Kayu Susu, Tanaman Obat yang Mulai Langka

Reading time: 3 menit
kayu susu
Kayu susu (Alstonia scholaris (L.) R. Br)). Foto: wikimedia commons

Kayu susu (Alstonia scholaris (L.) R. Br)) merupakan salah satu jenis tumbuhan obat yang termasuk dalam kategori langka (LIPI 2001). Kayu susu atau dikenal dengan nama pulai termasuk spesies yang cepat tumbuh (fast growing species).

Tanaman kayu susu tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, baik tumbuh di dataran rendah hingga pegunungan pada ketinggian 0-1000 mdpl dan juga terdapat di hutan sekunder (Whitmore, 1973). Spesies ini mampu tumbuh pada tanah liat, tanah berpasir yang kering atau digenangi air dan terdapat juga pada lereng bukit berbatu di dalam hutan hujan tropis dengan tipe curah hujan A sampai C (Martawijaya et al., 2005).

Kayu susu juga dapat tumbuh di tempat-tempat terbuka yang telah rusak karena toleran terhadap tanah miskin hara dan alkalin (Prayudianingsih, 2014). Berkat keistimewaannya tersebut maka tanaman ini berpotensi sebagai tanaman revegetasi (revegetasi adalah salah satu cara untuk mengembalikan kondisi lahan yang rusak agar dapat berfungsi kembali secara optimal sesuai dengan daya dukungnya). Tanaman pohon ini dapat dibiakkan dengan setek dan cabang.

Secara morfologi tanaman ini memiliki tinggi mencapai 15-50 m. Batangnya lurus dengan kulit batang yang tebal, berwarna coklat keabu-abuan, bergetah putih seperti susu. Daunnya tunggal berwarna hijau, berbentuk lonjong hingga bulat telur dengan permukaan atas licin dan permukaan bawah buram, tepi daunnya rata, pertulangan daun menyirip dengan panjang 10-23 cm, lebar 3-7,5 cm dan tersusun melingkar antara 4-9 helai. Ukuran bunganya kecil, berwarna putih kehijauan dan mempunyai aroma yang kuat.

kayu susu

Oleh masyarakat Papua kulit tanaman kayu susu atau pulai dimanfaatkan untuk mengobati demam dan malaria. Foto: wikimedia commons

Tanaman ini biasanya digunakan sebagai bahan baku kerajinan tangan. Di Yogyakarta dan Bali, kayunya digunakan sebagai bahan baku pembuatan topeng dan ukiran. Sedangkan di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan kayunya digunakan sebagai bahan baku pensil slate (Mashudi, 2013).

Masyarakat juga telah memanfaatkan tanaman ini sebagai bahan obat tradisional. Kayu susu mengandung metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, polifenol, dan terpenoid/steroid (Marliana dan Ismail, 2011), berpotensi sebagai antikolesterol (Zuraida et al., 2010), antibakteri (Khan et al., 2003), antioksidan (Marliana dan Ismail, 2011), dan antidiabetes (Stevina, 2009).

Beberapa peneliti di bidang medis sudah melakukan penelitian tentang kayu susu dan menemukan manfaat yang sangat banyak. Beberapa kajian ilmiah menyebutkan kulit kayu susu mengandung senyawa seperti alkaloida ditamin, ekitamin (ditamin), ekitanin, ekitamidin, alstonin, ekiserin, ekitin, porfirin,dan triterpen. Daunnya mengandung pikrinin dan bunganya mengandung asam ursolat dan lupeol.

Biasanya bagian kulit kayu digunakan untuk mengobati diare, disentri dan penyakit perut. Daunnya digunakan untuk mengobati beri-beri, gangguan liver dan bisul. Sedangkan getahnya digunakan untuk mengobati pegal linu, reumatik dan tumor (Daniel, 2006). Selain itu oleh masyarakat lokal Papua kayu susu sering digunakan sebagai obat malaria.

Berdasarkan buku “Tanaman Obat Tradisional Papua” (2016), menurut kearifan lokal masyarakat Papua, pada umumnya infus rendaman dari kulit batang atau kulit kayu yang sudah dikeringkan diminum untuk mengobati demam dan malaria, satu gelas setiap hari sampai sembuh. Ada yang memanfaatkan langsung dari kulit batang yang segar dikunyah dan cairannya ditelan, fungsinya juga untuk mengobati demam sakit malaria.

kayu susu

Penulis: Sarah R. Megumi

Top