Rangkong Gading, Materi Culanya Setara Gading Gajah

Reading time: 3 menit
rangkong gading
Rangkong gading (Rhinoplax vigil). Foto: youtube.com

Salah satu kekayaan burung yang ada di Indonesia adalah burung-burung dari famili Bucerotidae, yang dikenal dengan sebutan Rangkong, Julang dan Kangkareng. Terdapat 45 jenis burung rangkong yang tersebar luas di seluruh dunia. Di Indonesia terdapat 13 jenis yang terdiri dari 7 genus, yaitu Annorhinus, Penelopides, Berenicornis, Rhyticeros, Anthracoceros, Buceros, dan Rhinoplax yang tersebar luas di hutan-hutan Sumatera (9 jenis), Jawa (3 jenis), Kalimantan (8 jenis), Sulawesi (2 jenis) dan Irian Jaya (1 jenis) (Sukmantoro dkk, 2007).

Rangkong gading (Rhinoplax vigil) merupakan satu-satunya jenis rangkong yang memiliki balung/cula (casque) penuh berisi, bahkan 13 persen berat tubuhnya terdapat pada balung tersebut dimana struktur materinya setara dengan gading gajah (dilansir pada laman rangkong.org). Oleh sebab itu, penamaan rangkong jenis Rhinoplax vigil terinspirasi dari balungnya yang memiliki kemiripan dengan gading gajah.

Umumnya burung rangkong memiliki ukuran tubuh yang besar. Menurut informasi yang di dapat, panjang total badan burung rangkong bervariasi antara 65-170 cm dengan berat tubuh 290-4200 gram (Kemp 1995). Umumnya, semua jenis burung ini mempunyai paruh panjang dan ringan, bekerja seperti sepasang penjepit untuk menangkap atau mengambil makanan dengan cepat menggunakan ujungnya, kemudian memasukkannya ke dalam tenggorokan.

Burung rangkong lebih memilih makanan yang ada di atas pohon (arboreal) di hutan, jarang dijumpai burung rangkong memakan buah-buahan di atas tanah. Rangkong gading di Indonesia sebagian besar pakannya berupa buah ficus atau ara, namun terkadang ia juga memakan binatang kecil. Kegemarannya menebar biji membuat spesies ini dijuluki sebagai ‘petani hutan yang tangguh’.

rangkong gading

Rangkong gading (Rhinoplax vigil). Foto: wikemedia commons

Seluruh tubuh satwa ini tertutup bulu berwarna hitam, abu-abu, dan putih, dengan sedikit variasi warna pada bagian kulit leher, kepala, dan lingkar mata. Tiap jenis burung rangkong berbeda-beda dan perbedaannya ada pada warna bulu, warna balung, bentuk dan ukuran balung.

Jenis kelamin burung rangkong dewasa dapat diketahui berdasarkan perbedaan warna balung, warna sayap, paruh, mata dan ukuran tubuh. Burung rangkong jantan memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan betina.

Keistimewaan burung ini juga diidentifikasi dari suara dan kepakan sayapnya yang cukup keras. Suara rangkong gading menyerupai orang tertawa dan dapat terdengar hingga jarak 3 kilometer. Kemampuan tersebut dikarenakan balung pada rangkong gading memiliki struktur berongga yang disinyalir sebagai ruang resonansi suara (Haimoff, 1987).

Burung rangkong gading berada dalam ambang kepunahan karena tingginya pembukaan lahan (deforestasi) dan perburuan yang sangat tinggi dalam beberapa dekade terakhir. Seperti dilansir tribunnews.com, data yang dihimpun KLHK bersama Rangkong Indonesia dan Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP), sepanjang 2011 hingga 2017, penegak hukum telah berhasil menyita 1.347 paruh rangkong gading.

Spesies ini juga masuk ke dalam daftar Appendiks I Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Tumbuhan dan Satwa Liar Terancam (CITES) dan dikategorikan sebagai spesies dengan status ‘Kritis’ oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Dalam berbagai pemberitaan di media massa disebutkan bahwa rangkong gading merupakan salah satu satwa liar yang paling dicari pemburu untuk dijadikan obat atau awetan karena harga jualnya yang tinggi. Selain itu, sejak abad ke-17 tepatnya zaman Dinasti Ming, bangsawan Tiongkok sudah menginginkan cula rangkong gading untuk dijadikan hiasan. Di Cina, harga balung rangkong tersebut mencapai lima kali lipat lebih mahal daripada gading gajah, karena pada bagian cula tersebut lebih lembut dan lebih mudah dipahat dari gading gajah, sehingga bisa digunakan untuk mengembangkan ornamen yang lebih rumit dan kemudian dijual sebagai simbol status.

Untuk menyelamatkan populasi rangkong gading, pemangku kebijakan yang terdiri dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kejaksaan Agung, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) berkumpul untuk menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) rangkong gading di Jakarta, pada tanggal 23 November 2017 lalu.

SRAK rangkong gading akan mencakup empat strategi utama. Pertama, perlindungan populasi dan habitat rongkong gading; kedua, pengawasan dan penegakan hukum dalam kerangka hukum terpadu; ketiga, kerjasama dengan negara yang menjadi habitat dan tujuan perdagangan rangkong gading, seperti Malaysia, Vietnam dan Cina; dan keempat, pendidikan penyadartahuan masyarakat. Hasil dari perumusan SRAK ini akan diteruskan ke dalam bentuk surat keputusan Menteri LHK.

rangkong gading

Penulis: Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page