Kucing Tandang, Si Kepala Datar yang Makin Terancam

Reading time: 3 menit
Kucing ini menandai teritorinya dengan air kencingnya. Foto: Shutterstock

Jenis kucing ini memang sangat menggemaskan. Namun tidak seperti kucing pada umumnya, kucing tandang tidak boleh dipelihara karena termasuk hewan langka. Populasinya disinyalir hanya 2.500 ekor di alam liar, sehingga didaulat dengan status terancam punah.

Kucing tandang atau flat-headed cat (kucing berkepala datar) tergabung dalam famili Felidae dan genus Prionailurus. Ini merupakan satu dari empat spesies kucing kecil bertutul yang ditemukan di benua Asia.

Seperti sebagian besar spesies Prionailurus, kucing ini dapat kita tandai dari bulunya yang bertutul. Mereka juga memiliki kemampuan renang yang baik, sehingga cukup mahir dalam menangkap ikan di sungai.

Kucing berkepala datar mempunyai nama ilmiah Prionailurus planiceps. Mereka berkerabat dengan spesies meong congkok (P. bengalensis), yang populasinya tersebar secara luas di hutan-hutan Indonesia.

Morfologi dan Ciri-Ciri Kucing Tandang

Dibandingkan kucing hutan lainnya, kelompok kucing tandang memiliki ukuran tubuh yang paling kecil. Mereka hanya berbiak sepanjang 41–50 cm, sedangkan bobotnya berkisar 1,5–2,5 kg saja.

Selain ukuran tubuh, salah satu keunikan jenis kucing ini terletak pada bentuk kepalanya. Mereka umumnya memiliki kepala datar, sementara moncongnya terlihat sangat pendek dan terlihat membulat.

Jika ingin dikomparasi, bentuk kepala flat-headed cat cenderung mirip dengan kucing bakau (P. viverrinus). Telinga mereka bundar, lalu jarak antara telinga ke matanya relatif berjauhan.

Tubuh kucing ini ramping dan memanjang. Sebagai satwa terestrial, mereka memiliki kaki dan ekor yang pendek. Rambut kepala dan lehar berwarna merah kecokelatan, sedangkan moncongnya berwarna putih.

Lingkar mata berwarna putih kekuningan dengan hidung merah jambu. Bagian tubuh atas sampai ke ekor berwarna merah bercampur abu-abu gelap. Ini memudahkan mereka dalam berkamuflase di serasah hutan.

Habitat dan Distribusi Kucing Tandang

Kucing tanda hidup hutan tropis primer dan sekunder, terutama di area lahan basah dan dataran rendah. Mereka biasanya bersarang di sekitar perairan dangkal seperti sungai, danau, rawa air tawar, dan mangrove.

Meski mempunyai kaki yang kecil, daya jelajah satwa ini terbilang cukup luas. Mereka dapat mengembara hingga sejauh 3 km, mencari mangsa di sekitar perairan seperti ikan dan hewan air berukuran kecil lainnya.

Kawasan Semenanjung Malaya, Sumatra, dan Kalimatan merupakan rumah bagi spesies ini. Individunya juga sempat ditemukan di wilayah Thailand, terutama di daerah paling selatan negara tersebut.

Di Semenanjung Malaya, flat-headed cat ditemukan di hutan perbukitan yang dikelilingi oleh perkebunan sawit. Sedangkan di Kalimantan, satwa ini terdeteksi di hutan pada Taman Nasional Sebangau, Palangka Raya.

Menurut IUCN Red List, status konservasi kucing tandang berada pada kategori “endangered.” Tren populasinya cenderung menurun, disinyalir akibat kerusakan habitat serta tingginya aktivitas perburuan satwa.

Perilaku dan Kebiasaan Kucing Tandang

Kucing tandang hidup secara soliter (menyendiri), mereka aktif setelah waktu maghrib hingga jam 10 malam. Hewan ini juga bersifat teritorial, serta menandai wilayah kekuasaannya dengan urin atau air kencing.

Dari pengamatan di kandang penangkaran, diketahui bahwa spesies kucing ini lebih menyukai mangsa hidup yang berenang di perairan dangkal daripada mangsa hidup yang berkeliaran di luar kolam.

Kelompoknya memang mempunyai sifat semi-akuatik, sehingga secara naruli lebih menyukai hewan yang ditangkap langsung dari perairan. Selain itu, mereka juga memiliki cara berburu dan makan yang unik.

Ikan yang berhasil ditangkap dari air akan dibawa ke atas permukaan. Setelah ikan itu kehabisan napas dan mati, tubuhnya akan dimasukkan kembali ke dalam air untuk dibersihkan sebelum dimakan.

Perlu diketahui, durasi hidup flat-headed cat dapat mencapai 14 tahun. Sang betina mampu mampu melahirkan tiga anak dalam sekali berbiak. Sementara, masa mengandungnya sendiri mencapai 56 hari.

Taksonomi Prionailurus Planiceps

Penulis : Yuhan al Khairi

Top