Anggrek Tebu, Spesies Terbesar yang Semakin Langka

Reading time: 2 menit
Anggrek ini tidak ada layu selama 2 bulan meski sudah dipotong. Foto: Shutterstock

Anggrek adalah sejenis tanaman hias yang populer di Masyarakat. Tidak cuma menghasilkan bunga-bunga yang indah, beberapa jenis anggrek juga memiliki ukuran yang cukup besar. Inilah anggrek tebu, spesies Orchidaceae yang dapat tumbuh hingga setinggi 3 meter.

Anggrek tebu memiliki nama latin Grammatophyllum speciosum. Spesies ini tergabung dalam genus Grammatophyllum, sehingga berkerabat dengan anggrek asli Kalimantan Utara yakni G. kinabaluense.

Genus Grammatophyllum sendiri merupakan kelompok tanaman epifit yang hidup di area hutan hujan. Mereka tersebar ke berbagai daerah, mulai dari Indo-China sampai ke pulau-pulau Pasifik Barat Daya.

Spesies G. speciosum misalnya, jenis anggrek terbesar di dunia itu dapat kita temukan di negara-negara Asia Tenggara. Meskipun menyebar luas, sayangnya populasi mereka kini sudah semakin terancam.

Morfologi dan Ciri-Ciri Anggrek Tebu

Seperti namanya, anggrek tebu memiliki batang yang panjang dan menjuntai sehingga mirip seperti batang tebu. Spesies ini bisa tumbuh hingga setinggi 3 meter, dengan diameter malai antara 1,5–2 meter.

Jika diperhatikan, bunga-bunga anggrek tersebut pun tumbuh dengan penampilan yang gigantik. Ukurannya diperkirakan berkisar 10 cm, sedangkan bobot keseluruhan tanaman ini bisa mencapai 1 ton.

Berkat deskripsi morfologinya tersebut, tidak heran jika spesies G. speciosum dianggap sebagai anggrek terbesar di dunia. Ia bahkan dijuluki sebagai anggrek macan karena keunikan corak bunganya.

Anggrek ini menghasilkan bunga berwarna kuning dengan totol-totol kemerahan. Beberapa individu mungkin memiliki bintik hitam atau corak kecokelatan, sehingga sangat mirip dengan motif kulit macan.

Uniknya, bunga anggrek ini tidak akan layu selama 2 bulan meski sudah dipotong. Namun proses pertumbuhan bunga sendiri terbilang lama, sebab dapat memakan waktu hingga 2 tahun lebih.

Habitat dan Distribusi Anggrek Tebu

Sebagai tanaman epifit, anggrek tebu berkembang biak dengan cara menumpang pada tumbuhan lain. Flora ini tidak bersifat parasit, artinya mereka tidak mengambil makanan yang berasal dari inangnya.

Anggrek macan terdistribusi mulai dari Myanmar, Thailand, Vietnam, Laos, Malaysia, Indonesia dan New Guinea. Di tanah air, populasinya ditemukan di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Melihat peta persebarannya, dapat dipastikan bahwa spesies G. speciosum tumbuh di daerah beriklim tropis. Mereka umumnya berbiak pada wilayah dataran rendah yang dinaungi sinar matahari langsung.

Muncul dari selah-selah atau bagian pangkal pohon besar, anggrek ini sejatinya dapat hidup secara mandiri. Namun mereka juga bisa menjadi penghalau sinar matahari bagi inangnya, jika ukurannya sudah besar.

Di sebagian wilayah, masyarakat menyebut anggrek ini sebagai anggrek raksasa atau anggrek harimau. Ada pula yang menyebutnya sebagai anggrek ratu, mengingat “kemegahan” bunga-bunga yang dihasilkan.

Budi Daya dan Populasi Anggrek Tebu

Seperti yang telah disebutkan, populasi anggrek tebu kini sudah makin terancam. Mereka dianggap sebagai salah satu flora langka, sehingga eksistensinya dilindungi oleh peraturan perundang-undangan.

Di Indonesia, larangan perdagangan spesies G. speciosum sudah diatur melalui Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia No 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Oleh karena itu, komersialiasi tumbuhan ini sudah sepenuhnya dilarang. Meski dalam praktiknya sendiri, masih saja ada orang yang memperjualbelikan tanaman tersebut secara ilegal.

Untuk menekan laju kepunahan anggrek macan, banyak lembaga yang telah melakukan upaya pelestarian secara konvensional. Ini meliputi proses memperbanyak melalui metode vegetatif maupun generatif.

Upaya konservasi ex-situ melalui kebun botani juga telah dilakukan. Salah satunya dapat kita temukan di Kebun Raya Bogor, yang mana spesies anggrek tersebut telah tertanam di sana sejak zaman Belanda.

Taksonomi Grammatophyllum Speciosum

Penulis : Yuhan al Khairi

Top

You cannot copy content of this page