Walhi : Banjir Papua, Bencana Ekologi Karena Ulah Manusia

Reading time: 3 menit
Walhi Papua menyebut banjir besar di Papua akibat ulah manusia. Foto: BNPB

Jakarta (Greeners) – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Papua menyebut banjir besar yang menerjang Kota Jayapura, Papua adalah bencana ekologi karena ulah manusia. Banjir tersebut terbesar selama 8 tahun terakhir. Jika perilaku buruk masyarakat membuang sampah dan alih fungsi lahan serta tata ruang masih terjadi, banjir yang lebih besar akan kembali terjadi.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Papua Aiesh Rumbekwan mengatakan, banjir besar dalam kurun waktu delapan tahun terakhir ini menjadi warning bagi pemerintah dan masyarakat untuk mengubah perilaku.

Menurutnya, perlindungan terhadap lingkungan hidup butuh aksi dan perubahan perilaku. Banyaknya peraturan yang sudah pemerintah daerah buat tidak menjamin bencana tidak terjadi. Pasalnya masyarakatnya tidak memiliki kesadaran perlindungan yang baik.

“Ada dua perbaikan dari bencana banjir yang terjadi. Pertama perbaikan tata kelola dan tata ruang. Lalu pengawasan dan kontrol terhadap perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan. Apa yang kamu tabur itu yang kamu tuai,” katanya kepada Greeners, Selasa (11/1).

Aiesh pun mengingatkan pentingnya fungsi hutan lindung dan hutan sagu. Ia menyebut, hutan sagu memiliki fungsi ekologis sebagai penetralisir iklim. Kemampuan hutan ini menyerap curah hujan pun besar.

“Jadi jangan hanya menyalahkan curah hujan. Masyarakat pun tidak bisa hanya menyalahkan pemerintah atas bencana yang terjadi. Setiap orang di kota harus punya tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan,” tegasnya.

Pemerintah maupun masyarakat punya tanggung jawab perlindungan lingkungan. Sinergi dari hulu hingga hilir harus nyata dalam aksi. Dari sini pemerintah pun harus menarasikan dampak perubahan iklim agar masyarakat lebih paham. Dengan begitu aksi adaptasi dan mitigasinya bisa tepat.

Banjir Papua, Bencana Hidrometeorologi Awal Tahun 2022

Banjir yang menghantam di beberapa kota Jayapura, Papua, Kamis (6/1) akibat hujan menjadi penanda bencana hidrometeorologi telah terjadi di awal tahun 2022. Bencana banjir ini melanda sejumlah distrik di Kota Jayapura seperti Distrik Jayapura Utara, Jayapura Selatan, Abepura, Heram dan Muara Tami.

Data terakhir dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Selasa (11/1) mencatat, ada 8 orang meninggal, 8 orang luka berat dan 2 orang luka ringan. Sebanyak 2.416 kepala keluarga (KK) atau 9.280 jiwa terdampak. Selain itu 102 KK atau 416 jiwa terpaksa mengungsi.

Wilayah genangan air atau banjir terparah berada pada distrik Abepura yakni Perumahan Organda, Kali Acai dan Kompleks Pasar Youtefa. Sementara, Distrik Jayapura selatan yaitu wilayah pemukiman kompleks SMAN 4, PTC Entrop serta Hamadi. Sementara wilayah Kabupaten Jayapura yaitu di Perumahan BTN Gajah Mada Yahim Sentani serta areal Stadion Lukas Enembe.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, intensitas curah hujan yang tinggi memicu terjadinya banjir. Tercatat, curah hujan Kamis (6/1) hingga Jumat (7/1) WIT yaitu 335 mm selama 24 jam di Jayapura. Angka tersebut masuk dalam kriteria intensitas hujan ekstrem (150 mm/ 24 jam).

Perubahan perilaku dan perbaikan tata kelola ruang harus menjadi prioritas agar bencana banjir tidak berulang. Foto: BNPB

Curah Tinggi yang Relatif Basah

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachri Radhab menyatakan, selain intensitasnya yang tinggi, curah hujan juga menyebar ke beberapa titik. Beberapa pengaruh yang menyebabkan curah hujan tinggi di Kota Jayapura yaitu faktor dinamika atmosfer.

“Seperti daerah pertemuan angin, suplai uap air yang cukup banyak dan proses konvektif lokal yang intensif,” kata Fachri kepada Greeners, Selasa (11/1).

Selain itu, sambung Fachri yaitu kelembapan udara yang relatif sangat basah. “Berdasarkan analisis citra satelit, awan-awan yang tumbuh didominasi oleh awan-awan konvektif seperti cumulus dan cumulonimbus,” ungkapnya.

Sebelumnya, pada Senin (10/1), banjir susulan kembali terjadi karena adanya intensitas curah hujan yang tinggi. Banjir susulan terjadi di daerah Perumahan Organda dan Pasar Yotefa. Menurut Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan, BNPB Abdul Muhari, banjir terpantau surut sebelumnya memiliki ketinggian muka air bekisar 30-50 centimeter.

Waspadai Curah Hujan Lebat

Menurut perkiraan BMKG, masyarakat di Jayapura harus tetap waspada menyusul hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih terjadi beberapa hari ke depan.

Bencana banjir ini bukan kali pertama terjadi di Papua. Sebelumnya pada Oktober 2010 di daerah Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat juga terjadi banjir. Bencana ini Imbas meluapnya Sungai Batang Sala dan intensitas curah hujan yang tinggi, banjir bandang melanda selama dua hari. BNPB mencatat 150 orang meninggal, 145 orang hilang dan ribuan rumah warga dan fasilitas umum rusak.

Meski begitu Fachri menyatakan, intensitas curah musim hujan yang tinggi bukan semata-mata menjadi penyebab banjir. Tanda tanya besar muncul dari banjir yang terjadi di Papua.

Direktur Pengawasan, Evaluasi dan Pengendalian Daerah Aliran Sungai (DAS) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Totok Saparis menyatakan, kondisi banjir dari tahun ke tahun sangat dinamis baik dari aspek spasial maupun temporal.

Khusus untuk banjir yang terjadi di Cycloops, pada 2019 pemerintah telah mengupayakan dengan memastikan daerah aliran sungai (DAS). “Kami tahun 2019 telah mengalokasikan 151 hektare rehabilitasi lahan kritis,” imbuhnya.

Penulis : Ari Rikin & Ramadani Wahyu

Top