa kini.

Berdasarkan perhitungan mereka, kejadian tersebut tidak menyebabkan kehilangan lapisan es yang tidak terkendali di masa lalu dan tidak akan berpengaruh banyak di masa depan.

Tidak Pentingnya Ketidakstabilan
“Kami telah menunjukkan bahwa ketidakstabilan tebing es tidak menjadi mekanisme penting dalam mereproduksi perubahan muka air laut di masa lalu dan ini menunjukkan bahwa belum ada kesimpulan bila ingin memasukkan ke dalam prediksi di masa depan,” kata Edwards.

“Bahkan jika kita memasukkan ketidakstabilan tebing es, penelitian kami yang lebih mendalam menunjukkan bahwa kontribusi terhadap kenaikan muka air laut akan kurang dari setengah meter pada tahun 2100.”

Kondisi terburuk, satu dari 20 kesempatan bahwa gletser dari benua Antartika akan mencair dan meningkatkan suhu muka air laut hingga 39 sentimeter.

Kedua penelitian tersebut menyimpulkan di bawah konsentrasi gas rumah kaca yang tinggi, es di kutub selatan akan mencair dan meningkatkan muka air laut hingga 15 sentimeter.

Penulis: Tim Radford/Climate News Network

Top
You cannot copy content of this page