Susi Pudjiastuti : Kasihan Nelayan Dapatnya Sampah Plastik

Reading time: 2 menit
Susi Pudjiastuti bentangkan poster bertuliskan "Buang Sampah di Laut Tenggelamkan"!. Foto: Greeners/Dini Jembar Wardani

Jakarta (Greeners) – Pawai Bebas Plastik 2023 kembali digelar menyuarakan penolakan plastik sekali pakai. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti juga turut mengampanyekan penolakan plastik sekali pakai di Car Free Day (CFD) kawasan Bundaran HI, Minggu (30/7).

Aksi Pawai Bebas Plastik merupakan kegiatan tahunan rutin yang diinisiasikan sejumlah organisasi lingkungan. Tujuannya untuk mengampanyekan tolak plastik sekali pakai. Masyarakat sipil, organisasi, hingga public figure ikut terlibat di dalamnya.

Tahun 2019 Susi juga turut ikut menyuarakan penolakan plastik sekali pakai. Kemudian tahun ini, dirinya kembali memimpin kampanye tersebut sambil mengangkat poster di barisan terdepan.

Sembari jalan dari kawasan Sudirman hingga Bundaran HI, Susi pun berteriak lantang “Buang sampah di laut, tenggelamkan, tolak plastik sekali pakai!”. Kemudian di penghujung aksi Susi menyampaikan bahwa plastik bisa mengancam laut dan nelayan.

“Kalau plastik ke laut yang kasihan siapa? Nelayan ketika dapetnya plastik. Sekarang semua bareng tolak plastik sekali pakai,” ungkap susi dalam kegiatan Pawai Bebas Plastik 2023, di Kawasan Bundaran HI, Minggu, (30/7).

Khawatir sampah plastik kepung laut, Susi juga mengajak masyarakat segara kurangi pemakaian plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya hindari sedotan plastik sekali pakai dan biasakan membawa tumbler. Sebab, jika tidak memulai hal tersebut, sampah dari kota akan mengalir ke sungai dan bermuara ke laut hingga berdampak pada nelayan.

Susi juga menegaskan, pemerintah perlu menegakkan peraturan untuk membatasi plastik sekali pakai. Kemudian, mendorong produsen untuk mengurangi kemasan plastik dengan membangun ekosistem isi dan guna ulang.

Tiga Tuntutan Pawai Bebas Plastik 2023

Sementara itu, peserta Pawai Bebas Plastik 2023 menyampaikan tiga tuntutan untuk mewujudkan masa depan bebas plastik.

Pertama, meminta pemerintah melarang penggunaan plastik sekali pakai. Kedua, memperbaiki sistem tata kelola sampah. Lalu ketiga, mendorong produsen dan pelaku usaha untuk bertanggung jawab terhadap sampah pascakonsumsi.

Ratusan orang dan puluhan komunitas ikut turut serta menyuarakan tuntutan tersebut dengan long march dari kawasan Bendungan Hilir hingga Bundaran HI. Para peserta dengan berbagai kalangan umur ini sampaikan aspirasinya melalui poster yang beragam.

Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik Tiza Mafira mengungkapkan bahwa pawai ini bertujuan untuk mengajak pemerintah lebih ambisius. Para pelaku usaha juga perlu terbuka dalam melakukan cara menghilangkan plastik sekali pakai.

“Jadi kita mau ajak pemerintah lebih ambisius, kitanya pun siap dari segi masyarakat sipil untuk ikut sosialisasi. Pelaku usaha juga terbuka untuk menyambut dan terapkan dalam caranya menghilangkan plastik sekali pakai,” kata Tiza.

Peserta Pawai Bebas Plastik 2023 sampaikan tiga tuntutan. Foto: Greeners/Dini Jembar Wardani

Guna Ulang sebagai Solusi

Tiza menilai, opsi guna ulang merupakan solusi yang paling efektif dalam pengurangan sampah plastik. Menurutnya penerapan pendekatan guna ulang (reuse) perlu dukungan fasilitas yang memadai. Hal ini akan menekan pengurangan sampah plastik di hulu.

“Kita enggak bisa membersihkan plastik dengan menyapu terus, tapi harus ditutup kerannya. Oleh karena itu, arah dari tuntutan pertama yaitu melarang plastik sekali pakai,” tutur Tiza.

Pemerintah lanjutnya, juga jangan sampai mendorong kebijakan sekali pakai ini dengan menggantikannya dengan kertas, plastik berbahan singkong, kayu. Sebab, itu akan menimbulkan permasalahan baru. Pendekatan guna ulang inilah yang bisa menjadi solusi berkelanjutan, karena sistemnya isi ulang dengan wadah yang dapat digunakan berkali-kali.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Top