Kelabang Rumah, Bisanya Tidak Berbahaya bagi Manusia!

Reading time: 2 menit
Kelabang rumah ini tidak berbahaya. Namun racunnya mampu menyebabkan nyeri ringan dan pembengkakan sementara. Foto: Shutterstock

Lipan atau kelabang rumah merupakan salah satu spesies Chilopoda yang mulanya berasal dari Mediterania. Spesiesnya menyebar ke hampir seluruh wilayah di dunia, bahkan hidup berdekatan dengan tempat tinggal manusia.

Kelabang adalah binatang berbisa dan bertubuh pipih yang memilik segmen seperti cacing. Ia dikenal sebagai hewan tanpa tulang belakang, namun memiliki sendi dan berkaki banyak.

Kelompok ini terdiri dari beberapa macam spesies, salah satunya Scutigera coleoptrata atau kelabang rumah. Mereka tidak tergolong agresif, sehingga tidak berbahaya bagi manusia.

S. coleoptrata hanya menyerang ketika terpojok. Racun yang dihasilkan pun tidak berbahaya bagi manusia, sebab hanya menimbulkan rasa nyeri dan pembengkakan ringan sementara.

Morfologi dan Ciri-Ciri Kelabang Rumah

Kelabang rumah umumnya berbiak sepanjang 25-35 mm. Mereka memiliki 15 pasang kaki yang melekat pada tubuhnya, dengan tampilan halus namun terlihat cukup panjang.

Selain kaki, terdapat antena panjang pada bagian depan dan belakang tubuh S. coleoptrata. Sehingga jika kita ukur secara keseluruhan, panjang hewan tersebut berkisar 75-100 mm.

Antena merupakan bagian penting bagi spesies kelabang. Ini berfungsi untuk mendeteksi ancaman musuh, serta kehadiran sumber makanan di sekitar tempat tinggal mereka.

Kaki-kakinya yang halus juga mempermudah kelabang rumah untuk berakselerasi. Berkat model kaki semacam ini, mereka bahkan mampu berlari hingga 0,4 meter per detik, lho.

Spesies S. coleoptrata dapat kita tandai dari tubuhnya yang berwarna abu-abu kekuningan. Terdapat corak garis berwarna gelap yang menyebar di sepanjang tubuh dan kaki-kakinya.

Perilaku dan Pola Hidup Kelabang Rumah

Untuk bertahan hidup, kelabang biasanya memakan laba-laba, kutu busuk, rayap, gegat dan semut. Mereka juga mengonsumsi serangga rumah lain seperti lalat, capung, hingga lebah.

Berbeda dengan lipan pada umumnya, gaya serangan S. coleoptrata cenderung menyengat. Mereka mengalirkan racun melalui forcipules, serta kebanyakan berburu pada malam hari.

Berkat sensitivitas antenanya, kelabang rumah bisa membedakan antara musuh berbahaya dan tidak. Ia bahkan menyesuaikan model serangannya berdasarkan musuh yang dihadapi.

Saat melumpuhkan tawon, S. coleoptrata akan mundur setelah mengalirkan racunnya. Ini mereka lakukan untuk menghindari serangan balik, terutama ketika racun sedang bekerja.

Dalam keadaan terdesak, kelabang rumah mampu melepaskan kaki dari bagian tubuhnya. Kebiasaan ini terbilang sangat unik, sebab sangat jarang ahli temukan pada artropoda lain.

Habitat dan Distribusi Kelabang Rumah

S. coleoptrata menyukai area yang sedikit lembap dan sejuk. Spesiesnya tidak dapat hidup di daerah terlalu dingin maupun panas, sebab dapat mengganggu sistem pernapasan mereka.

Meskipun ahli sebut sebagai kelabang rumah, daerah teritori hewan ini sebenarnya berada di luar ruangan. Ia senang bersembunyi di bawah batu, tumpukan kayu, daun dan kompos.

Sebagai hewan nokturnal, area gelap merupakan tempat berkembang biak paling idel bagi spesies lipan. Karena itu, ia biasanya mendiami ruang bawah tanah ataupun garasi rumah.

Menurut studi, penyebaran kelabang rumah sudah mencakup wilayah Eropa, Asia, Amerika Utara, Amerika Selatan, Australia dan Afrika, namun belum ahli laporkan terlihat di Rusia.

Kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara juga tergolong habitat S. coleoptrata. Meski begitu populasinya ilmuwan ketahui cukup sedikit, sehingga sukar kita temukan di sekitar rumah.

Taksonomi Spesies Scutigera Coleoptrata

Penulis : Yuhan al Khairi

Top
You cannot copy content of this page