Perubahan Iklim Berimbas pada Kesehatan Perempuan

Reading time: 6 menit
kesehatan perempuan

Seorang perempuan Afrika terbaring lemah karena malaria yang dideritanya. Foto: hdptcar/flickr.com

Memperkuat peran perempuan

WHO telah menunjukkan bahwa kesehatan perempuan dan kesejahteraannya akan berpengaruh pada anak-anak, keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Gizi buruk di satu generasi perempuan akan membawa risiko kesehatan di kalangan generasi berikutnya.

Pengakuan akan pentingnya perspektif gender telah muncul dalam The Hyogo Framework of Action sebagai hasil dari The World Conference on Disaster Reduction States yang diselenggarakan oleh PBB pada tahun 2005 (dikutip dalam buku Ekofeminisme III: Tambang, Perubahan Iklim & Memori Rahim), yang berbunyi: “Perspektif gender harus diintegrasikan ke dalam semua kebijakan manajemen risiko bencana, rencana dan proses pengambilan keputusan, termasuk yang terkait dengan penilaian risiko, peringatan dini, pengelolaan informasi, dan pendidikan serta pelatihan.”

Pada tahun 2009, United Nation Forum for Climate Change (UNFCC) menetapkan dimensi gender dalam manajemen risiko bencana dan perubahan iklim. UNFCC menegaskan tiga aspek dasar perspektif gender yang meliputi: 1) perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan pengalaman hidup dan kapasitas. Masing-masing berkontribusi berbeda dalam adaptasi perubahan iklim meskipun memiliki kesamaan kapasitas sebagai agen perubahan; 2) laki-laki dan perempuan memiliki strategi, kebutuhan praktis, motivasi dan keinginan yang berbeda dalam beradaptasi; 3) perempuan dan laki-laki memiliki risiko dampak perubahan iklim yang berbeda.

Berdasarkan kajian ekofeminis, peran perempuan perlu dipertimbangkan sebagai aktor atau agen perubahan yang berperan untuk mengurangi risiko bencana yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Hal ini pun senada dengan pandangan Pusat Penelitian Politik LIPI yang menyatakan bahwa perempuan bisa memerankan diri sebagai agen perubahan ‘agent of change’. Pertimbangannya adalah perempuan memiliki naluri yang tinggi dan pintar dalam mengatasi berbagai isu yang berkembang di kalangan masyarakat.

Naluri perempuan Indonesia dalam hal pemeliharaan masih sering dijumpai di lingkungan sehari-hari. Contohnya kebiasaan ibu-ibu yang menyapu dua kali sehari (pagi dan sore hari). Perempuan juga terbiasa memanfaatkan ruang terbuka yang ada di sekitarnya dengan menanam berbagai jenis tanaman untuk penghijauan. Perempuan pandai memotivasi anggota keluarga, terutama anak-anak serta masyarakat di sekitarnya.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut selaras dengan pandangan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bahwa “perempuan pada dasarnya mempunyai dasar kehidupan untuk beradaptasi dan bermitigasi untuk memelihara. Selain itu, sebagian besar perempuan masih menyimpan kearifan lokal yang diwariskan oleh nenek moyangnya.”

Top