Studi LIPI: Dampak PSBB dan WFH Meningkatkan Penggunaan Plastik

Reading time: 3 menit
Sampah Plastik
Studi LIPI mencatat belanja online cenderung meningkat semasa Pembatasan Sosial Berskala Besar atau kegiatan bekerja dari rumah (WFH). Foto: shutterstock.com

Jakarta (Greeners) – Studi Pusat Penelitian Oseanografi dan Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat belanja online cenderung meningkat semasa Pembatasan Sosial Berskala Besar atau kegiatan bekerja dari rumah (WFH). Sebanyak 96 persen paket dibungkus dengan bahan plastik terutama selotip, plastik, dan bubble wrap. Hal tersebut meningkatkan jumlah sampah plastik karena pemakaian pembungkus paket menyaingi sampah kemasan produk yang dibeli.

Penelitian ‘Dampak PSBB dan WFH Terhadap Sampah Plastik di kawasan Jabodetabek’ tersebut dilakukan melalui survei online pada 20 April hingga 5 Mei 2020 untuk mengetahui pola perkembangan sampah plastik. Hasil survei menunjukkan kecenderungan belanja mayoritas warga Jabodetabek meningkat dari 1-5 kali menjadi 1-10 kali per bulan selama PSBB dan WFH.

“Kami mengasumsikan karena PSBB ini membuat belanja online meningkat. Hipotesisnya meningkatkan juga konsumsi plastik yang digunakan untuk membungkus barang,” ujar Reza kepada Greeners, Selasa (26/05/2020).

Baca juga: Presiden Libatkan Aparat Keamanan untuk Pelaksanaan Normal Baru

Menurut data survei, kategori makanan dan disinfektan adalah produk favorit dalam berbelanja daring. Setelahnya diikuti obat-obatan dan Alat Pelindung Diri (APD). Sedangkan, pakaian, kosmetik, dan alat rumah tangga justru menurun.

“Online ini dianggap sebagai pengganti belanja biasa karena masyarakat tidak keluar dari rumah. Jadi tidak heran jika ada lonjakan pembelian barang yang jumlahnya dua kali lipat dari biasanya,” kata Reza.

Ia juga mengatakan bahwa 60 persen responden menilai penggunaan pembungkus plastik tidak mengurangi risiko terpapar Covid-19. Di permukaan plastik, virus Covid-19 dapat bertahan selama tiga hari, lebih lama dibanding di permukaan lain seperti kardus dan stainless steel.

Studi LIPI

Sebanyak 96 persen paket dibungkus dengan bahan plastik terutama selotip, plastik, dan bubble wrap. Sumber: LIPI

Data survei LIPI juga mengatakan tingkat kesadaran warga terhadap isu sampah plastik tinggi. Namun, kesadaran masyarakat belum dibarengi dengan aksi nyata karena hanya separuh dari warga yang memilah sampah untuk didaur ulang. Hal ini berpotensi meningkatkan sampah plastik dan menambah beban tempat pembuangan akhir selama PSBB atau WFH.

“Sebanyak 98 persen seluruh responden menilai pentingnya memilah sampah plastik. Namun faktanya hanya 1 dari 2 responden yang memilah sampah plastik. Hal ini mengakibatkan beban TPA yang semakin tinggi hingga 6 persen akibat naiknya pengunaan sampah plastik sekali pakai pada masa WFH dan PSBB ini,” ujar Reza.

Sementara itu, Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar menyampaikan bahwa penelitian LIPI mencerminkan kondisi yang saat ini tengah terjadi di masa pandemi Covid-19. Menurut Novrizal, wajar jika banyak yang berbelanja online dan menggunakan kemasan berbahan plastik, sebab, peraturan PSBB dan WFH mengharuskan masyarakat berada di rumah.

Masyarakat Diminta Memilah Sampah

Ia menuturkan, secara umum sampah yang dihasilkan oleh sektor komersial berkurang. Namun sampah rumah tangga mengalami peningkatan dan komposisi sampah plastik juga meningkat seiring kebutuhan masyarakat ketika pandemi. Ia meminta masyarakat untuk memilah sampah plastik supaya dapat digunakan kembali atau didaur ulang di bank sampah.

“Kita tidak bisa secara tegas menyatakan jangan menggunakan itu (plastik untuk membungkus barang) karena situasinya sedang pandemi Covid. Jadi itu tidak kita tegaskan. Kita mendorong penggunaan tas guna ulang untuk belanja serta semaksimal mungkin mengurangi penggunaan single use plastic,” ucapnya.

Baca juga: Sampah Warga Jakarta Capai 2.195 Ton di Hari Lebaran

Novrizal juga menjelaskan bahwa saat pandemi timbulan sampah dalam skala besar menurun hingga 15 persen di DKI Jakarta atau Surabaya. Sedangkan di kota-kota penyangga Ibu Kota seperti Bogor, Bekasi, dan, Tangerang Selatan juga relatif berkurang satu sampai tiga persen.

“Kuncinya cuma satu untuk mengurangi beban ke TPA, masyarakat harus melakukan pemilahan sampah supaya yang sekiranya masih bisa dipakai bisa digunakan kembali. Ini kan kondisinya sedang abnormal, kalau sudah new normal kembali lagi semua menggunakan tas guna ulang maupun mengurangi penggunaan plastik sekali pakai,” ujarnya.

Penulis: Dewi Purningsih

Top