Mikroplastik Mengontaminasi Habitat Biota Laut

Reading time: 2 menit
Biota Laut
Kontaminasi mikroplastik berada di kedalaman 500 meter. Foto: shutterstock.com

Jakarta (Greeners) – Dampak pencemaran plastik terhadap keanekaragaman hayati di perairan semakin tinggi. Terganggunya keseimbangan ekologi akibat kontaminasi plastik membuat biota laut kian punah. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut bahwa mikroplastik ditemukan di dasar ekosistem pantai. Temuan tersebut berada di Teluk Banten dan dasar samudera di kedalaman 500 meter, pantai barat Pulau Sumatera.

Peneliti Biologi Kelautan LIPI Zainal Arifin mengatakan rata-rata sampah yang masuk ke Teluk Jakarta sebanyak 16 hingga 30 ton per hari. Persentasenya mencapai 6 sampai 10,5 ton untuk sampah plastik. Sementara mikroplastik yang mengendap di Teluk Banten, kata Zainal, rata-rata 267 potongan per kilogram dengan mayoritas sampah styrofoam dan polistirena.

“Lalu juga ditemukan pada tahun 2015 mikroplastik di Samudera Hindia. Sangat jauh dari daratan. Namun ditemukan kontaminasi tinggi mikroplastik di kedalaman 500 meter dengan 17 potongan per sentimeter kubik berupa butiran kecil dan serat yang biasanya berasal dari industri,” ujar Zainal, di Jakarta, Kamis lalu.

Baca juga: Ancaman Mikroplastik Dari 600 Ribu Ton Sampah Tiap Tahun Ke Laut

Hasil ekspedisi perairan bawah laut Ahli Biologi Kelautan dan Aktivis Lingkungan Hidup UNSEEN, Alexis Chappui mencatat, plastik berdampak terhadap ekosistem karang mesofotik. Atau habitat yang umumnya ditemukan pada kedalaman 40 sampai 150 meter.

“Kami mendokumentasikan misi lapangan dengan foto dan video. Melalui dokumentasi tersebut kami sebarkan informasi bahwa dampak polusi telah menjangkau lingkungan dasar laut,” ucap Alexis.

Menurut Alexis, rata-rata 8 juta ton plastik memasuki lautan setiap tahun di seluruh dunia. Jutaan hewan laut secara langsung dibunuh oleh puing-puing plastik termasuk jaring dari serat plastik yang tenggelam dan membusuk. Partikel plastik mikro dan nano hasil dari degradasi limbah plastik makro juga mengancam kehidupan biota jangka panjang.

Mikroplastik

Anton Wijonarno, Marine Protected Area Manager WWF Indonesia, Alexis Chappui, Ahli Biologi Laut, Penyelam, dan Aktivis Lingkungan, Zainal Arifin, Peneliti Polusi Laut LIPI, Dr. I Gede Hendrawan Peneliti Oseanografi Universitas Udayana, di Jakarta, Kamis, 30 Januari 2020. Foto: Institut Francais Indonesia (IFI).

“Mikroplastik dan nanoplastik ini mengikat polutan organik sebelum akhirnya tertelan oleh zooplankton. Bahkan masuk ke tingkat sel dan terakumulasi. Polutan juga berasal dari limbah pertanian, akuakultur, tabir surya, dan masih banyak lagi,” ujarnya.

Ikan Terkontaminasi Mikroplastik

 Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Manusia, IPTEK, dan Budaya Maritim, Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi Safri Burhanuddin tidak menampik bahwa kebocoran sampah ke laut sudah sangat besar hingga mengakibatkan kerusakan biota laut.

Menurutnya, hal ini terjadi karena tingginya populasi berbanding lurus dengan tingkat pencemaran khususnya sampah di suatu wilayah. Sebanyak 13,16 persen komposisi sampah kota di Indonesia adalah plastik dan juga berdasarkan pada variabel ekonomi maupun sosial. Kota dengan Produk Domestik Bruto dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan diperkirakan memiliki peningkatan terhadap penggunaan plastik dan kertas. Secara keseluruhan, 10 persen sampah plastik akhirnya tumpah ke badan air.

Safri menuturkan dari data Bank Dunia 2017, dengan jumlah populasi 150 juta orang dapat meningkatkan 38 juta ton sampah per tahun. Sebanyak 80 persen dari sampah tersebut mengalami kebocoran. Sampah plastik berasal dari daratan, masing-masing 17 ton juta sampah per tahun tidak terorganisir. Sementara 45 persen limbah dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pada akhirnya terdapat 1,29 juta ton matriks per tahun kebocoran sampah plastik ke lautan. “Setidaknya 80 persen ikan kecil di Indonesia sudah terkontaminasi mikroplastik,” ujar Safri.

Penulis: Dewi Purningsih

Top