Ranupane, Di Tengah Ancaman Erosi Kultural dan Erosi Ekologi

Reading time: 3 menit

MALANG (Greenersmagz) – Hujan baru saja mengguyur Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Air lumpur mengalir perlahan namun pasti turun dari atas bukit yang terlihat coklat. Melalui celah selokan, dan kadang meluber ke jalan sehingga aspal jalan desa terlapisi air lumpur. Air lumpur terus mencari tempat yang lebih rendah hingga akhirnya bermuara ke Danau Ranupane. Danau eksotis yang berada di ketinggian 2.162 mdpl di kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Danau yang baru saja menjadi lokasi pengambilan gambar film 5cm ini kini menghadapi tantangan yang cukup serius.

Danau seluas kurang lebih 2,5 hektare ini memiliki kenangan tersendiri bagi para pendaki yang akan menuju Gunung Semeru. Bahkan penyanyi almarhum Gombloh pun menciptakan lirik salah satu lagunya yang terinspirasi dari Danau Ranupane. Danau ini berada di tepi Desa Ranupane yang luasnya sekitar 14 hektare. Namun, kondisi Danau Ranupane kini jauh berbeda dengan kondisi 10 tahun silam. Diperkirakan sudah lebih dari 30 persen danau ini mengalami penyempitan karena mengalami sedimentasi akibat lumpur dari perbukitan yang kian menipis. Tergerus air hujan dan mengalir ke danau.

Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur, Purnawan Dwikora Negara, menjelaskan, ancaman Danau Ranupane tinggal cerita hanya soal waktu saja, jika semua pihak terutama pemerintah tidak mengambil sikap yang strategis bersama warga lokal untuk menyelamatkan danau yang eksotis ini. “Bertahun-tahun tertutup tanaman salvinia, tapi bisa dibersihkan secara gotong royong dalam tempo 40 hari,” kata Purnawan D Negara, ditemui Greenersmagz, Rabu (26/12/2012).

Menurutnya, persoalan sedimentasi tidak semata-mata karena masalah kesalahan pengolahan lahan pertanian yang dilakukan warga dengan tidak melakukan system teras iring. Purnawan mengambil contoh bahwa sudah bertahun-tahun warga Tengger melakukan sistem pertanian seperti saat ini dan tidak ada persoalan. Kalau sekarang memunculkan erosi yang tinggi perlu diteliti apakah memang masalah teknis pengolahan lahan atau yang lain.
Ia menjelaskan, warga Suku Tengger mempunyai aturan-aturan tertentu dalam memperlakukan alam seperti mengolah lahan pertanian maupun mengambil batang pohon dan lain sebagainya. Saat ini, tidak semua warga di Desa Ranupane yang menggarap lahan merupakan orang Tengger. Sehingga ada nilai-nilai dan aturan-aturan warga Tengger yang tidak dilakukan sebagian besar warga. “Saya melihat ada erosi kultural yang berujung pada erosi ekologis di sana,” kata Purnawan.

Ditambahkan Purnawan, saat ini yang paling tepat dilakukan adalah melakukan moratorium dengan mengajak warga sekitar berembug untuk tidak menanam tanaman yang panen dalam hitungan bulan di lahan-lahan yang kritis. Ia yakin kalau ini dilakukan dengan pendekatan kultural bisa terlaksana, karena sebenarnya masyarakat sudah mempunyai kearifan lokal menganai masa tanam yang baik dan melarang mengganggu wilayah-wilayah tertentu.

Salah satu petani yang tinggal di Desa Ranupane, Budi Santoso, mengakui jika ketinggian bukit-bukit yang berada di sekitar Danau Ranupane memang mengalami penurunan akibat erosi. Ia mengaku jika lahan di perbukitan Danau Ranupane tidak bisa diolah dengan menggunakan sistem teras iring karena kontur tanahnya yang gembur. “Saya sudah pernah mencobanya namun tetap tidak bisa,” kata Budi yang tinggal di sana sejak tahun 90-an.

Pengendali Eksosistem Hutan, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Boiga, mengatakan, pihaknya sudah mengajak masyarakat setempat untuk membuat jebakan-jebakan lumpur untuk mengurangi derasnya lumpur yang masuk ke danau ketika musim hujan. Selain itu, Ia juga mengajak para petani di sana mengolah lahan dengan membuat system teras iring. “Tapi ya warga tetap bandel,” ujarnya.

Untuk upaya pengerukan, kata Boiga, sulit dilakukan karena mendatangkan alat berat ke sana sangat sulit dengan kondisi jalan yang sempit dan menanjak. Karena itu, saat ini yang dilakukan taman nasional adalah memberikan sosialiasi pentingnya menjaga dan menyelamatkan Danau Ranupane dengan melakukan pengolahan lahan yang benar untuk meminimalisir erosi.

Harapan warga sekitar untuk melihat Danau Ranupane bersih dan indah seperti dulu masih ada. Namun, kata Purnawan, mereka takut untuk bertindak karena beranggapan itu wilayah taman nasional sehingga semacam ada keterputusan komunikasi antara pemerintah dengan warga desa. “Yang pasti, Danau Ranupane akan menjadi cerita jika tidak diselamatkan,” Pungkas Purnawan. (G17)

Top
You cannot copy content of this page