Susi: KKP Akan Perhatikan Masalah Sampah Plastik di Laut dan Pesisir

Reading time: 2 menit
sampah plastik di laut
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti hadir dalam diskusi penutupan Wold Ocean Summit 2017 di Nusa Dua Bali, Jumat (24/02). Foto: greeners.co/Ramandha Suci Marchita

Nusa Dua (Greeners) – Isu sampah plastik di wilayah pesisir dan laut menjadi salah satu perhatian Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Di sela kegiatan World Ocean Summit 2017, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, saat ini Indonesia menyandang predikat sebagai negara penghasil sampah plastik kedua terbesar di dunia, sebuah predikat yang tidak bisa dibanggakan. Meskipun klaim tersebut belum terbukti secara ilmiah, Susi menyatakan KKP terus mengupayakan penanganan dampak sampah plastik di wilayah pesisir dan laut.

Meski orang luar Indonesia lebih tahu Bali daripada Indonesia, namun buruknya penanganan sampah di Bali ikut memengaruhi penilaian terhadap Indonesia secara keseluruhan. Untuk itu, Susi menyatakan penting untuk menangani dan membuat strategi untuk mengubah sikap dan perilaku masyarakat.

“Kalau banyak sampah, pasti banyak penyakit. Dan yang paling parah jika sampah itu sampai ke laut. Pemerintah Indonesia ingin menggalakkan pariwisata bahari. Di sini kita akan menjual keindahan bahari kita, dan kebersihan menjadi hal yang penting. Kalau laut kita banyak plastiknya, tentu turis akan banyak yang pergi. Jadi Bali harus menjadi contoh pariwisata bahari yang nice, clean, beautiful dan kaya akan ragam budayanya agar turis datang dan tinggal lebih lama,” katanya usai menutup acara World Ocean Summit 2017 di Nusa Dua, Bali, Jumat (24/02) sore.

BACA JUGA: Perilaku Buruk Penanganan Sampah Sebabkan Sampah Tetap Menumpuk

Susi menambahkan, KKP juga telah membicarakan penanganan sampah langsung dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Solusi yang disepakati yaitu pertama, membentangkan jaring yang dipasang di mulut sungai untuk mengurangi sampah dari sungai yang masuk ke laut. Kedua, membuat aturan atau Perda untuk mengatur penyelenggaraan upacara adat di laut agar tidak banyak meninggalkan sampah plastik.

“Saya juga menyarankan pemberian sanksi bagi mereka yang membuang sampah sembarangan. Karena di dunia ini kalau tidak ada sanksi, tidak jalan. Kita bisa contoh misalnya di Pangandaran, kalau ada yang buang sampah sembarangan didenda, dan pelapornya akan dapat 50 persen dari dendanya. Saya rasa itu bisa diterapkan di Bali. Dengan ini akan bisa mengubah sikap manusia untuk bijak memperlakukan sampah,” saran Susi.

Sampah plastik yang terurai menjadi sampah mikro-plastik, tidak saja mengancam ekosistem dan biota laut, tetapi juga berpotensi menyebabkan tercemarnya rantai makanan oleh mikro-plastik yang dalam kondisi tertentu mengikat bahan berbahaya. Ancaman terbesar mikro-plastik adalah kontaminasi kepada biota ekosistem/habitat.

BACA JUGA: KKP Libatkan Nelayan Capai Target Kawasan Konservasi Laut 2020

Sampah plastik yang tersangkut di akar mangrove mencemari dan mengganggu fungsi ekosistem mangrove, dan menyebabkan kematian bibit mangrove. Selain itu, sampah yang menutupi perairan terumbu karang dapat meningkatkan toksisitas perairan dan menyebabkan patahnya koral. Sampah juga dapat menjerat atau termakan oleh biota laut.

Selama ini, KKP telah melakukan berbagai upaya penanganan sampah plastik di wilayah pesisir dan laut, di antaranya mengeluarkan Peraturan Dirjen No: 11/PER-DJKP3K/2015 tentang Pedoman Pengelolaan Limbah di Kawasan Wisata Kuliner Pantai; membuat Pedoman Pengelolaan Pencemaran Sampah Domestik di Wilayah Pesisir; melakukan publikasi dengan poster, leaflet, dan film.

Selain itu KKP juga ikut menyusun Rencana Aksi Penanggulangan Sampah Plastik yang dikoordinasikan oleh Kemenko bidang Kemaritiman; menjadi anggota Pokja V dalam Tim Penanggulangan Sampah Nasional yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK); serta memberikan bimbingan Teknis Pengolahan Sampah Plastik untuk menjadikan sampah plastik diolah kembali agar menjadi bahan bernilai ekonomi.

Penulis: Danny Kosasih

Top
You cannot copy content of this page