calendar
Jumat, 17 Agustus 2018
Pencarian
eco masjid
Ilustrasi. Foto: wikimedia commons

Eco Masjid Diharapkan Mampu Menghadapi Ancaman Krisis Air

Berita Harian

Jakarta (Greeners) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) menerapkan konsep baru pada lingkungan masjid yang disebut Eco Masjid. Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (PLH & SDA MUI) Dr. Hayu Susilo Prabowo mengatakan bahwa salah satu tujuan konsep Eco Masjid ramah lingkungan yaitu menghadapi ancaman krisis air.

Konsep Eco Masjid berasal dari dua kata, yaitu Eco dan Masjid. “Eco” diambil dari kata “ecology” yang merupakan terminologi yang erat kaitannya dengan ekosistem, yaitu suatu sistem yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antar makhluk hidup dan lingkungannya. Sedangkan Masjid menurut syara (peraturan dalam agama Islam, Red.) adalah tempat yang disediakan untuk salat di dalamnya dan sifatnya tetap, bukan untuk sementara. Jadi, Eco Masjid adalah tempat beribadah tetap yang mempunyai kepedulian terhadap hubungan timbal balik antar makhluk hidup dan lingkungannya.

Hayu mengatakan, keberhasilan menciptakan kehidupan yang ramah lingkungan merupakan penjelmaan dari hati bersih dan pikiran jernih umat beragama dan merupakan titik tolak upaya menciptakan negeri yang asri, nyaman, aman sentosa.

“Aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan akan mengakibatkan kerusakan lingkungan sumber daya alam penting seperti air. Kampanye Eco Masjid ini diharapkan juga bisa menangani atau menghadapi krisis air yang berakibat kepada krisis pangan dan sosial,” ujar Hayu kepada Greeners, Sabtu (16/06/2018).

BACA JUGA: Idulfitri: Kemenangan Melawan Kemubaziran

Merespons ancaman krisis air di kota Jakarta, Lembaga PLH & SDA MUI bersama dengan Bazis DKI Jakarta melakukan proyek pilot Eco Masjid di salah satu masjid baru milik Pemda DKI Jakarta yaitu Masjid At Taufiq di GOR Senen, Jakarta Pusat.

“Menurut info yang saya terima, Kota Jakarta merupakan salah satu dari 11 kota yang akan kekurangan air, maka itu di Masjid At-Taufiq kami mencoba menerapkan konsep Eco Masjid. Saat ini telah diselesaikan pemasangan lima fasilitas konservasi air tanah, yaitu pemanen air hujan, sumur resapan air, penghijauan, biopori dan penghemat keran air wudu,” kata Hayu.

Menurut Hayu, Islam memandang ketersediaan air bersih dan sanitasi yang baik tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan kehidupan manusia, namun juga merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi sebagai salah satu syarat ibadah yaitu bersuci dari hadas besar dan kecil.

BACA JUGA: Eco Iftar, MUI dan Greenpace Ajak Masjid Kurangi Sampah Plastik

Hemat air dalam konsep Eco Masjid, lanjutnya, mengajak umat muslim untuk wudu pada takaran satu mud yang artinya setara dengan volume air pada kedua telapak tangan orang dewasa atau sama dengan 625 – 1.030 ml atau sekitar satu botol air mineral ukuran sedang.

“Pada kenyataannya banyak dari kita yang berwudu tidak mengikuti sunah rasul tersebut dengan menggunakan air secara berlebihan,” ujar Hayu.

Salah satu cara agar dapat mengikuti sunah Rasul tersebut adalah mengatur debit keran air sedemikian rupa agar air wudu tidak berlebihan. Setelah melakukan pengamatan dan percobaan, cara termudah untuk mengatur debit air keran adalah memasang alat pembatas aliran pada keran-keran air untuk berwudu.

“Alat pembatas aliran air keran dapat dibuat dengan membuat bulatan setengah inci dari sendal karet. Bulatan karet ini kemudian dilubangi dan dimasukan sedotan air mineral gelas sebagai pembatas aliran air (orifice). Orifice ini dapat dipasang pada berbagai keran air ukuran setengah inci yang beredar di pasaran. Pengujian menunjukkan penghematan penggunaan air dapat mencapai 50% hingga 70%,” jelasnya.

MUI memiliki target 1.000 masjid yang menerapkan Eco Masjid di tahun 2020. “Akan kita buat perlombaan masjid ramah lingkungan seperti perlombaan Adipura dan Adiwiyata. Berlomba dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui masjid karena masjid dua fungsinya, ada dakwah lisan (bil lisan) dan aksi melakukan ramah lingkungan (bil hal),” kata Hayu.

Penulis: Dewi Purningsih

Top