Sambiloto, Herba yang Pahit Rasanya tapi Manis Manfaatnya

Reading time: 3 menit
herba sambiloto
Foto : flickr.com

Budaya Indonesia sejak lama sangat erat dengan obat tradisional. Herba sambiloto adalah salah satu dari ribuan herba yang ada di Indonesia, ia merupakan salah satu bahan obat tradisional yang paling banyak dipakai di Indonesia dan telah terkenal sejak abad 18.

Popularitas herba ini di dunia pengobatan tradisional tergolong tinggi karena terbukti ampuh menaklukkan begitu banyak penyakit. Khasiatnya yang segudang ini tak terlepas dari kandungan bahan aktifnya yang lengkap.

Di India, herba sambiloto digunakan untuk mengobati penyakit disentri, diare atau malaria. Dalam Traditional Chinese Medicine (TCM) ia dikenal sebagai tanaman cold property yang dapat menurunkan panas dan membersihkan racun-racun dalam tubuh.

Sambiloto sendiri bukanlah tumbuhan asli Indonesia. Tanaman ini diduga berasal dari India kemudian menyebar ke daerah tropis Asia hingga sampai di Indonesia.

Menurut data spesimen dari Herbarium Bogoriense yang berlokasi di Bogor, sambiloto sudah ada di Indonesia sejak tahun 1983. Kini tanaman ini banyak dijumpai hampir diseluruh kepulauan Nusantara. Karena rasanya yang sangat pahit, sambiloto sering dijuluki sebagai King of Bitter alias si Raja Pahit.

Tanaman ini dikenal dengan beberapa nama daerah seperti ki oray atau ki peurat (Jawa Barat), bidara (Jawa Tengah dan Jawa Timur), dan pepaitan (Sumatera). Sementara dalam bahasa asing dikenal dengan sebutan bermacam-macam, seperti quasabhuva (Arab), the creat (Inggris), kirayat (India) dan nelarebu (Kanada).

Sambiloto dapat hidup secara alami di daerah dataran rendah hingga ketinggian 1600 m dpl. Tumbuhan ini dapat tumbuh pada semua jenis tanah yang mengandung banyak humus dan tata udara serta pengairan yang baik. Adapun habitat tumbuhnya antara lain seperti ladang, pinggir jalan, tebing, saluran atau sungai, semak belukar, di bawah tegakan pohon jati atau bambu.

Bunganya berwarna putih keunguan, berbentuk jorong (bulat panjang), dengan pangkal dan ujung bunga yang lancip. Foto : Wikimedia Commons

Secara morfologi sambilto tergolong tumbuhan tegak dan memiliki batang berkayu berbentuk bulat dan segi empat serta memiliki banyak cabang (monopodial). Tinggi tumbuhan sambiloto 30 sampai 110 cm.

Daunnya berwarna hijau dan merupakan daun tunggal yang saling berhadapan, berbentuk pedang (lanset) dengan tepi rata (integer) dan permukaannya halus. Bunganya berwarna putih keunguan, berbentuk jorong (bulat panjang), dengan pangkal dan ujung bunga yang lancip. Buahnya juga berbentuk jorong dengan ujung yang tajam dan panjang buah lebih kurang 2 cm.

Di India, bunga dan buah sambiloto bisa dijumpai pada bulan Oktober atau antara Maret sampai Juli. Di Australia bunga dan buah bisa dijumpai antara bulan November sampai bulan Juni tahun berikutnya. Sedangkan di Indonesia bunga dan buah sambiloto bisa dijumpai sepanjang tahun.

Sambiloto dilaporkan memiliki efek farmakologis yang luas. Secara kimia sambiloto mengandung diterpen, flavonoid, stigmasterol, alkane, keton, aldehid dan mineral (kalsium, natrium, kalium) (Rosidah et al., 2012).

Efek farmakologis sambiloto seperti antiinflamasi, antidislipidemia, antidiabetes, kardioprotektif, mengobati infeksi saluran napas atas, infeksi saluran cerna, antidiare, antispasmodik, antipiretik, antikanker, antihepatitis, hepatorotektif, herpes, anti Human Immunodeficiency Virus (HIV), antibakteri, antiparasit, antimalaria, antioksidan, imunostimulasi, dan memperbaiki disfungsi seksual. Sambiloto juga direkomendasikan mengobati penyakit lepra, gonorea, skabies, erupsi kulit, dan demam kronis musiman

Penggunaan sambiloto dapat sebagai obat luar atau diminum, dan dapat dicampur dengan tumbuhan lain. Menurut Rahayu dalam Jurnal Warta Tumbuhan Obat Indonesia, sebagai obat luar pemakaian herba sambiloto bisa dengan memanfaatkan daunnya. Daunnya dapat dikunyah atau ditumbuk halus, kemudian ditempelkan pada borok, eksema atau gigitan binatang berbisa.

Dalam bentuk minuman, sambiloto dapat berguna sebagai pengganti teh dengan cara direbus, manfaatnya sebagai obat malaria, disentri, mencret, dan kencing manis. Namun alangkah baiknya berkonsultasi kepada ahlinya sebelum mengonsumi tanaman obat ini.

herba sambiloto

 

Penulis : Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page