Perubahan Iklim Ancam Kesejahteraan Masyarakat

Reading time: 2 menit
Masyarakat pesisir juga ikut merasakan dampak perubahan iklim. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Perubahan iklim tak hanya berdampak pada krisis lingkungan, seperti cuaca ekstrem, pemanasan global, kekeringan, serta banjir. Akan tetapi, juga bencana krisis sosial yang mengancam kesejahteraan kehidupan manusia.

Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Zenzi Suhadi menegaskan, ancaman krisis kesejahteraan itu tidak hanya terasa di masyarakat perdesaan tapi juga masyarakat urban.

“Perubahan iklim berdampak pada bencana kehidupan masyarakat, tak hanya petani, nelayan tapi juga tapi masyarakat urban,” katanya dalam Obrolan Taman Belakang bersama Greeners, Jumat (10/6).

Zenzi menyatakan, kesejahteraan manusia selama ini tersedia karena perpaduan alam dan kultur manusia. Berbagai macam dampak perubahan iklim masyarakat petani, pesisir serta urban sudah rasakan.

Imbas perubahan iklim, sambung dia masyarakat pesisir dan petani harus menghadapi musim kemarau atau musim badai yang lebih panjang. Padahal, mereka telah mengeluarkan modal untuk membangun usahanya tersebut. “Ini bukan hanya berdampak pada pendapatan mereka, tapi di masa krisis mereka bahkan berpotensi terlilit hutang hingga dua periode berikutnya,” jelas Zenzi.

Masyarakat Urban Tak Luput dari Dampak Perubahan Iklim

Pada masyarakat urban, imbas perubahan iklim terhadap kesejahteraan juga sangat nyata mereka rasakan. Misalnya, masyarakat kota memiliki sedikit pilhan makanan dibanding dengan masyarakat pedesaan.

“Pilihan menu makanan masyarakat yang hidup di perkotaan ini sangat terbatas, seperti ayam dan lele. Berbeda dengan masyarakat pedesaan yang memiliki banyak pilihan makanan karena kesejahteraan yang bumi sediakan masih melimpah,” imbuhnya.

Permasalahannya, saat ini penyediaan pangan beralih pada kelompok yang mampu memodifikasi alam. Seperti halnya keberadaan food estate di Indonesia yang hanya disediakan oleh satu hingga dua orang saja.

“Kemiskinan ini lebih terstruktur di mana kehidupan manusia itu memang dikendalikan untuk dia menjadi miskin. Menjadi pekerja kepada pihak yang mengkapitalisasi industri ini,” ucapnya.

Demikian pula dengan masyarakat yang hidup di kota yang memang didesain untuk bekerja puluhan tahun sehingga akan terikat kewajiban mereka. Misalnya seperti kewajiban untuk perumahan hingga makan. “Ini merupakan dampak lain dari perubahan iklim di mana kehidupan manusia itu dipisahkan dari lingkungan dan sumber dayanya,” tandasnya.

Konsep Pembangunan Lahirkan Perilaku Eksploratif

Senada dengan itu, pakar lingkungan dari Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa menilai, konsep pembangunan manusia saat ini telah melahirkan perilaku eksploratif dan tak bertanggungjawab terhadap keberlanjutan alam.

“Karena adanya pergeseran cara pandang manusia terhadap lingkungan. Ini tentu berpengaruh besar terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini,” kata Mahawan.

Ia menyatakan, pentingnya keterlibatan pemangku kepentingan untuk menarasikan pembangunan dengan memperhatikan konsep lingkungan di dalamnya. Tata kelola lingkungan harus prioritas mengingat alam sebagai sumber kehidupan manusia. Kebijakan pembangunan, sambung dia harus memuat unsur lingkungan di dalamnya.

Selain itu, pemerintah juga harus mendorong serta terlibat secara aktif bersama masyarakat untuk memastikan aksi-aksi guna melawan perubahan iklim.

“Penyelamatan lingkungan dan kehidupan di dalamnya harus menjadi tanggung jawab bersama. Di sinilah negara hadir untuk memastikan keberlanjutan kehidupan dengan baik,” imbuhnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top
You cannot copy content of this page